logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 5 April 2004 Tajuk Rencana  
Line

Pemilihan Presiden Langsung Akan Lebih Menarik?

- Setelah hasil pemilihan umum (pemilu) tahap pertama diketahui, situasi politik justru kian hangat. Partai politik-partai politik akan melakukan serangkaian lobi baru untuk menggalang koalisi. Koalisi adalah kata kunci ketika tidak ada satu partai pun mampu menjadi mayoritas tunggal. Koalisi itu diperlukan terutama untuk menghadapi pemilihan presiden dan wakil presiden secara langsung tahap pertama 5 Juli. Banyak yang memperkirakan pemilihan presiden dan wakil presiden itulah pemilu yang sesungguhnya karena pasti lebih menarik. Sementara itu Ketua PWNU Drs Mohammad Adnan MA memperkirakan jika dalam kampanye pemilu anggota legislatif relatif tenang dan aman, belum tentu hal yang sama terjadi ketika menghadapi pemilihan presiden dan wakil presiden.

- Ketika berlangsung sarasehan tentang prediksi dan harapan Pemilu 2004 yang digelar Mapilu PWI Jateng, Sabtu lalu, pengamat politik MT Arifin membuat berbagai perkiraan tentang hasil perolehan suara partai pada pemilu. Tentu saja amat menarik mengikuti berbagai prediksi yang juga disertai argumentasi. Ada partai politik yang akan mengalami penurunan perolehan suara, namun ada pula yang memperoleh kenaikan. Bahkan disebut angka persentasenya. Semua akan dibuktikan setelah hasil penghitungan suara selesai. Namun pengamat politik dari UGM, Prof Dr Ichlasul Amal, memprediksikan partai-partai besar yang lama masih mendominasi, kendati perolehan suara itu berfluktuasi, ada yang naik dan ada yang turun.

- Setelah hasil pemilu 5 April diketahui, proses pencalonan presiden dan wakil presiden mulai berlangsung. Rasanya benar bila dikatakan justru itulah yang bakal ramai, panas, dan mungkin disertai kejutan-kejutan. Sementara ini yang sudah jelas-jelas bertekad merebut kursi RI 1 adalah Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri, Ketua Umum PAN Amien Rais, dan Ketua Umum PKB KH Abdurrahman Wahid, selain tokoh yang akhir-akhir ini banyak dibicarakan. Yakni, Susilo Bambang Yudhoyono. Partai Golkar akan menunggu hasil konvensi nasional, kendati beberapa pengamat sudah yakin bahwa Akbar Tanjung yang paling berpeluang, terutama setelah Mahkamah Agung membebaskan dia. Beberapa calon lain juga bermunculan dari partai-partai baru.

- Pemilihan presiden dan wakil presiden baru kali pertama digelar. Wajar bila semua masih mencoba-coba. Kalaupun kita prediksi agak sulit, karena belum pernah ada referensi atau data historisnya. Berbeda dari prediksi perolehan suara partai yang lebih mudah dilakukan karena ada data pembanding, yakni hasil Pemilu 1999. Apalagi ada perkiraan naik atau turun tidak akan terlampau signifikan, mengingat kondisi riil masyarakat dilihat dari berbagai aspek relatif belum banyak berubah selama lima tahun ini. Akan tetapi dalam pemilihan presiden banyak hal akan memengaruhi. Dalam hitungan di atas kertas, koalisi partai politik yang akan menghasilkan pasangan presiden dan wakil presiden yang akan berpeluang besar. Benarkah demikian? Tidak ada yang menjamin.

- Orang masih memperhitungkan Megawati sebagai salah satu calon terkuat. Namun menjadi soal siapa pasangan calon wakil presidennya. Kalau bisa membangun koalisi dan sinergi positif tentu kuat, namun sebaliknya jika tak mampu membangun koalisi. Begitu juga Akbar Tanjung atau calon dari Partai Golkar. Kalau ternyata partai itu mengalami kenaikan perolehan suara seperti diperkirakan, tentu tetap maju sebagai calon presiden. Akan berkoalisi dengan siapa? Begitulah pertanyaannya. Sementara itu, partai-partai lain sudah memasang target juga menjadi presiden. Orang pun akan tertarik memprediksikan siapa pasangan calon wakil presiden Amien Rais? Apakah benar Gus Dur akan tetap maju atau punya calon lain? Bagaimana nasib SBY bila Partai Demokrat tak mampu ''lolos''?

- Pertanyaan-pertanyaan seperti itu akan makin banyak dan bervariasi serta sudah diperbincangkan di kalangan masyarakat. Jadi tampaknya tidak keliru bila pemilihan presiden dan wakil presiden akan lebih seru ketimbang pemilihan anggota legislatif, walau jelas sama-sama penting. Karena selain baru pertama kali juga lebih sulit diprediksi, mengingat yang dipilih orang. Bisa jadi hitungan partai-partai itu meleset karena masyarakat lebih banyak menjatuhkan pilihan ke seorang figur belum tentu sama ketika memilih partai. Memang secara teoretis bila ingin mencapai kestabilan politik sebaiknya calon presiden yang menang juga punya dukungan politik kuat di parlemen. Namun siapa yang bisa mengatur jika pemilihan langsung oleh rakyat?


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA