
| Rabu, 7 April 2004 | Olahraga |
Ranieri: Saya Gila Selama 30 DetikLONDON - Manajer Chelsea asal Italia, Claudio Ranieri mengakui dirinya benar-benar "gila selama 30 detik", setelah melihat gol Wayne Bridge membawa timnya ke semifinal Liga Champions untuk kali pertama. The Blues menang dramatis 2-1 atas tuan rumah Arsenal lewat gol pada menit ke-87 dalam duel kedua perempat final di Hihgbury London, Rabu dini hari WIB kemarin. "Saya pria pragmatis, sehingga untuk menggambarkan kegembiraan sangat sulit," ungkap Ranieri. "Saya menjadi gila, gila selama 30 detik. Saya hanya ingin pergi bersama pemain," lanjutnya. Ranieri, yang posisinya sebagai manajer di Stamford Bridge berada dalam ancaman sepanjang musim ini, menolak berkomentar pada laporan terbaru bahwa dirinya diminta untuk tetap di klub hingga musim depan. Pemilik Chelsea Roman Abramovich ikut bergabung dalam pesta kemenangan selepas Bridge memastikan kemenangan. Arsenal unggul dulu pada menit ke-45 lewat gol Jose Antonio Reyes yang kemudian disamakan Frank Lampard di menit ke-51. ''Karakter Rusia tampak betul pada pertandingan ini,'' tutur Abramovich memuji penampilan John Terry dan kawan-kawan. Apa kata Ranieri tentang bosnya itu. "Dia gila seperti diriku," kata Ranieri. "Setiap orang menjadi gila di kamar ganti. Ini sejarah bagi Chelsea." Mayat Hidup Ranieri bahkan berkelakar atas berita utama yang menyebutnya sebagai "mayat hidup" ketika Chelsea gagal dalam upaya membujuk pelatih Inggris Sven-Goran Eriksson untuk mengambil alih posisinya. "Sulit untuk membunuhku. Saya terus berjalan, tetapi saya masih tidak duduk," tegasnya. Ranieri mempunyai alasan untuk berpuas diri, Keputusannya meninggalkan talenta pemain depan berharga 30 juta pound Hernan Crespo dan Adrian Mutu di bangku cadangan, serta memulai pertandingan dengan Eidur Gudjohnsen di lini depan terbayar ketika striker Eslandia itu menjadi otak dari dua gol The Blues. Pertama, Frank Lampard memanfaatkan bola muntah dari tangan kiper Jens Lehmann untuk menyamakan kedudukan. Gol ini bermula dari tendangan keras Claude Makelele. Tiga menit menjelang bubaran, Bridge sukses memperdaya Lehmann setelah melakukan kerja sama satu-dua dengan Gudjohnsen. Strategi Ranieri menarik Scott Parker dan memasukkan Jesper Gronkjaer di awal babak kedua juga sangat tepat. "Saya pikir, saya harus menyentuh kayu sebelum berbicara. Namun saya kira kemenangan ini dapat mengubah sesuatu bagi kami. Kami harus yakin pada diri kami sendiri,'' jelas bekas pelatih Fiorentina itu. (rtr,A7-59) |