
| Kamis, 8 April 2004 | Semarang & Sekitarnya |
Dikeroyok Pemabuk, Bapak dan Anak LukaSEMARANG- Surbiyanto (52 ) dan Bimo (20), bapak dan anak warga Jl Akasia, Kelurahan Sampangan luka-luka akibat dikeroyok sejumlah pemuda tak dikenal yang dalam keadaan mabuk, Rabu (7/4) dini hari. Hingga kini pelaku berjumlah tiga orang itu belum tertangkap. Peristiwa itu diduga akibat salah paham. Kejadian bermula ketika Surbiyanto dan Bimo bersama seorang tetangga, Nizar (35) mendengar suara ribut-ribut tak jauh dari rumah mereka, sekitar pukul 01.30. Mengira ada pencuri tertangkap, ketiga orang yang sedang ronda itu menuju asal keributan. Ternyata, suara gaduh tersebut berasal dari depan sebuah rumah makan di Jl Lamongan Raya. Mereka mendapati ada dua kelompok pemuda yang sedang bertengkar. Ketiga orang itu mendekat untuk mengetahui apa yang terjadi. Rupanya, kedatangan mereka mendapat tanggapan lain dari salah satu kelompok pemuda itu. Mereka menyangka akan membela kelompok pemuda yang lain. Tiga pemuda dari salah satu kelompok mendekati Bimo, lalu memukulinya. ''Saya lari ke rumah. Mereka terus mengejar,'' tutur Bimo. Dia pun dikeroyok saat hendak masuk ke rumahnya. Selain memukul dengan tangan, pelaku juga menimpuk kepala dan badan Bimo dengan tong sampah hingga dia menderita luka di beberapa bagian badannya. Surbiyanto, sang ayah, juga dipukuli hingga wajahnya memar. Dia bersama Nizar menyelamatkan diri dan meminta tolong tetangga. Teriakan kedua orang itu membangunkan warga yang kemudian ganti mengejar pelaku. Namun, para tersangka kabur. Dihajar Massa Hampir bersamaan waktunya, seorang mahasiswa sebuah perguruan tinggi swasta di Semarang babak belur dihajar massa di Jl Wonodri Baru. Massa menghajar Hendrik (25), mahasiswa tersebut, karena melompati pagar dan kemudian mengetuk-ngetuk pintu rumah seorang warga sekitar pukul 02.00. Ketika ditanya, dia mengaku hendak mengambil telepon genggamnya yang dibawa teman wanitanya bernama Fany (21) yang kos di rumah itu. Saat itu Hendrik dalam keadaan mabuk. Warga yang curiga mengira pemuda itu pencuri, sehingga mereka menangkap dan memukulinya. Mereka kian curiga karena ketika ditanya, jawaban Hendrik tidak nyambung akibat masih terpengaruh minuman keras. Dini hari itu pula dia dilaporkan ke polisi. Kini dia ditahan di Polres Semarang Selatan. Hendrik mengaku malam itu baru saja mabuk-mabukan bersama Fany dan enam temannya yang lain di sebuah tempat di Jl Pamularsih. Dalam perjalanan pulang dia mampir dan kemudian ketiduran di Taman KB, sedangkan temannya pulang terlebih dahulu. Sekitar satu jam kemudian dia bangun dan tersadar ponselnya dibawa Fany. ''Saat itu juga saya ke kos Fany, mau mengambil handphone saya. Tetapi saya malah dikira maling,'' tutur Hendrik, yang mengaku beralamat di Jl Tulus Harapan, Klipang. (G3-73k) |