
| Kamis, 8 April 2004 | Semarang & Sekitarnya |
Normalisasi Kali Bringin Digarap LagiSEMARANG- Setelah terhenti beberapa bulan, Pemerintah Kota Semarang akan melanjutkan kembali proyek penanggulangan banjir di Kali Bringin. Untuk mengerjakan program tersebut, Pemkot kembali membentuk tim yang diketuai Asisten Bidang Tata Praja Sekretaris Kota Drs Soemarmo HS. Soemarmo mengatakan, tim tersebut telah menyusun agenda mulai dari awal untuk penyelesaian persoalan Kali Bringin. Hal itu dilakukan agar program tersebut berhasil seperti yang diharapkan dan warga dapat bekerja sama. ''Memang Pemkot akan mulai bekerja dari awal lagi, karena tidak ingin gagal di tengah jalan. Desain ulang segera diajukan kepada Wali Kota,'' jelasnya. Menurutnya, penyelesaian Kali Bringin sudah menjadi keharusan karena merupakan persoalan yang menyangkut kehidupan masyarakat banyak. Selama ini memang belum tercapai kesepakatan antara warga dan Pemkot tentang format penyelesaiannya. Karena itu, tim yang terbentuk tersebut nanti dapat merumuskan format penyelesaian yang diterima oleh warga. Berdasarkan data Suara Merdeka, sebelumnya Pemkot telah membentuk tim penyelesaian Kali Bringin yang diketuai Asisten Tata Praja Sekretaris Kota yang waktu itu masih dijabat Drs H Farchani. Tim tersebut sudah bekerja sampai upaya pembebasan lahan. Namun, upaya tim itu tidak berhasil karena warga menolak besarnya ganti rugi lahan yang akan dibebaskan. Warga setempat beralasan ganti rugi dari Pemkot terlalu rendah, karena untuk lahan tambak hanya Rp 3.000, sawah Rp 4.000, dan pekarangan Rp 5.000. Bukan hanya besarnya ganti rugi yang tidak disetujui warga. Terhadap konsep pelebaran sungai warga juga tidak sepakat. Konsep yang dibuat DPU Kota Semarang, pelebaran Kali Bringin 52 meter. Dengan demikian banyak lahan yang terpaksa harus dibebaskan. Koordinator Warga Bringin, Jamal, menjelaskan, untuk menormalisasi Kali Bringin tidak perlu dilebarkan seperti yang dikehendaki Pemkot. Namun, bisa juga dengan melakukan perbaikan lingkungan di daerah tangkapan air di hulu sungai. Di sana dilakukan pembukaan banyak lahan untuk perumahan dan industri. Karena itu, harus ada tempat penampungan air. ''Kami mengusulkan dibuat bendungan di Wonosari untuk menampung limpahan air dari atas saat hujan deras. Jadi, air tidak langsung ke daerah Kali Bringin tetapi masih terhambat di bendungan,'' papar Jamal. Perkembangan berikutnya, warga di sekitar Bringin menghendaki tidak ada pelebaran sungai, tetapi hanya dikeruk. Kalaupun terpaksa ada pelebaran sungai, cukup 20 meter. Itu pun hanya di sekitar muara sungai. Warga juga sudah melakukan penyusuran sungai mulai dari muara sampai ke hulu sungai. Dari penyusuran itu kemudian dibuat satu konsep normalisasi Kali Bringin. (G17,H1-73k) |