
| Senin, 5 April 2004 | Sala |
Ketika Ubi Varietas Cilembu Berubah SipulenMATAHARI bersinar penuh, tetapi hawa sejuk pegunungan Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Wonogiri, mampu meredam sengatan panasnya sang surya. Kondisi agroklimat seperti itu, mengingatkan iklim pegunungan di Cilembu Cadas Pangeran Sumedang, Bandung, Jawa Barat. Yakni daerah yang selama ini dikenal sebagai penghasil produk ubi madu. Mengapa ubi Cilembu terkenal sebagai ubi madu? Karena ketika ubi jalar itu dibakar atau diopen, mampu mengeluarkan cairan manis layaknya madu lebah. Spesifikasi ada cairan madu tersebut hanya didapati pada ubi Cilembu. Sebab banyak petani Wonogiri yang membudidayakan ubi jalar, tidak ada yang mampu mengeluarkan aroma madu seperti ubi Cilembu. Namun engan adanya persamaan agroklimat Padas Pangeran dengan Karangtengah, maka Dinas Pertanian Wonogiri untuk kali pertama mengadakan uji coba budi daya ubi Cilembu. Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Wonogiri, Ir Guruh Santosa MM mengatakan, uji coba ubi Cilembu dilakukan di kebun demonstrasi plot (Demplot) di Dusun Pule, Desa Karanganyar, Kecamatan Karangtengah (sekitar 65 km arah tenggara ibu kota Kabupaten Wonogiri-Red). Panen Perdana Kegiatan tanam dilakukan pada 24 Desember 2003, dan panen perdana dilaksanakan Sabtu 3 April 2004. Kebun Demplot ubi madu Cilembu itu, menempati areal seluas satu hektare lahan garapan petani yang memperoleh bantuan dana dari APBD Wonogiri. Budi daya ubi madu tersebut merupakan kali pertama dilakukan di Wonogiri, dan bibit sengaja didatangkan dari Cilembu, Bandung. Camat Karangtengah Drs Tarmanto mengatakan, mungkin dipengaruhi oleh sifat tanah dan kondisi iklim Karangtengah, hal itu memengaruhi hasil akhir dari uji coba ubi madu Cilembu di Dusun Pule. Yang jelas, katanya, rasa madu lebih manis dan terjadi perubahan sifat varietas menjadi lebih gurih (enak) dan pulen (lunak). Karena itu, Camat Tarmanto mengatakan, ubi madu Cilembu yang dibudidayakan di Pule, Karanganyar, Karangtengah, layak dibakukan sebagai ubi madu ''Sipulen''. Kepala Sub-Dinas Pertanian Pangan Wonogiri, Ir Suhardi mengatakan, dari satu hektare dapat menghasilkan 10.880 kg ubi. Dengan menggunakan standar harga terendah, Rp 2.000/kg, akan diperoleh pemasukan Rp 21,76 juta. Kemudian jumlah biaya usaha tani yang dikeluarkan total Rp 6,08 juta. Jumlah biaya tersebut termasuk sarana produksi, tenaga kerja, sewa tanah, dan pajak. Dengan demikian hasil bersih keuntungan Rp 21,76 juta-Rp 6,08 juta=Rp 15,68 juta.(Bambang Pur-14s) |