logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 7 April 2004 Ekonomi  
Line

Ekspor Kopi Jateng Kurang Menggembirakan

SEMARANG- Perkembangan ekspor kopi Jateng masih belum menggembirakan. Sepanjang Oktober 2002 - September 2003, ekspor kopi robusta 9.322 ton atau senilai 13 juta dolar AS. Jumlah itu menurun 2.000 ton dibandingkan dengan periode sebelumnya yang lebih dari 11.000 ton.

''Kondisi tersebut agaknya akan berlanjut tahun ini. Sebab, hingga kini belum ada indikator yang mendorong untuk mengangkat kembali ekspor kopi,'' kata Noegroho Bintang Satrio dari Dewan Pengurus Daerah Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) Jateng kepada wartawan, kemarin.

Penurunan itu, lanjut dia, diperkirakan akan terus ber lanjut pada periode tahun ini. Sebab dari prospek pasar, sampai sekarang masih belum ada indikator kenaikan harga. Terutama harga di pasar internasional yang cenderung menurun. ''Kami berharap harga segera tertolong. Jadi, ekspornya juga cepat terangkat,'' ujarnya.

Di pasar internasional, posisi harga saat ini berada pada kisaran 700.000 dolar AS per ton, padahal pada tahun-tahun sebelumnya bisa 1.000 dolar AS per ton.

Kondisi yang sama juga terjadi di pasar lokal. Saat ini harga kopi di pasar lokal berada di posisi Rp 5.000 per kg, sedangkan pada saat sebelum krisis lalu harga kopi Rp 17.000 per kg.

Tinggal Separo

Menurut pendapat Noegroho, kondisi sulit seperti itu membuat para petani enggan memelihara tanamannya. Dari tiga jutaan petani kopi di Jateng, diperkirakan tinggal separo yang masih rajin ke kebun. Sikap para petani seperti itu, ungkap dia, secara otomatis akan memengaruhi produksi kopi dari Jateng.

Bahkan dia memperkirakan, tahun ini produksi kopi akan turun 25% dari total produksi di Jateng. ''Produksi kopi robusta di Jateng saat ini 22.000 ton per tahun. Jumlah itu pasti terus berkurang,'' jelasnya.

Sementara itu, berdasarkan data perkebunan Jateng, produk perkebunan merupakan salah satu sumber penggerak perekonomian Jawa Tengah dan nasional. Bahkan, ekspor sektor tersebut selama ini telah menyumbang 37 juta dolar AS pada tahun lalu. Kontribusi sektor ini terhadap Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) Jateng yang bermata pencaharian di sektor ini pula adalah 43,39%. ''Karena itu, kami ingin mewujudkan perkebunan Jateng yang tangguh dan mandiri melalui pembangunan sistem sertausaha agrobisnis berbasis potensi daerah secara berkelanjutan,'' tutur Kepala Dinas Perkebunan Jateng Ir Siswanto.

Siswanto yang didampingi Kasubdin Program Ir Suroso dan jajaran Dinas Perkebunan Jateng lainnya mengungkapkan, luas areal perkebunan Jateng 714.127,66 hektare yang terdiri atas perkebunan rakyat 661.321,81 hektare, perkebunan besar swasta 16.295,87 hektare, dan perkebunan besar negara 34.049,21 hektare.

Dari 145 jenis komoditas perkebunan, terdapat 52 komoditas yang telah diusahakan secara ekonomi di Jateng. Dan, 14 komoditas di antaranya merupakan komoditas unggulan seperti kopi, cengkih, tembakau, jambu mete, kelapa deres, kelapa, tebu, teh, panili, empon-empon, lada, nilam, aren, dan kako.

''Kopi misalnya, kami akan mengarahkan petani untuk menjual produknya dalam bentuk olahan. Sebab, harga kopi gelondongan hanya Rp 6.000 per kilogram. Akan tetapi, kopi olahan dengan kapulaga dan jahe bisa Rp 28.000 per kilogram. Padahal, biaya olahnya hanya menambah 10%,'' papar Siswanto.(G2-82j)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA