
| Kamis, 8 April 2004 | Semarang & Sekitarnya |
Paino, Dewa Gitar dari Kampung TandangMENYEBUT istilah dewa gitar, benak kita tentu akan sampai kepada nama-nama legendaris seperti Erick Clapton, Yngwie J Malmsteen, atau Joe Satriani. Namun jika kita menyebutnya di Kampung Tandang Semarang, warga sekitar bersepakat ''menganugerahkannya'' kepada Paino (39). Akan tetapi jangan salah sangka dulu. Jejuluk dewa gitar diberikan bukan karena dia piawai memainkan alat musik berdawai itu melainkan karena keahlianya membuat gitar. Pada usia 17 tahun Paino ingin belajar main gitar. Sebagai anak yang lahir dari keluarga sederhana, dia tidak mempunyai uang cukup untuk membeli alat musik itu. Kebetulan seorang teman mempunyai gitar bolong yang tidak terpakai, tapi dalam kondisi rusak, sebagian body-nya terbakar. Keinginan kuat untuk bisa berlatih memaksa Paino memperbaikinya. Dia pun berhasil. Sukses mereparasi gitar, lelaki bernama asli Suyono itu mencoba membuat gitar sendiri yang polanya dia tiru dari gitar bolong tersebut. Karya pertamanya ternyata mengecewakan, belum bisa berbunyi nyaring. "Waktu saya stel, neck(stang)-nya malah melengkung ke depan," kisahnya. Tidak putus asa, Paino kembali mencoba. Karya keduanya tidak jauh berbeda. Meski bentuk dan kekuatannya sudah bagus, suaranya tetaplah sumbang. Hingga kali ketiga, gitar buatan Paino bisa di digunakan. Suara petikannya cukup merdu. Bahkan baru dipakai sebulan gitar tersebut ditawar orang dengan harga Rp 9.000. "Walaupun tidak cucuk dengan modal dan tenaga saya. Tapi yang penting adalah kebanggaan, hasil karya saya dihargai orang," tutur Paino. Belajar ke Solo Suatu ketika saat bekerja di sebuah agen dekorasi dia bertemu dengan Marsudi yang lebih jago membuat gitar. Dari dialah Paino banyak belajar. Awal 1990-an, bujangan tersebut bekerja sebagai kuli bangunan di Jogja. Dia akhirnya sepakat berguru ke Solo, gudangnya ahli pembuat gitar. Di Kota Bengawan, Paino bekerja kepada Parno, pembuat gitar di daerah Baki. Setelah merasa cukup mahir, lelaki kelahiran Kedungjati Grobogan tersebut memutuskan pulang ke Semarang. Meski telah mempunyai ''ilmu'' membuat gitar, Paino masih merasa ragu akan kualitas gitar buatannya. Baru pada 1997, dia memutuskan untuk serius memanfaatkan keahliannya. Sebuah bengkel kerja sederhana dia buat di rumahnya, Kampung Tandang Ijen RT 5 RW XI Kelurahan Jomblang, Kecamatan Candisari Semarang. Alat-alat pertukangan yang digunakannya pun alakadarnya, tapi kualitas gitar buatan Paino telah diakui oleh para pemesannya. Selain rapi, Paino menggunakan bahan-bahan terbaik, seperti kayu jati, mahoni, sono keling dan meranti. Namun demikian, harga yang dia patok relatif murah. Gitar bolong mentahan (belum dicat) hanya dihargai Rp 125.000. Sedangkan yang sudah dicat Rp 225. Sementara gitar elektrik Rp 750.000. Selain gitar, Paino juga melayani pembuatan biola, bas betot, celo, hingga mandolin. (Rukardi-83) |