
| Senin, 5 April 2004 | Sala |
Tambah Bangunan Baru di KlewerPATANGPULUHAN- Hanya ada satu solusi untuk mengatasi overload pedagang Pasar Klewer yang sebagian besar disokong hadirnya pedagang kaki lima (PKL). Yaitu bila tidak memungkinkan pindah ke tempat lain, ditambah bangunan baru. Satu-satunya solusi adalah kembali menata ulang bangunan induk, agar lebih berdaya tampung tinggi dan melebar ke barat dengan memberi ganti rugi toko serta permukiman di sekitar. "Karena di barat Klewer ada toko dan permukiman, terpaksa diberi ganti rugi dan di-setting ulang untuk perluasan. Sekarang tinggal berani nggak memberi ganti rugi untuk perluasan ke situ," tutur sentana dalem Keraton Surakarta KRMH Rudy Subanindra, kemarin. Penjelasan dia selain me-review persoalan serupa dalam harian ini beberapa waktu lalu, juga menanggapi lontaran wacana yang digulirkan pengamat sosial budaya, Suroto Mangunsudarmo (Suara Merdeka, 2/4). Dia tetap pada pendapatnya bahwa keruwetan dan kemacetan lalu lintas yang mengimbas ke kawasan Alun-alun Lor merupakan akses dari perkembangan Pasar Klewer. Perkembangan yang dimaksud, kata dia, berupa overloading volume ruang pasar itu sendiri, antara lain diakibatkan kehadiran PKL. Bahkan dalam catatannya untuk mengantisipasi perkembangan itu, pasar telah dilebarkan ke lokasi tanah yang masuk situs cagar budaya. Yaitu Taman Pekatik yang dulu berupa open space. "Jadi yang sekarang pun sudah melanggar tata ruang situasi budaya keraton. Sebab Taman Pekatik di bagian timur Klewer adalah open space yang harus dibiarkan tetap terbuka dan bukan untuk mendirikan bangunan," tegasnya. Mengarah ke Barat Karena berat meninggalkan beban sejarah dan tidak mungkin bersedia pindah ke tempat lain, solusi yang paling tepat, menurut anggota tim teknis revitalisasi keraton, adalah mengarah ke barat. Dengan spirit revitalisasi, perlu dibentuk kawasan baru yang mengacu kajian konservasi. Termasuk masalah taman parkir, ruang bongkar-muat, dan ruang penampung PKL. "Kalau dipindah ke tempat lain seperti wacana pemanfaatan bekas Terminal Bus Gilingan, rasanya kok nonsense. Sebab para pedagang merasa ada berkah marketing tertentu dengan berdagang di Klewer," ungkapnya. Di tempat terpisah, pengamat sosial budaya Suroto Mangunsudarmo bisa memahami apabila ada semacam makna filosofi di kalangan pedagang yang ingin tetap bertahan di Klewer. Persoalannya, beraktivitas dagang di pasar yang kian sesak oleh PKL yang menghabiskan lorong fasilitas pengunjung, perlu solusi yang kemungkinan bergesekan dengan sikap pandang itu. Pasar semakin overload, sementara tidak ada perluasan dan akses negatif berupa kemacetan dan keruwetan lalu lintas yang mengimbas ke sekitarnya. Dengan demikian jelas perlu solusi untuk kepentingan para pedagang anggota Himpunan Pedagang Pasar Klewer (HPPK) itu sendiri. Kehadiran PKL yang menyita ruang-ruang kosong dan dilegalisasi lewat pungutan karcis retribusi semakin menyulitkan menegakkan ketertiban pasar. "Apalagi yang berjualan di situ tidak hanya sandang. La wong bakul bumbon, sayur, latengan, makanan kok bisa jualan di situ. Ini sudah tidak konsisten. Ini yang ikut menyumbang keruwetan. Padahal kalau mau menegakkan ketertiban, aparatnya lemah dan tidak siap tempat penampung secara khusus. Terus bagaimana?" katanya.(won-42s) |