
| Rabu, 7 April 2004 | Berita Utama |
Mundur pun Dapat SuaraINI barangkali menjadi suatu hal yang aneh pada Pemilu 2004. Pada lembar surat suara calon anggota DPD Jateng, meski ada satu bagian foto yang kosong, masih juga mendapat suara. Ya, bidang kosong itu sebelumnya adalah foto KH A Mustofa Bisri (Gus Mus). Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibien, Leteh, Rembang tersebut mundur dari pencalonan sebelum surat suara dicetak. Namun, hasil cetakan surat suara tersebut tetap menyisakan satu bidang seukuran pas foto yang dikosongkan (berwarna putih bersih) dan nomor 22. Setelah kiai karismatik itu mundur, memang nomor tersebut tetap tercantum dalam surat suara. Sebab, calon lain sudah mendapatkan nomor masing-masing sehingga tidak mungkin ada perubahan. Mungkin orang akan mengira, tidak akan ada yang mengotak-atik bekas nomor Gus Mus tersebut, karena dia sudah mundur. Akan tetapi, pada kenyataannya tidak demikian. Nomor 22 tanpa foto itu tetap menarik perhatian bagi sebagian pemilih. Kenyataannya, tetap ada yang mencoblos, sehingga meski sudah mundur "Gus Mus" tetap dapat "suara". Entah apa yang melatarbelakangi pemilih melakukan hal tersebut. Apakah karena memang pemilih merupakan pendukung fanatik Gus Mus sehingga tak akan berpaling ke yang lain, hanya sekadar iseng, atau dikira bagian kosong itu disediakan bagi yang akan golput? Hanya si pencoblos yang mengetahui maksudnya. Orang boleh saja menebak macam-macam. Toh yang jelas, nomor 22 tetap dapat suara. Di Kota Semarang saja, hingga Rabu (7/4) pukul 15.01, untuk sementara "Gus Mus" mengantongi dukungan 152 suara. Bahkan, saat KPU Jateng baru menampilkan perolehan suara sementara pada layar lebar di aula lantai III Jalan Veteran seusai coblosan 5 April, "Gus Mus" mendapat suara lebih tinggi dari para calon anggota DPD. Adapun hasil perolehan suara sementara sampai Rabu (7/4) pukul 14.03 di KPU Jateng, nomor 22 mendapatkan 122 suara. Suara tersebut merupakan hasil laporan 8.384 dari 85.775 TPS di Jateng. Jumlah suara itu tentunya belum termasuk data terbaru yang masuk ke KPU Kota Semarang. Yang "Bersih" Lalu bagaimana Gus Mus menanggapi masih adanya pemilih yang mencoblos bekas nomornya tersebut? Apakah mereka itu para pendukung fanatik kiai karismatik tersebut? Menurut pandangan Gus Mus, ada sejumlah alternatif. "Alternatif pertama, pemilih ingin memilih yang bersih. Maksudnya tidak ada gambarnya (foto-Red)," seloroh Gus Mus ketika dihubungi Suara Merdeka, semalam.
Kemungkinan lain, ujar dia, pemilih tidak mengenal para calon sebab DPD merupakan barang baru. Sebab lain, pemilih mengenal calon tapi tidak tahu track record masing-masing serta apakah punya kemauan dan kemampuan untuk memperjuangkan Jateng.
Bisa juga, lanjut Gus Mus, pemilih mengenal calon sekaligus mengetahui janji-janji yang telah disampaikan. Namun, selama ini masyarakat sudah terbiasa dengan janji-janji politikus yang belum jelas realisasinya. Bagaimana dengan kemungkinan pemilih iseng? "Mungkin juga. Namun kalau hal itu terjadi, kemungkinan hanya pemilih yang ada di kota. Mereka menganggap pemilu dengan terlalu santai." Di luar semua itu, tutur dia, masih ada satu kemungkinan lagi. Yakni sosialisasi yang kurang pada masyarakat karena terbentur waktu yang mepet. (Setiawan Hendra Kelana-33j) |