
| Rabu, 7 April 2004 | Berita Utama |
PDI-P Mulai Melobi Gus Dur
JAKARTA- Pengamat politik Universitas Northwestern (AS) Prof Jeffrey A Winters menilai, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) masih harus bekerja keras untuk dapat menang dalam Pemilihan Umum (Pemilu) Presiden Juli 2004, mengingat perolehan suara partai tersebut yang merosot pada Pemilu Legislatif 5 April 2004. "Saya kira perolehan suara saat ini tidak akan banyak berubah hingga tahap akhir. Kalaupun ada, paling sekitar satu persen," katanya dalam diskusi politik di Hotel Borobudur Jakarta, Rabu kemarin. Sementara kubu PDI-P melobi Gus Dur untuk melakukan deal-deal politik sehubungan dengan hasil perhitungan suara sementara dalam pemilu 5 April. Lebih lanjut Winters mengemukakan, dalam Pemilu 5 April 2004 PDI-P hanya memperoleh suara kurang lebih 18 persen dari jumlah suara yang ada. Atau lebih rendah dibandingkan dengan perolehan suara pada Pemilu 1999. Dengan munculnya kekuatan baru seperti Partai Demokrat dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dalam Pemilu 5 April, maka perolehan suara yang diraih PDI-P saat ini akan menyulitkan partai itu dan Megawati Soekarnoputri untuk menang dalam Pemilu Presiden 5 Juli mendatang. "Mulai hari ini hingga 5 Juli mendatang, PDI-P dan Megawati Soekarnoputri harus mempertanggungjawabkan pada seluruh rakyat bangsa ini kok bisa memperoleh suara lebih rendah dibandingkan dengan Pemilu 1999," ujar Winters. Dia menambahkan, jika PDI-P dan Megawati benar-benar didukung oleh rakyat, seharusnya PDI-P dapat mempertahankan suara yang diperoleh pada Pemilu 1999 atau bahkan meningkatkannya menjadi lebih besar. "Bagaimana mungkin partai pemenang pemilu bahkan ketua umumnya seorang presiden, memperoleh suara lebih rendah dalam Pemilu 2004. Itu tidak ada sejarahnya setelah Perang Dunia Kedua."
Dia mengatakan, apa yang diperoleh PDI-P pada Pemilu 5 April 2004 menunjukkan rakyat telah kembali memberi tanda bahwa apa yang diharapkan rakyat seperti pemerintahan yang bersih KKN dan berwibawa, belum dapat diwujudkan oleh PDI-P dan Megawati Soekarnoputri. Saat menanggapi hal itu, fungsionaris PDI-P Kwik Kian Gie mengatakan, kegagalan sementara yang dialami partainya dalam Pemilu 5 April 2004 masih dapat diperbaiki. "Masih ada waktu untuk itu, sekarang semua tergantung pada PDI-P, sadar tidak akan kondisi yang telah diciptakan dan mau tidak untuk memperbaikinya," ujarnya. Mantan Kepala Balitbang itu mengemukakan, adalah hal yang wajar dalam proses demokrasi sebuah partai politik mengalami perolehan suara yang naik dan turun. "Yang penting saat ini adalah bagaimana membangun kekuatan positif untuk melawan politikus busuk di tubuh PDI-P," ujarnya. Menurut dia, turunnya perolehan suara PDI-P menunjukkan rakyat sekarang sudah pintar dan dewasa dalam berpolitik, tidak sebodoh yang diperkirakan. "Ternyata rakyat bisa membuat PDI-P menjadi terbesar dalam satu kali pemilu, tapi kini juga bisa menjadikan kecil lagi." Menurut Kwik, ternyata asumsi bahwa rakyat sekarang belum matang dalam berdemokrasi dan berpolitik itu adalah salah. Rakyat sekarang tidak sekadar memberikan suara, namun juga punya pertimbangan secara cerdas. Sebagai orang PDI-P, kata Kwik, dia cukup sedih. Namun sebagai rakyat dia juga senang atas perolehan yang dinamis dan variatif tersebut dan itu menunjukkan rakyat cukup demokratif dan tidak terlihat adanya tekanan dalam memberikan hak suaranya pada Pemilu 2004 ini. Dia mengakui, beberapa tahun sebelum Pemilu 2004 ini sudah memperkirakan suara untuk partainya akan menurun. "Kini mungkin kami sedang dihukum oleh rakyat. Tergantung pada bagaimana kita melakukan perbaikan untuk selanjutnya," katanya. PDI-P, katanya, harus membersihkan masalah KKN di partainya, termasuk orang-orang yang terbukti sebagai "politikus busuk". (ant,bn-33t). |