
| Rabu, 7 April 2004 | Internasional |
Kedubes Myanmar Dibakar oleh Suku RohingyaKUALA LUMPUR - Tiga pengungsi Myanmar bersenjatakan kapak, pisau, dan jerigen minyak tanah, menyerang misi diplomatik Myanmar di Malaysia, Rabu kemarin. Mereka memasuki kompleks Kedubes Myanmar di Kuala Lumpur, dan kemudian membakar gedung misi diplomatik tersebut, kata seorang pejabat keamanan Malaysia. Ketiga pengungsi itu - semuanya suku Rohingya yang beragama Islam - memanjat dinding gedung Kedubes Myanmar, Rabu pagi kemarin. Mereka melukai seorang staf kedutaan dengan kapak. Setelah itu, mereka menyiramkan minyak tanah dan melemparkan kain yang terbakar ke bangunan diplomatik tersebut. Api segera berkobar dan membakar kedubes itu. Kejadian itu merupakan serangan kedua dalam beberapa hari terakhir terhadap kedutaan asing di Kuala Lumpur. Komisi Tinggi (Kedubes) Australia diserang akhir pekan lalu oleh peledak berkekuatan kecil. ''Kami mengutuk serangan terencana dan pengecut terhadap kedutaan kami di Kuala Lumpur,'' bunyi sebuah pernyataan Pemerintah Myanmar dari Yangon. Dikatakan, penjagaan keamanan kini ditingkatkan di berbagai misi diplomatiknya di seluruh dunia. Pihak-pihak berwenang keamanan Malaysia mengatakan, polisi akan meningkatkan perlindungan terhadap berbagai kedubes asing, dengan menambah misi patroli harian. Langsung Ditangkap Dua diplomat Myanmar terluka dalam serangan Rabu kemarin. Salah seorang di antaranya, Myint Thein Win, membutuhkan pengobatan di rumah sakit karena lengannya terluka, kata Wakil Menteri Keamanan Dalam Negeri Malaysia Noh Omar kepada para wartawan, di tempat kejadian. Noh mengatakan, polisi telah menangkap empat orang, yakni ketiga penyerang tersebut dan seorang Rohingya lain yang berada di luar Kedubes Myanmar itu. Keempatnya dituduh melakukan upaya pembunuhan, pembakaran, dan memasuki gedung diplomatik secara ilegal. Keempat orang itu telah beberapa kali mendatangi Kedubes Myanmar untuk mengurus dokumen pembuktian kewarganegaraan. ''Namun kali ini, mereka berencana melakukan serangan. Tiga di antara mereka memanjat dinding pagar,'' kata Noh. Kedubes Myanmar itu berupa bangunan dua lantai yang terletak di kawasan Ampang, pinggiran Kuala Lumpur, yang banyak pepohonannya. Gedung tersebut gosong dan rusak parah setelah dibakar, namun masih berdiri tegar. Noh mengatakan, serangan oleh muslim Rohingya Myanmar itu merupakan kejadian terpisah, dan tidak berkaitan dengan peristiwa pelemparan bom kecil di Komisi Tinggi Australia, 30 Maret lalu. ''Ini masalah internal antara Kedubes Myanmar dan warga negaranya,'' katanya. Malaysia yang penduduknya mayoritas muslim, telah bersiaga tinggi terhadap kemungkinan serangan teroris, sejak aksi kamikaze 11 September 2001 di Amerika Serikat. Tak Diakui Myanmar Meskipun Malaysia tidak pernah menjadi sasaran serangan teroris, puluhan warga negara itu ditangkap di negaranya sendiri dan negara-negara lain Asia Tenggara, karena dicurigai terlibat gerakan militan. Muslim Rohingya adalah kelompok terbesar pencari suaka di Malaysia. Menurut perkiraan Komisi Tinggi Pengungsi PBB (UNHCR), jumlah anggota kelompok itu lebih dari 10.000. Menlu Malaysia Sayid Hamid Albar mengatakan akhir tahun lalu, para anggota Rohingya dipastikan berasal dari Myanmar dan seharusnya dipulangkan ke negara asal mereka. Namun Myanmar membantah asal-usul kaum Rohingya tersebut, dan menolak untuk mengizinkan mereka pulang ke negara itu. Sekitar seperempat juta pengungsi Rohingya pada 1992 melarikan diri dari Myanmar, yang didominasi penganut Budha. Sebagian besar lari ke Bangladesh. Mereka mengklaim disiksa di bawah pemerintah junta militer Myanmar. Sebagian besar pengungsi tersebut belakangan dipulangkan pada tahun yang sama, di bawah pengawasan UNHCR, meski sekitar 20.000 lainnya tetap berada di kamp-kamp pengungsi di Distrik Cox's Bazar, Bangladesh. Perdana Menteri Myanmar Khin Nyunt melakukan kunjungan tiga hari ke Bangladesh. Dalam lawatan itu, dia membahas antara lain isu pengungsi Myanmar tersebut.(rtr-ben-30) |