
| Rabu, 7 April 2004 | Ekonomi |
Toko Serbalima RibuBidik Masyarakat Berkantong TipisBEBERAPA sudut di Semarang dalam satu tahun terakhir ini merebak dengan kehadiran toko serbalima ribu (toserbalibu). Usaha dagang baru ini menjadi menarik dan semakin diminati masyarakat. Menarik, karena harga tiap jenis barang yang ditawarkan semua seragam, Rp 5.000. Tinggal pilih yang besar atau kecil. Selain itu, toko-toko itu menjual kebutuhan keseharian masyarakat terutama kalangan rakyat kecil dengan harga ''tipis'' pula. Paling tidak, masyarakat kelas bawah yang tidak mampu berbelanja di supermarket atau mal-mal, kini memiliki tempat belanja baru. Itulah agaknya kenapa toko-toko semacam itu selalu ramai dikunjungi rakyat. Barang yang dipajang juga lengkap mulai buku tulis, kaus kaki, peralatan makan anak-anak sekolah seperti rantang, barang pecah belah, mainan anak-anak, hingga aksesori rumah tangga. Dilihat dari kondisi barang, yang pasti bukan barang bekas, semua masih tersegel rapi. Hanya dibutuhkan keterampilan dan kepiawaian memilih mana barang yang lebih baik dan ada juga di antara barang yang dijual berkualitas bagus. Bila di toko biasa kita hanya mendapat selusin buku tulis, maka di toko serbalima ribu ini masih dapat dibeli tambahan pensil dan mistar. "Ini sangat membantu orang tua seperti kami yang uangnya terbatas," ujar Ny Asih, warga Jalan Cinde, saat membeli barang di Toko Serbalima Ribu Sanya Jalan MT Haryono, depan Java Supermall. Wanita paro baya ini mengaku memiliki tiga anak yang duduk di bangku SD dan harus memenuhi kebutuhan perlengkapan sekolah. Soal model juga tidak kalah dibandingkan dengan barang yang dijual di toko-toko lain, bahkan supermaket. Toko serbalima ribu kini juga menjadi ladang bisnis baru dan merupakan usaha yang memiliki prospek cerah untuk ukuran ibu kota Jateng ini. Bahkan, bisnis itu begitu cepat dikenal masyarakat. "Serbalima ribu cepat berkembang karena menjadi alternatif belanja hemat masa kini,'' ungkap Lilis Suryani, Store Manager Toko Sanya kepada Suara Merdeka, kemarin. Untuk menarik konsumen, pengelola toko yang baru berdiri sekitar enam bulan ini setiap hari mengganti jenis barang yang dipajang. Ada ribuan jenis item yang ditawarkan. Barang-barang itu selain didatangkan dari China, juga dipasok dari produsen dalam negeri, khususnya untuk makanan seperti sarden dan roti tawar. ''Akan tetapi soal kualitas tetap berani kami jamin, sebab pengawasan dan quality control terus dijaga bila pasokan barang masuk,'' jelas dia. Lalu mengapa harganya bisa begitu murah? Sebagai contoh, mainan anak Tamiya di toko biasa yang dijual Rp 12.000 lebih, di toko ini hanya Rp 5.000 sebuah. ''Kami kulakan dalam jumlah besar dan lakunya sangat cepat. Sebenarnya, untungnya sangat kecil tidak sampai Rp 500 setiap item, tapi karena jualannya banyak ya lumayanlah,'' tutur Lilis. Di tokonya, setiap hari dia bisa menjual 4.000-an barang per hari. Pemenuhan Selera Namun yang menjadi menarik, ternyata barang-barang di toko serbalima ribu ini bukan saja menggiurkan para pembeli kelas bawah, melainkan juga masyarakat kelas menengah yang berbelanja. Hanya, motivasi bagi pembeli mungkin berbeda. Bila kelas bawah demi memenuhi kebutuhan harian, maka konsumen kelas menengah lebih pada pemenuhan selera. Daya tarik untuk membeli barang serbalima ribu karena kiat yang diterapkan pedagang. Selain harganya yang terjangkau, juga penataan barang-barang begitu apik dengan sentuhan seni sehingga bila dipandang ada kesan begitu eksklusif. ''Inilah salah satu daya tarik kenapa masyarakat tidak melewatkan bila sudah memandang barang-barang di dalamnya,'' ujar Lilis yang akan menambah dua toko serupa di Semarang. Dalam perekonomian yang masih sulit ini, rakyat kecil sangat terbantu dengan keberadaan toko-toko serbamurah tersebut. Sebab, harga sejumlah barang di pasaran kini meningkat drastis. Dengan begitu, toko serbalima ribu (tak sampai di atas Rp 10.000) menjadi alternatif bagi rakyat kecil dalam berbelanja. Lilis mengakui, sejak bisnis itu dibuka, pihaknya sedikit kewalahan melayani pembeli. Sudah beberapa kali barang-barang itu dipasok dari Medan lewat kapal laut dalam tempo seminggu sudah habis dibeli konsumen. Karena itu pedagang optimistis, bisnis mereka akan sangat prospektif. Keberadaan bisnis itu kini ternyata terus berkembang, terbukti bila sebelumnya hanya dua toko di Plasa Simpanglima dan Jalan MT Haryono, kini paling tidak ada lima toko. Mereka pun tak begitu mengkhawatirkan persaingan, sebab tiap-tiap toko sudah memiliki pelanggan. (Arie Widiarto-82j) |