
| Senin, 5 April 2004 | Sala |
Pembangunan Kawasan Silir Terganjal
KOTA- Meski telah ada kejelasan lahan, rencana pembangunan masjid dan sarana pemberdayaan ekonomi umat di kawasan Silir Kelurahan Semanggi, Kecamatan Pasar Kliwon, masih terganjal beberapa permasalahan. Sebab lahan hak pakai No 15 seluas 4.050 m2 Silir Kelurahan Semanggi yang direkomendasi Pemkot Surakarta sebagai pengganti lahan hak pakai No 11 seluas 2.250 m2 tersebut, belum sepenuhnya bebas dari hunian liar. Pada lahan tepat berada di sebelah utara eks resosialisasi Silir, masih terdapat sebuah bangunan warung sekaligus tempat tinggal dan bangunan poskamling. Karena itu, Panitia Pengelola Kawasan Silir untuk Pemberdayaan Ekonomi Umat (PKSPEU) meminta Pemkot melalui kelurahan setempat untuk segera memindahkan dua hunian tersebut. "Tahap awal kami telah meminta bantuan kelurahan untuk memberikan pengertian kepada penghuni dan masyarakat bersangkutan. Karena lahan yang ditempati tersebut milik Pemkot, sudah semestinya dikosongkan," kata Sekretaris Panitia PKSPEU Ir Muhammad Rodhi, Minggu kemarin. Selanjutnya, Panitia PKSPUI dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Surakarta akan segera melakukan sosialisasi pembangunan gedung pemberdayaan ekonomi umat dengan sistem multiyear. Itu mengingat dana yang tersedia sangat terbatas. Pemkot melalui APBD 2004 telah menganggarkan dana Rp 800 juta. Dana sebesar itu digunakan untuk membangun sarana pemberdayaan ekonomi umat. Selain itu panitia juga akan membangun masjid seluas 1.000 m2. "Kami akan segera membangun, meski dana yang tersedia sejumlah itu. Tentu setelah kami melakukan sosialisasi kepada warga." Site Plan Saat ini, jelas dia, tim teknis tengah membuat site plan (tata letak bangunan). Selanjutnya, tim yang antara lain melibatkan Direktur PDAM Abimanyu BE dan ahli dari Proyek Bengawan Solo akan menentukan RAB (rencana anggaran belanja). Rodhi memperkirakan pembangunan menelan dana lebih dari Rp 10 miliar. Jumlah tersebut disesuaikan dengan rencana kebutuhan pembangunan sebelumnya, yang berkisar antara Rp 8 miliar dan Rp 10 miliar. "Jumlah itu sesuai dengan proposal yang pernah kita ajukan beberapa tahun lalu. Sekarang dimungkinkan mengalami kenaikan, tapi untuk angka pastinya kami masih menunggu perhitungan RAB oleh tim." Lantas dari mana kekurangan biaya diperoleh? "Tentunya kami masih menanti kucuran dana Pemkot pada APBD tahun berikutnya. Selain itu kami berharap Pemkot mencarikan bantuan ke pemerintah pusat," kata dia. Tak hanya itu, panitia juga akan membuka kesempatan bagi dermawan untuk memberikan bantuan. "Kami berharap ada partisipasi dari warga, mengingat sarana tersebut cukup dibutuhkan untuk mengangkat permasalahan umat saat ini." Seperti diketahui, rencana pembangunan masjid dan sarana pemberdayaan ekonomi umat di Silir diadopsi dari keberadaan pondok pesantren di lokalisasi Saritem, Bandung. Selain untuk pemberdayaan ekonomi, keberadaan masjid di dekat eks resosialisasi Silir itu bisa mengubah citra negatif kawasan Silir.(G13-42s) |