logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 7 April 2004 Karangan Khas  
Line

Paskah Tanpa Gebyar dan Pesta

Oleh: Francisca Etty

KONTRAS! Itulah satu-satunya kata yang layak terucap, bila peringatan Paskah dibandingkan dengan perayaan Natal. Paskah, sekalipun erat dengan peristiwa kemenangan Kristus atas maut, hampir tak pernah terdengar gaungnya. Paskah hadir tanpa pesta dan gebyar, tanpa pula persiapan khusus ataupun kado, dan seringkali nyaris terlupakan sebagai hari yang amat sangat istimewa.

Kebaktian Natal senantiasa luber dan terkesan spektakuler, sampai-sampai dikenal istilah "Kristen Natal" yang artinya jemaat yang sering absen dalam misa ataupun kebaktian, menyempatkan hadir saat Natal. Tidak demikian halnya dengan Paskah. Boleh dikata Paskah adalah peringatan kelas II. Mungkin karena Paskah adalah peringatan yang erat dengan peristiwa yang menyedihkan, yakni kisah tertragis dalam hidup Isa Almasih yang sarat penderitaan.

Yang pasti, tak ada orang yang senang kepada hal-hal yang tragis dan menyedihkan. Bukan saja pada zaman ini, pada saat Yesus disalibkan, orang-orang yang tadinya mengelu-elukan Dia, bahkan para muridnya pun menjadi tawar hati karena penyaliban itu.

Mereka mengharapkan Yesus sebagai sosok seorang hero yang meraih kemenangannya dengan cara yang dahsyat, bukan berakhir tergantung penuh darah dan luka di salib (Lukas 24: 21a). Mereka tidak menyadari hanya jalan via Dolorosa itulah yang menjadi media penebusan dosa sekaligus kemenangan atas dosa dan maut, kemenangan sejati.

Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: "Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!" (Galatia 3: 13).

Paskah pada awalnya dicatat sebagai peringatan terbebasnya bangsa Israel dari belenggu perbudakan di Mesir, saat bangsa Israel dibebaskan dari maut. Saat di setiap keluarga Israel menyembelih domba dan membubuhkan darahnya di ambang pintu rumah mereka, dan karena tanda darah itu mereka diluputkan dari ratapan yang memenuhi seluruh Mesir karena kematian anak-anak sulung mereka, tulah terakhir yang memaksa Firaun untuk melepaskan mereka pergi (Keluaran 12).

Adalah korban anak domba Allah, yaitu Yesus yang darah-Nya kita bubuhkan di ambang pintu hidup kita.

Itulah satu-satunya media pembebasan kita dari belenggu dosa. Dosa tidak dapat dibayar dengan uang, dosa tidak pula dapat ditebus dengan perbuatan baik semata. Dan segala kesalehan kami seperti kain kotor (Yesaya 64: 6a).

Dosa pada akhirnya merusak bukan saja tubuh dan jiwa, melainkan juga roh manusia. Roh merupakan esensi jati diri manusia yang membedakannya dengan hewan dan sekaligus menjadikan kita makhluk yang mampu mengenal Khaliknya, dan keselamatan roh tidak dapat terjangkau dengan usaha manusiawi kita.

Itulah sebabnya, Dia yang tanpa dosa rela mengorbankan nyawa-Nya, mencurahkan darah-Nya untuk menebus dosa kita dan mengangkat kita dari maut dan penghukuman atas roh kita, yaitu neraka. Itulah Paskah yang kita peringati kini, yang merupakan puncak misi dan karya Yesus di dunia yang termulia dan yang terakbar.

Kuasa Darah Yesus

Detik terakhir sebelum Yesus menyerahkan nyawa diucapkan-Nya: "It's finished" yang berarti sudah selesai. Lewat kematian-Nya, Dia telah menyelesaikan seluruh rencana Allah menebus dosa manusia, dan telah sempurna mengangkat kembali harkat manusia menjadi mulia, terbebas dan kudus, terlepas dari kutuk, sebagaimana manusia yang pertama sebelum jatuh dalam dosa.

Darah dari kepala yang bermahkota duri merupakan lambang penebusan dan pemulihan pikiran kita. Bila kita dengan iman menerima korban Kristus maka Dia berkuasa memulihkan cara berpikir kita yang duniawi dan cenderung berbuat dosa menjadi pikiran yang kudus dan benar. Sering karena pertimbangan sosial, tak banyak orang yang mau melakukan perbuatan hina seperti berselingkuh dan tidak setia kepada suami atau istrinya.

Akan tetapi ketika pikiran seseorang telah dihinggapi roh zina dan karena itu ia mengingini pasangan orang lain maka rasa tertindas yang sama bahkan lebih membelenggu, merenggut damai sejahtera, sekaligus menjadikannya sosok yang munafik, bahkan merealisasikan keinginannya yang najis itu.

Dosa lahiriah diawali dengan apa yang kita rancangkan dan pikirkan. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzina dengan dia dalam hatinya (Mat 5: 28).

Itulah sebabnya Yesus mencurahkan darah dari kepala-Nya agar pikiran kita tertebus dan terbebaskan, agar ada pikiran Kristus dalam hidup kita. Tetapi kami memiliki pikiran Kristus (1 Korintus 2: 16b) sehingga konsumsi dan isi pikiran kita adalah semua yang benar, yang mulia, yang adil, yang suci, semua yang manis dan sedap didengar, yang disebut kebajikan dan patut dipuji (Filipi 4: 8).

Darah dari Punggungnya

Penyakit adalah salah satu musuh manusia. Ada pemeo mengatakan, sekalipun uang dapat membeli apotek, tetapi tak mampu membeli kesehatan. Ada orang yang kaya raya tetapi tidak dapat menikmati apa yang dimilikinya karena begitu banyak pantangan berkenaan dengan penyakit yang dideritanya.

Penyakit adalah salah satu momok bagi kebahagiaan manusia. Namun, darah yang telah Ia curahkan membebaskan umat-Nya dari kutuk penyakit sebagaimana dikatakan, Dan oleh bilur-bilur-Nya kita menjadi sembuh (Yesaya 53: 5b).

Bagaimana dengan darah dari kedua tangan yang terpaku?

Tangan merupakan simbol dari apa yang kita kerjakan. Tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri (Efesus 4: 28). Setelah jatuh di dalam dosa maka tanah menjadi terkutuk dan manusia harus berjerih lelah untuk penghidupannya. Maka terkutuklah tanah karena engkau, dengan bersusah-payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu: semak dan rumput duri yang akan dihasilkan bagimu dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu, dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu sampai engkau kembali lagi menjadi tanah (Kejadian 3: 17b-19b).

Mengenai darah dari kedua kaki yang terpaku, kaki adalah lambang dari jalan hidup kita. Firman-Mu itu pelita bagiku dan terang bagi jalanku (Mazmur 119: 105). Jalan kehidupan kita harus mengalami penebusan karena jalan hidup kita inilah yang kelak mengantar kita kepada kehidupan kekal di surga atau kematian kekal di neraka. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya (Mazmur 23: 3b). Kaki kita yang kotor karena lumpur dosa mutlak harus mengalami pembersihan dan dikuduskan agar jalan hidup kita bersih dan mulia. Itulah aspek kehidupan yang dibayar lewat salib Kristus.

Bagaimana dengan darah dari lambung yang tertikam? Lambung diartikan sebagai isi dalam kehidupan manusia, yaitu hati. Dosa mengubah fungsi hati nurani yang sebenarnya diberikan kepada setiap manusia sebagai alarm Ilahi apabila kita salah melangkah, menjadi "penipu" yang menyesatkan. Betapa liciknya hati, lebih licik dari segala sesuatu (Yeremia 17: 9).

Untuk itulah darah Yesus perlu menguduskan hati kita agar hati nurani kembali dipulihkan sehingga dapat peka terhadap suara Allah dan sensitif terhadap tuntunan Ilahi.

Demikianlah, sempurna sudah Yesus membayar lunas kutuk dosa yang seharusnya layak kita pikul lewat pengorbanan-Nya di atas salib.

The Passion of The Christ, film produksi Mel Gibson, visualisasi dari sekelumit derita Kristus, mungkin dapat membantu kita untuk bersyukur dan tidak bermain-main dengan keselamatan yang kita peroleh karena iman kepada Yesus. Tak seorang pun mampu membendung air matanya melihat pengorbanan-Nya yang demikian memilukan dan tragis. Pengorbanan yang amat mahal, derita yang tak tertanggungkan telah Ia jalani untuk menebus dosa manusia dan merehabilitasi kembali harkat manusia. (29n)

- Francisca Etty SSastra, Direktur Studi Exclusive English Center, ex Public Relation Manager Graha Santika Hotel, jemaat GBT Kristus Alfa Omega.


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA