
| Kamis, 8 April 2004 | Jawa Tengah - Kedu & DIY |
PKL Samirono Tolak Penggusuran
YOGYAKARTA - Puluhan pedagang kaki lima (PKL) yang berjualan di Jalan Samirono, sebelah selatan Universitas Negeri Yogyakarta, menolak penggusuran lokasi dasarannya. Mereka menyampaikan unek-uneknya dengan membentangkan spanduk dan poster di pagar kampus yang dulu bernama IKIP Negeri Yogyakarta itu. "Para pedagang tidak pernah diberitahu adanya penggusuran, tiba-tiba saja datang petugas ketertiban yang mengatakan akan segera menggusur tempat kami berjualan karena akan dipakai untuk taman," ujar Sarwoko, Ketua Paguyuban PKL Abadi Samirono, Yogyakarta, kemarin. Aksi tersebut tidak diwarnai dengan orasi. Mereka hanya memasang spanduk dan poster di lokasi strategis. Kegiatan pada pagi itu cukup menarik perhatian masyarakat karena dilakukan tepat di pinggir jalan besar. Spanduk besar bertuliskan "Tamanisasi Tidak Harus Gusur Kami" dibentangkan di pinggir jalan sehingga tampak mencolok. Di sebelah kanan-kirinya terpampang poster dengan berbagai tulisan antara lain "Peraturan Sleman Agawe Ora Mangan, Perda PKL Biang Kemiskinan, Kami Butuh Makan untuk Penyambung Hidup" dan masih banyak lagi. Sarwoko menegaskan, dia dan teman-temannya akan terus bertahan sampai ada kejelasan mengenai nasib mereka. Sebenarnya pedagang sudah bisa mengatur dirinya dan selalu menjaga kebersihan, ketertiban, dan keindahan. Dia mengungkapkan, penataan tidak harus menggusur. Bisa saja taman menyatu dengan PKL. Dia mencontohkan, di sela-sela taman ada sedikit lokasi untuk pedagang. Mereka bersedia menjaga lingkungan agar tampak asri. Selama ini, mereka juga sudah melakukan hal itu. Jaminan Sarwoko mengungkapkan, sejak ada informasi penggusuran, puluhan pedagang merasa resah. Mereka sudah berkali-kali didatangi oleh petugas ketertiban, namun karena belum ada jaminan mengenai relokasi, PKL tidak bersedia pindah. "Kami pernah mendengar ada lokasi relokasi di Jalan Lingkar Utara. Setelah dicek ternyata itu untuk PKL lain, bukan PKL yang dari Samirono," jelasnya. Dia mengungkapkan, aksi pasang spanduk dan poster akan terus berlangsung sampai ada respons dari Pemkab Sleman. Dalam waktu dekat PKL akan mengirim surat untuk Pemkab dan mengajak berdialog. Mereka tidak ingin kasus PKL Selokan, Mataram dan Gejayan terulang. "Lihat saja PKL Gejayan yang direlokasi di Mrican, sepi dari pengunjung dan kini hanya ada satu-dua pedagang bertahan di sana, lainnya lari mencari tempat yang lebih strategis. Kalau seperti itu kan rugi semua, ya PKL, ya Pemkab," tandasnya mencontohkan lokasi relokasi PKL Gejayan yang kini sepi nyenyet. Kabupaten Sleman akhir-akhir ini memang sedang melakukan penataan PKL. Bupati Sleman Ibnu Subiyanto pernah mengungkapkan, hal itu dilakukan untuk mengembalikan fungsi jalan dan memberi kesempatan pengguna trotoar, yakni para pejalan kaki. Rencananya, Pemkab melakukan penataan di semua tempat yang memang bukan untuk PKL. (D19-80n) |