logo SUARA MERDEKA
Line
  Kamis, 8 April 2004 Budaya  
Line

Ketika Ki Manteb Diburu Waktu

BIASANYA semalam suntuk. Atau kalau tidak, untuk keperluan pakeliran padat (pentas penuh), masih dalam hitungan jam. Demikianlah, orang biasa mengenal durasi pergelaran wayang kulit purwa. Lantas, bagaimana kalau durasinya diperpendek dalam hitungan menit?

Judeg! (pusing dan bingung). Itulah, jawaban dalang kondang asal Karangpandan, Karanganyar, Ki H Manteb Soedharsono, kepada sejumlah wartawan di Solo, kemarin.

Dua tahun lalu, ketika mengikuti seleksi warisan budaya dunia yang diadakan oleh salah satu badan PBB yang membidangi budaya (Unesco), dalang yang terkenal memiliki ketrampilan dan kecepatan sabet yang menawan tersebut memang pernah merasakan kondisi seperti itu.

''Bayangkan, untuk keperluan seleksi tersebut saya harus mengemas lakon Brubuh Ngalengka (Dasamuka Lena) hanya dalam waktu 10 menit. Padahal lakon itu, mengingat banyaknya adegan baku, kalau dipentaskan semalam suntuk saja waktunya terkadang masih kurang,'' jelasnya.

Lebih judeg lagi, dengan waktu yang boleh dibilang hanya sekejap untuk ukuran pergelaran wayang kulit purwa itu, dia tidak boleh hanya sekadar menggelar pakeliran, tapi juga harus mengungkapkan semacam piwulang (filosofi) tentang runtuhnya keangkaramurkaan Dasamuka, tokoh antagonis dalam dunia pewayangan.

''Wis, pokoke jan judeg tenan,'' tuturnya ketika mengingat kondisinya saat itu.

Namun, justru ketika dia sedang judeg itulah, daya kreatifitasnya sebagai seorang seniman yang mumpuni muncul. Dan durasi yang hanya 10 menit pun, bukanlah hal yang mustahil bagi seorang Ki Manteb Soedharsono untuk membeber lakon Brubuh Ngalengka.

''Saya kemudian hanya memfokuskan pada filosofinya tentang keangkaramurkaan Dasamuka saja. Dengan memvisualisasikan ketika Dasamuka tidak bisa mati, sekalipun telah dibunuh Ramawijaya dengan panah saktinya, Kyai Guwowijaya, atau bahkan ketika sudah dikubur dengan gunung oleh Hanoman,'' paparnya.

Dari visualisasi pakeliran seperti itu, Ki Manteb ingin mengungkapkan sebuah filosofi tentang tidak bisa hilanganya sifat angkara murka di muka bumi. ''Ketika hasil karya itu saya pentaskan di Wonogiri dan disaksikan oleh tim penyeleksi dari Unesco, saya sempat ditanya, kalau tidak bisa mati lantas kapan hilangnya angkara murka itu? Saya jawab, hilangnya bersamaan dengan kiamat (bareng karo kukuting jagad),'' paparnya.

Terlepas dari benar dan tidaknya tentang filosofi tersebut, Ki Manteb membuka pintu lebar-lebar jika ada yang menganggap pemikirannya itu salah. Hasil karya itulah, justru yang terpilih dan akan mendapatkan penghargaan dari salah satu badan PBB tersebut.

''Tepatnya 21 April nanti, saya di undang ke Prancis untuk menerima penghargaan sekaligus diundang untuk menggelar wayang kulit purwa dengan lakon Sesaji Rajasuya,'' kata Ki Manteb sehubungan dengan kesiapanya membeber lakon tersebut di Eropa.(Wisnu Kisawa-41)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA