logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 7 April 2004 Berita Utama  
Line

Turkmenistan, Negeri Antah Berantah (1)

Setiap Tiga Hari Harus Lapor Polisi

Wartawan Suara Merdeka Darjo Soyat, 28 Maret - 2 April lalu, mengikuti rombongan PSSI Pra-Piala Dunia ke Turkmenistan. Dari Negeri Antah Berantah itu, banyak cerita unik dan menegangkan yang bisa ditulis. Berikut catatannya yang dibuat dalam tiga seri. (Red)

"TURKMENISTAN itu di mana? Negara apa?" Itulah pertanyaan seorang rekan ketika saya beri tahu bahwa saya akan ke sana bersama timnas sepakbola Pra-Piala Dunia (PPD). Sepulang dari sana pun, beberapa teman yang bertemu dan lewat telepon menanyakan hal serupa.

Pertanyaan itu wajar. Karena selama ini nama negara itu hampir tak pernah terdengar di negara kita. Pemberitaan tentang negara itu pun nyaris tak pernah ada. Popularitasnya kalah dari Ukraina, Belarusia di belahan benua Eropa, yang sama-sama bekas pecahan Uni Soviet. Ukraina lebih sering kita dengar lewat kehebatan striker AC Milan Andriy Shevchenko. Sedangkan Belarusia terkenal lewat petenis-petenis putrinya yang cantik.

Negara-negara pecahan Uni Soviet terbentuk berkat kebijakan dari Presiden Uni Soviet Michael Gorbachev yang pada 1990 mencuatkan Glasnot dan Perestroika. Salah satu isi dari kebijakan itu adalah negara-negara bagian boleh memisahkan diri dan menjadi negara sendiri. Maka di Asia Tengah lahirlah Turkmenistan, Uzbekistan, Kazakstan, Kirgistan, dan Azerbaijan. Sedangkan di Eropa Utara muncul Ukraina, Belarusia, Latvia, dan Estonia. Di Eropa Timur lahir Georgia dan Armenia. Masih ada satu lagi di Asia Utara bagian timur, yakni Cechnya, yang kini masih bergolak meminta kemerdekaan dari Rusia.

Letak geografis Turkmenistan berbatasan dengan Iran (di selatan), Afghanistan (tenggara), Uzbekistan dan Kazakstan (utara), serta Laut Kaspi (barat). Negara ini resmi berdiri 27 Oktober 1991.

Pada Piala Eropa 1992 di Swedia, negara gabungan itu tampil dengan bendera CIS (Persatuan Negara-negara Merdeka), karena ketika babak kualifikasi masih berbendera Uni Soviet. Sedangkan pada pelaksanaan event tersebut, Uni Soviet pecah dengan negara induk Rusia dan lainnya menjadi negara-negara kecil.

Tim sepakbola Indonesia kini berada satu grup dengan Arab Saudi, Srilanka, dan Turkmenistan pada Grup 8 Zona Asia Pra-Piala Dunia (PPD) 2006. Kali ini pertandingan dilakukan dengan sistem tandang dan kandang untuk mencari juara grup, yang nanti bergabung dengan tujuh juara lainnya maju ke babak kedua. Dari babak kedua itulah, nanti baru menghasilkan tiga negara peserta wakil Asia ke Jerman 2006.

Mengingat Agung Setyabudi dkk adalah underdog, maka sebagian besar surat kabar di Indonesia memilih untuk meng-cover beritanya lewat telepon internasional. Mereka tidak mengirim wartawan pada saat pertandingan pertama ke Arab Saudi yang kalah 0-3, Februari lalu. Cerita soal sepakbola dan kehidupan negeri Arab itu sudah sangat banyak, sehingga tidak terlalu menarik lagi bagi pembaca koran di Indonesia.

Lima Negara

Namun untuk tandang ke Turkmenistan ini, Asisten Manajer Tim Indonesia HB Bahreisy Gozali justru melihat ada sisi gelap negara itu yang perlu diberitakan. Bos biro perjalanan haji dan umroh PT Gazali Inti International (GII) itu ingin berbagi cerita dan pengalaman dengan masyarakat Indonesia, khususnya Jawa Tengah, tempat dia berdomisili.

Maka sepulang dari pertandingan di Arab Saudi, Gozali menanyakan kepada saya tentang paspor dan izin Kantor Suara Merdeka untuk bisa meliput pertandingan itu. Dia pun bersedia menanggung tiket Semarang - Jakarta - Bangkok - Ashgabat (pulang-pergi) agar saya bisa ikut. Maka keluarlah izin dari kantor, sehingga saya bisa bergabung dengan 30 pemain dan ofisial PPD ke negara baru itu.

Karena informasi negara itu baik kehidupan sosial-politik maupun olahraga termasuk sepakbolanya masih gelap, pelatih kiper Sudarno menyebutnya sebagai negara antah berantah. "Marilah kita pergi ke negara antah berantah," kata Sudarno sambil bergurau saat pesawat Turkmenistan Airlines yang akan mengangkut rombongan hendak bertolak dari Bandara Donmuang Bangkok, Minggu (28/3).

Setelah di pesawat baru sedikit terkuak informasi negara itu. Ada dua foto besar di kabin pesawat, yakni di depan kursi kelas ekonomi dan bisnis. Salah seorang pramugari ketika ditanya menyebut bahwa itu adalah foto Presiden Saparmyrat Nyyazov. Presiden ini memimpin negaranya sejak 27 Oktober 1991 hingga saat ini. Di bandara juga terpampang foto presiden di berbagai sudut.

Kesan sederhana dan negara miskin juga terlihat dari fasilitas di pesawat Boeing 737-300. Tempat duduk dalam pesawat hanya dua sisi, yakni kanan tiga kursi dan kiri juga tiga kursi. Padahal, pada umumnya pesawat internasional adalah tiga sisi seperti Thai Air (Thailanda) Bangkok-Jakarta yakni sisi kanan dan kiri masing-masing tiga kursi dan tengah empat kursi.

Di pesawat hanya tersedia fasilitas seat belt dan selembar panduan keselamatan jika terjadi gangguan di pesawat. Jauh dari fasilitas internasional seperti yang dimiliki Thai Air atau Garuda Indonesia yang dilengkapi dengan head phone sehingga penumpang bisa memilih saluran musik, majalah maskapai penerbangan, dan shopping air. Mungkin yang terpikir hanyalah yang penting pesawat bisa terbang dan sampai tujuan. Dengan fasilitas minim seperti itu, penerbangan yang memakan waktu 6,5 jam terasa sangat membosankan. Pilihan terbaik adalah tidur atau baca buku, bagi yang membawa buku. Sebagian pemain Indonesia mengusir kejenuhan dengan bermain kartu di celah kursi antara kelas bisnis dan ekonomi.

Dari bandara itu, makin diketahui bahwa negara itu memang masih tertutup. Hal itu terlihat dari jalur penerbangan internasional yang hanya menghubungkan ke enam negara. Tiga kota adalah negara di luar mereka, yakni Bangkok Thailand (untuk Asia bagian timur), Abu Dhabi (Asia bagian barat), dan Turki (Eropa). Sedangkan tiga kota lainnya adalah sesama bekas wilayah Uni Soviet yakni Moskow (Rusia), Kyiev (Ukraina), dan Almaty (Kazakstan).

Dilarang Memotret

Kemudian hubungan diplomatik pun baru dengan sedikit negara. Yang paling intens adalah Amerika Serikat, Turki, dan Jerman. Negara lainnya yang sudah memiliki duta besar adalah Kanada dan Spanyol. Jadi, wajar saja jika negara itu terasa sangat asing meskipun sama-sama di wilayah Asia.

Dengan penduduk hanya 600.000 jiwa, ibu kota Ashgabat terasa lengang. Demikian juga dengan bandara internasional Saparmyrat tampak sepi. Tak ada kios yang menjual suvenir atau barang duty free lainnya. Yang ada sekadar kafetaria yang menjual makanan dan minuman.

Kesan pertama yang muncul setelah tiba di Ashgabat adalah negara ini masih bernuansa komunis dan otoriter atas kepemimpinan Saparmyrat Nyyazov. Sebab, di berbagai bangunan tengah kota dan fasilitas umum selalu terpampang foto dan namanya Saparmyrat Turkmenbashi (Sapar pemimpin Turkmen).

Nuansa lainnya, visa on travel bagi orang yang ingin masuk negara itu. Visa pun baru diberikan jika sudah mendapat restu dari kementerian luar negeri mereka. Yang menjengkelkan adalah prosesnya yang berbelit-belit. Apalagi dengan pelayanan super kaku dan wajah dingin, menjadikan kami makin dongkol. Belum lagi koper harus dibuka dan isinya diaduk-aduk penuh curiga.

Saat peristiwa itu, saya bertanya kepada petugas imigrasi apakah boleh memotret nuansa di bandara dan imigrasi? Dengan tegas sang petugas berwajah dingin itu menjawab, "No!"

Semua aktivitas warga asing harus diketahui jelas. Jika seorang wartawan, baru boleh memotret di negeri itu dengan izin dari kepolisian setempat. Kemudian untuk setiap tiga hari masa tinggal, harus melapor ke kepolisian dan paspornya dicap kepolisian sebagai tanda sudah lapor. Padahal, penerbangan Turkmenistan Airlnes hanya dua kali seminggu, yakni Jumat dan Minggu. Otomatis, jika datang hari Minggu, paling cepat pulang adalah Jumat, sehinga total enam hari. Rombongan PSSI PPD pun harus melaporkan paspornya sekali, yakni pada Rabu, karena datang pada Minggu.

Tentang larangan memotret rupanya langsung instruksi presiden. "Apakah tim Anda membawa wartawan?" tanya Pengawas Pertandingan (PP) asal Iran Masoud, yang memimpin temu teknik. Ketika dijawab ada, Masoud langsung menyarankan untuk tidak usah menyebutkan wartawan, tetapi sebagai ofisial tim.

"Presiden forbiden journalist put picture," katanya.

Maka saat acara perkenalan sebelum temu teknik, saya memperkenalkan diri sebagai public relations PSSI.

Dan ternyata saat pertandingan, pemotretan tim hanya berlangsung 30 detik yakni setelah menyanyikan lagu kebangsaan. Hal itu diperbolehkan karena sudah merupakan aturan federasi sepakbola internasional (FIFA). Selama pertandingan, tak ada fotografer di tepi lapangan yang memotret. (Darjo Soyat-33t)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA