
| Kamis, 8 April 2004 | Jawa Tengah - Pantura |
Rp 9 Miliar untuk Berobat Gratis di PuskesmasKAMIS ini Pemerintahan Kabupaten Batang memasuki usia ke-38. Tanggal 8 April diperingati sebagai hari bersejarah oleh salah satu pemerintahan di pesisir utara Jawa itu. Pada tanggal itu 38 tahun lalu, Batang kembali berdiri sendiri setelah pada zaman penjajahan Belanda digabung dengan Kabupaten Pekalongan. Melalui beberapa tokoh masyarakat dan pemuda, keinginan untuk melepaskan diri dan menjadikan Kabupaten Batang akhirnya dikabulkan pemerintah pusat, sehingga 8 April 1966 diresmikan berdirinya kembali Kabupaten Batang oleh Gubernur Jateng Usman. Kini Batang tak muda lagi. Di bawah kepemimpinan Bupati Bambang Bintoro SE dan Wakil Bupati Drs H Achfa Mahfudz, geliat pembangunan tampak di seluruh pelosok desa. Upaya membangun masyarakat yang demokratis, bersatu, dan adil serta sejahtera serasa tak akan berhenti dan terus dilakukan secara bersama-sama sejalan dengan tuntutan zaman. ''Mewujudkan kesejahteraan masyarakat, walaupun dengan biaya yang sangat besar, akan kita laksanakan dengan kerja keras. Hal ini perlu diikuti peran aktif masyarakat dalam mengembangkan potensi sumber daya yang kita miliki,'' ujar Bambang Bintoro SE. Untuk mewujudkan hal itu, tentu diperlukan peningkatan iklim kondusif yang mampu mendukung dan menunjang langkah-langkah serta program pembangunan yang sudah ditetapkan. Sejalan dengan hal itu, pada tahun anggaran 2004 Pemkab Batang telah menetapkan program untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Misalnya pemberian bantuan biaya gratis di puskesmas-puskesmas dan pemberian buku teks SD/MI/SMP senilai Rp 9 miliar. ''Bantuan pendidikan bagi 10.000 anak kaum duafa senilai Rp 3 miliar dan bantuan kepada RSUD Kalisari untuk keluarga miskin Rp 2,5 miliar. Subsidi asuransi kesehatan bagi PNS Rp 510 juta serta bantuan peningkatan kesejahteraan PNS masing-masing Rp 600.000 dan bagi PTT Rp 300.000,'' papar Bambang Bintoro SE. Memberikan Stimulan Cara lain, Bupati melalui kunjungan kerja ke desa-desa dengan memberikan dana stimulan serta material (aspal). Semua bantuan itu pada tahap I telah dicairkan Rp 16 miliar. ''Satu hal yang perlu saya tekankan, kunjungan kerja dan pemberian bantuan tersebut bukan suatu upaya politis. Namun semata-mata upaya penyerapan aspirasi masyarakat untuk percepatan pembangunan.'' Para kepala desa dan kepala kantor kelurahan merasakan nikmatnya kebijakan itu dengan mendapatkan motor. Bantuan serupa juga diserahkan kepada polsek dan koramil. Hasil kerja yang dilakukan duet Bambang-Achfa telah menorehkan catatan hasil pembangunan yang terus meningkat. Data di BPS menunjukkan tahun 2002 dan 2003 terjadi kenaikan rata-rata pendapatan per kapita. Tahun 2001 rata-rata pendapatan penduduk Rp 2.646.197,09. Pada tahun pertama kepemimpinan mereka, tahun 2002 ada peningkatan menjadi Rp 2.949.935,59, sedangkan tahun 2003 melejit menjadi Rp 3.118.824,08. PAD Batang juga mengalami kenaikan sangat drastis. Tahun 2001 sebesar Rp 14 miliiar. Tahun 2002 berhasil mendongkrak PAS Rp 21,3 miliar dan angka itu dipertahankan tahun 2003. ''Kebijakan yang selalu berpihak pada rakyat kecil merupakan perwujudan komitmen kami untuk selalu dekat dengan rakyat. Sejak awal menjabat, kami bertekad mengangkat kesejahteraan masyarakat Batang.'' Beberapa kades menyatakan kebijakan Bupati yang selalu berpihak pada rakyat kecil patut didukung bersama. Sebagai contoh, kunjungan kerja dengan memberikan dana stimulan telah menggugah semangat masyarakat untuk membangun. ''Desa Kumesu, Kecamatan Reban sangat merasakan kunjungan kerja. Desa itu dibantu dengan dana stimulan, aspal, sarana pendidikan, dan ibadah. Masyarakat pun cancut taliwanda untuk menyukseskan pembangunan,'' ujar Kades Ahmad Jumadi. Hal senada juga dikatakan Kades Madugowongjati,Tersono, Edy Zennuryanto yang selama ini mengalami kesulitan untuk mendapatkan proyek. Berkali-kali proposal kegiatan pembangunan yang diajukan belum pernah berhasil. Di samping itu, sebelumnya rakyat tak pernah mendapat kesempatan mengelola langsung pembangunan. ''Selama ini proyek datang, dan rakyat hanya jadi penonton.'' (Arif Suryoto-17c) |