
| Kamis, 8 April 2004 | Jawa Tengah - Pantura |
30.498 M3 Lumpur Pelabuhan DikerukPEKALONGAN - Pemkot Pekalongan segera mengeruk 30.498 m3 lumpur di Pelabuhan. Pengerukan yang akan didanai dengan ABPD II Rp 398 juta itu dilakukan CV Karya Muda Pekalongan. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Pekalongan Ir Budiyanto MPi yang ditemui Suara Merdeka di ruang kerjanya menjelaskan, pengerukan itu dilakukan untuk mengurangi pendangkalan setelah musim hujan beberapa waktu lalu. Seperti diberitakan kemarin, Pelabuhan Pekalongan kini dangkal, sehingga kapal yang masuk ke pelabukan harus ditarik dengan kapal tunda. Setiap kapal harus membayar Rp 100.000. Budiyanto mengatakan, berdasarkan survai di lokasi, kini Pelabuhan Pekalongan hanya memiliki kedalaman 1,9-2 meter. Diharapkan setelah dikeruk rata-rata kedalamannya menjadi 3 meter, sehingga akan memudahkan kapal-kapal masuk ke pelabuhan. Dia mengemukakan, pengerukan akan dilakukan mulai dari ujung pier hingga lampu mercusuar yang berjarak sekitar 400 meter. ''Lokasi itulah yang menjadi kewenangan Pemkot. Adapun mulai dari mercusuar hingga batas TPI menjadi kewenangan PPNP dan di depan tempat pelelangan ikan (TPI) kewenangan Perum Prasarana Pelabuhan Pekalongan,'' katanya. Tiga Bulan Waktu yang diberikan kepada kontraktor untuk mengeruk lumpur itu tiga bulan. Namun, diyakini, jika mereka bekerja lebih efektif, pengerukan akan selesai dalam sebulan. Budiyanto menjelaskan, meski nanti pengerukan sudah dilakukan, bukan berarti kapal purseseine bisa masuk dengan leluasa tanpa harus ditarik kapal tunda. ''Sebenarnya kalaupun pemilik kapal tak menginginkan ditarik kapal tunda, tidak menjadi masalah. Namun, harus diingat, kapal itu mahal, sehingga jika masuk ke pelabuhan tanpa ditarik kapal tunda berisiko besar. Bisa-bisa kapal akan berbelok ke tepi sehingga kandas. Bahkan, risiko terbesar kapal bisa pecah.'' Berkaitan dengan pendangkalan itu, lanjut dia, sebenarnya setiap tahun Pemkot melakukan pengerukan dengan dana sekitar Rp 400 juta. Namun, tidak lama kemudian terjadi pendangkalan lagi setelah musim hujan akibat banjir yang membawa lumpur. Sebaliknya, dari laut, gelombang air laut juga membawa lumpur masuk ke pelabuhan. Lumpur pun menumpuk di muara sungai. Ini yang membuat kapal harus berhati-hati setiap masuk pelabuhan. Dia mengakui, pelabuhan Pekalongan merupakan pelabuhan perikanan yang dibangun di muara sungai. Karena itu, jangan heran jika pendangkalannya sangat tinggi. ''Ini yang membedakan antara pelabuhan sungai dan pelabuhan pantai. Tentu, pelabuhan sungailah yang akan cepat dangkal,'' ujarnya. (A15-17e) |