logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 7 April 2004 Liputan Pemilu 2004  
Line

Kecanggihan TI Tabulasi Pemilu

Ibarat Mobil Balap Tanpa Joki

SAMPAI sehari menjelang hari H pemungutan suara Pemilu 5 April lalu, banyak orang yang tidak tahu bahwa Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah menyiapkan satu pusat data bernama Tabulasi Nasional Pemilu 2004 yang berfungsi menyebarkan informasi tentang rekapitulasi perolehan suara partai politik dari hari ke hari. Tiba-tiba saja, bersamaan dengan pencoblosan, KPU me-launching pembukaan lembaga itu. Seperangkat teknologi informasi (TI) canggih seharga Rp 200 miliar terdiri atas puluhan PC (komputer) di-set up di Baleria Flores Room Hotel Borobudur.

Melongok pelayanan para staf, mulai dari dara-dara cantik yang bertugas di bagian registrasi di pintu masuk, kesigapan petugas bagian informasi, dan staf lain yang berseragam jaket, hingga staf hotel yang dengan ramah menyajikan air teh, kopi, dan makanan kecil, orang tak ragu lagi mereka adalah orang-orang profesional di bidangnya.

Dalam penyelenggaraan Tabulasi Nasional Pemilu (TNP) 2004 ini, dana yang dianggarkan KPU untuk TI memang tidak sedikit. Tidak kurang dari Rp 152 miliar dikeluarkan untuk pengadaan perangkat keras seperti pengembangan infrastruktur data center dan disaster recovery center yang dapat digunakan dalam jangka panjang. Kemudian infrastruktur jaringan VPN dial Telkom dan modem satelit PSN, pengadaan 8.005 komputer dan printer, 4 server Itanium 2 lengkap dengan sumber daya manusianya. Angka itu belum termasuk sewa ruangan di Hotel Borobudur.

Jadi ketika masuk ke ruang TNP 2004, orang mungkin akan terkagum-kagum dengan puluhan PC kelas Pentium 4 yang tersebar di sekitar Flores Room. Di Media Working Group misalnya tersedia 15 PC yang menampilkan data hasil penghitungan suara pemilu sampai ke TPS, 25 PC untuk mengetik, dan 10 PC dengan akses internet untuk menunjang tugas peliputan para wartawan.

Bagi wartawan yang antre menunggu giliran menggunakan internet, sambil minum teh mereka bisa menyaksikan sejumlah TV plasma berukuran lebar baik yang menayangkan siaran TV swasta, ataupun yang terkoneksi dengan hasil perhitungan sementara perolehan suara.

Saat peluncuran TNP 2004 pada 5 April, sejumlah pejabat yang hadir, seperti Menko Perekonomian Dorodjatun Kuntjoro-Jakti, Menkominfo Syamsul Mu'arif, dan mantan Menteri Kependudukan dan Lingkungan Hidup Emil Salim tampak terkesan dengan pemanfaatan TI canggih itu. Ketua Divisi TI KPU Chusnul Mar'iyah dengan amat bangga mengatakan, ''Ini untuk kali pertama pemilu di Indonesia berlangsung dengan memanfaatkan TI baik dalam proses pendaftaran pemilih, pendaftaran caleg, maupun proses penghitungan suara.''

Dengan memanfaatkan teknologi canggih tersebut, kurang dari lima jam setelah pencoblosan, Data Center KPU menerima pengiriman data hasil perolehan suara di 15 TPS. Itu berarti 6,5 jam lebih cepat dari perkiraan semula.

Tujuan penggunaan TI adalah untuk menunjang prinsip-prinsip transparansi, kepercayaan, keberlanjutan, ketepatan, keamanan, efisien, dan cost effectiveness. Transparan karena mekanismenya sangat jelas dan hasil-hasilnya bisa diketahui dengan cepat oleh masyarakat. Bisa dipercaya, karena mampu meminimalkan, bahkan menghilangkan campur tangan pihak-pihak yang tidak berwenang. Tepat, karena sistem verifikasi dan validasinya sangat ketat dan harus disetujui semua pihak terkait. Aman dan efisien, karena pengiriman data dan penyebaran informasinya tidak dilakukan secara fisik (manual) tetapu memanfaatkan TI.

''Desain TI ini sepenuhnya dikembangkan, dioperasikan, dan dikontrol oleh anak-anak muda Indonesia. Data kependudukan yang dijaring, disimpan, dan diolah menggunakan sistem TI itu jauh lebih akurat dan lengkap dibandingkan dengan data yang dimiliki Biro Pusat Statistik saat ini,'' ungkap Ketua KPU Nazaruddin Syamsuddin.

Bahkan, Dorodjatun menyebut, dengan angka lebih dari Rp 2 triliun yang terdapat pada proposal awal yang diajukan sejumlah vendor, KPU dapat memangkasnya menjadi hanya Rp 152 miliar.

Selain Telkom, pihak lain yang berperan dalam ''pemilu elektronis'' ini adalah PT Integrasi dan PT Pasifik Satelit Nusantara. Mereka antara lain bertanggung jawab untuk menembus rintangan dan kendala dalam penyebaran 4.615 PD dan printer ke 32 provinsi, 416 kabupaten/kota, dan 4.167 kecamatan. Merekalah yang bertanggung jawab menyebarkan informasi perolehan hasil pemilu secara real time ke seluruh dunia.

Akan tetapi harapan setinggi gunung terhadap kecepatan akses hasil Pemilu 2004 itu pupus, begitu penghitungan suara pemilu memasuki hari kedua. Saat start, hasil suara yang terpampang di situs internet KPU memang langsung menembak hasil penghitungan suara di 15 TPS.

Para pemburu warta, termasuk puluhan wartawan asing yang ikut memberitakan perolehan suara, makin dibuat gerah ketika memasuki hari kedua. Tak cuma angka yang berjalan lambat, bahkan TI yang katanya canggih itu ngadat. Angka perolehan suara 24 partai yang merangkak pelan tiba-tiba saja drop. Kembali ke angka nol. Hal itu terjadi sekitar setengah jam dari pukul 19.15 hingga 19.45, Selasa.

Sebelumnya tim ahli TI KPU menjelaskan, kelambanan pemunculan angka hasil perolehan suara karena masih banyaknya petugas entry data di tingkat kecamatan yang masih belum mengetahui tata cara pemasukan data hasil pemilu.

Kecanggihan teknologi informasi yang tidak diimbangi dengan kemampuan SDM ini ibarat memiliki mobil balap tapi tidak memiliki joki. Inilah pelajaran berharga berikutnya yang harus dipetik dalam pelaksanaan Pemilu 2004 kali ini. Tanpa bermaksud memuji salah satu partai politik, ada baiknya kita belajar dari kader-kader muda Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Hanya bermodalkan militansi dan sebuah ponsel, anak-anak muda itu disebarkan sebagai saksi atau pemantau ke setiap TPS. (Fauzan Jayadi-33j)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA