logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 7 April 2004 Berita Utama  
Line

41 Tahun Bank BPD Jateng (2-Habis)

Terapkan Budaya Kerja dengan Program 5S

PERTUMBUHAN PT Bank BPD Jateng dari sisi operasional, tidak hanya terlihat dari total aset dan perolehan laba. Ternyata pertumbuhan penghimpunan dana masyarakat juga membanggakan. Lihat saja perolehan penghimpunan dana masyarakat dalam lima tahun terakhir tumbuh rata-rata 32,96% dari Rp 1,582 triliun (1999) menjadi Rp 4,691 triliun (2003).

Pertumbuhan ini terjadi akibat kepercayaan masyarakat yang meningkat. Kepercayaan ini tumbuh seiring dengan penerapan pendekatan pelayanan pada semua lini baik di lingkungan internal maupun eksternal. Dalam kaitan internal, Dirut BPD Jateng Waloeyo SE menjelaskan, telah dicanangkan perubahan budaya kerja ke arah yang lebih baik.

Sebagai komitmen manajemen dalam membentuk budaya kerja, lanjutnya, kini diterapkan program 5S, yakni senyum, salam, sopan santun, semangat, dan sepenuh hati. ''Program ini merupakan sikap kerja pegawai BPD Jateng yang harus tertanam dalam jiwa dan tercermin dalam tindakan sehari-hari,'' ujar Waloeyo.

Program ini sepenuhnya untuk membentuk pegawai yang memiliki sikap baik, bertanggung jawab, dan sopan dalam melayani nasabah ataupun rekan kerja. Dengan begitu, tercipta lingkungan kerja yang menyenangkan tanpa meninggalkan tanggung jawab. ''Dengan lingkungan kerja yang baik, diharapkan kualitas pelayanan juga kian meningkat,'' katanya.

Sejalan dengan program 5S itu, dia mengemukakan, telah terjadi berbagai pengembangan teknologi untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada nasabah. Untuk itu, Bank BPD Jateng terus meningkatkan kemampuan teknologi baik software maupun hardware. Upaya ini untuk meningkatkan efisiensi dan kecepatan pengolahan, penyediaan serta penyajian data secara cepat, tepat, dan akurat.

Pengembangan teknologi itu diarahkan untuk memberikan pelayanan lebih baik dan memudahkan nasabah dalam bertransaksi di Bank BPD Jateng. Di antara program itu adalah Bank Indonesia - Real Time Gross Settlement (BI-RTGS) yang memudahkan nasabah dalam mentransfer dalam waktu cepat.

Kemudian online pembayaran pajak untuk memudahkan masyarakat membayar pajak. Selain itu, ada kartu BPD yang merupakan hasil kerja sama dengan PT Rintis Sejahtera. Bagi pemegang kartu BPD dapat bertransaksi keuangan di seluruh jaringan ATM BCA dan ATM Bank BPD Jateng serta berbelanja di semua merchant yang ada fasilitas debit BCA di seluruh Indonesia.

Sementara itu upaya eksternal untuk meningkatkan pelayanan kepada nasabah, menurut penjelasan dia, juga dilakukan dengan pengembangan jaringan kantor. Caranya lewat pembukaan kantor, relokasi, dan peningkatan status kantor. ''Ketersediaan jaringan kantor yang luas dapat memudahkan nasabah untuk melakukan transaksi perbankan,'' katanya.

Dengan kantor nyaman dan fasilitas perbankan yang mudah, nasabah akan merasa dihargai sehingga akhirnya menjadi loyal. Selain itu, Bank BPD Jateng juga memiliki unit-unit pelayanan keliling untuk mengambil dana di tempat nasabah berada demi keamanan dana nasabah.

Sampai kini jaringan kantor di Bank BPD Jateng adalah 202 kantor yang terdiri atas satu kantor pusat, 120 kantor cabang dan cabang pembantu, serta 81 kantor kas. Selain itu, terdapat 82 kantor cabang dan kantor cabang pembantu yang telah menggunakan online system. Bahkan menurut rencana, pada tahun ini semua kantor cabang pembantu telah online sehingga memudahkan nasabah dalam melakukan transaksi perbankan di semua kantor Bank BPD Jateng.

Nilai Positif

Adapun untuk penyaluran kredit, ujar Direktur Pemasaran Moeljono Iman Santosa, mengalami pertumbuhan rata-rata 50,80% dalam lima tahun terakhir. Pada 1999, total penyaluran kredit hanya Rp 635 miliar menjadi Rp 3,265 triliun pada akhir 2003.

Penyaluran kredit ini, kata dia, dengan menggunakan prinsip kehati-hatian dan diarahkan ke sektor yang aman dan strategis. Hal ini dibuktikan dengan semakin rendah tingkat non-performing loan (kredit bermasalah) dari 10,09% (1999) menjadi 0,87% (2003).

Sementara itu, kinerja BPD Jateng dilihat dari rasio-rasio keuangan dan peraturan BI menunjukkan nilai positif dan terus membaik. Dalam kurun waktu yang sama, CAR naik dari 15,33% (1999) menjadi 19,04% dan loan to deposit ratio (LDR) dari 40,24% menjadi 69,59% (2003).

Kemajuan kinerja ini, dalam pandangan Waloeyo, telah mendorong BI memberikan penilaian tingkat kesehatan Sehat. Hal itu berdasarkan hasil pemeriksaan yang dilakukan BI periode 2000-2003 dengan hasil berikut:

Melihat peningkatan kinerja yang membanggakan ini, ternyata tidak lantas membuat manajemen terlena. Bahkan Waloeyo mengingatkan semua karyawan, untuk lebih profesional lagi. Apalagi persaingan perbankan kini sangat ketat, sehingga dibutuhkan kesigapan dan profesionalisme pelayanan agar BPD tetap memimpin di wilayah sendiri. (Budi Surono-64j)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA