logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 5 April 2004 Ragam  
Line

Tasawuf Interaktif

Tobat dan Penyesalan Diri

T: Prof Amin yang saya hormati, saya ini dulunya seorang non Muslim yang hobinya mabuk-mabukan, berjudi dan lainnya. Setelah masuk Islam tahun 1990 saya menjadi imam shalat Subuh. Saya dihantui rasa takut, terlebih setelah membaca surat tertentu seperti al-Zalzalah (99):7-8, al-Syura (42): 40, Yunus (10):27, Al-Naba (78):23-26, Al-Baqarah (2):81, Al-Qari'ah (101):8-11, Fushshilat (101):28, Al-Sajadah (32):20, pertanyaan saya:

1. Apakah sah saya menjadi imam shalat Subuh.

2. Apakah saya tetap disiksa di akhirat.

Yusep (Muhammad) di Semarang

J: Saudara Muhammad yang saya hormati, tidak ada manusia yang tidak berbuat salah. Namun sebaik-baik manusia adalah orang yang berbuat salah kemudian segera menyadari kesalahan diikuti permohonan ampun serta perbaikan-perbaikan di hari-hari selanjutnya. Proses koreksi diri inilah yang dikenal dengan muhasabah atau menghitung-hitung sejauh mana amalan kita yang baik dan yang buruk, guna melestarikan yang baik pada hari-hari selanjutnya berikut memperbaiki kekurangan dan kesalahan masa lalu.

Bila Anda merasa ragu-ragu dan ketakutan dengan membaca ayat-ayat di atas, karena di dalamnya menekankan pada balasan kejahatan adalah kejahatan yang semisal dan neraka tempat tinggal yang abadi. Memang demikianlah ayat-ayat tersebut mengancam mereka yang melakukan dosa. Namun perlu dingat bahwa balasan itu diberikan kepada mereka yang tidak mau bertaubat serta tidak sempat bertaubat hingga meninggal dunia.

Bagi Anda yang mau bertaubat maka Allah akan mengganti kesalahan-kesalahan tersebut dengan kebajikan-kebajikan yang Anda lakukan, sebagaimana firman Allah: "Dan hamba Allah Yang Maha Rahman adalah orang yang berjalan di muka bumi dengan rendah hati..., yang melalui malam harinya dengan sujud karena Allah..., yang senantiasa berdoa untuk dijauhkan dari Jahannam..., yang membelanjakan hartanya dengan wajar..., yang tidak menyekutukan Allah, tidak membunuh, tidak berzina (dan kejahatan lain yang berakibat pada azab Allah) dikecualikan bagi mereka yang mau bertaubat, beriman dan beramal shalih, maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan... " (Qs al-Furgan/25:63-77).

Berdasarkan ayat di atas, bila Anda telah bertaubat, yakinlah bahwa Allah Maha penerima taubat hamba-Nya khususnya taubat nashuha yaitu taubat yang memenuhi minimal 4 kriteria: Pertama, menyesali kesalahan; Kedua, memohon ampun atas kesalahhan tersebut; Ketiga tiada niat mengulangi kesalahan serupa; Keempat, berusaha menghiasi kehidupan selanjutnya dengan amalan-amalan kebajikan.

Kemudian apakah Anda akan masih disiksa di akhirat kelak, sekali lagi yakin pulalah bahwa Allah Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana, disamping Allah Maha Kasih dan Maha Penyayang, Allah tidak akan berbuat aniaya terhadap hamba-Nya yang tulus bertaubat serta menghiasi kehidupan selanjutnya dengan kebajikan.

Tentang sah tidaknya Anda menjadi imam shalat Subuh ataupun shalat fardlu lainnya termasuk shalat-shalat sunnah, tidak ada kaitannya dengan amalan Anda sebelum bertaubat, sebab setelah bertaubat dan masuk Islam, status Anda sama dengan Muslim lainnya. Sebagaimana Anda ketahui bahwa Khalifah Umar pun dulunya (masa Jahiliyyah) adalah pembunuh bahkan pembunuh anaknya sendiri, namun setelah masuk Islam, ia menjadi pemimpin umat Islam lainnya, dan sejumlah sahabat lainnya yang memiliki latar belakang demikian.

Ketentuan sahnya Imam Shalat yang digariskan oleh Nabi adalah pengetahuan dan kemampuannya di dalam membaca Alquran berikut pengetahuan tentang ketentuan-ketentuan shalat lainnya. Kemudian dianggap sah pula bila pada saat mengimami shalat, Anda memenuhi syarat rukunnya shalat tersebut. Khususnya ketentuan shalat berjamaah, sehingga tidak terkait dengan persoalan latar belakang yang telah lalu.

Demikian tanggapan saya atas pertanyaan Anda, mudah-mudahan Anda menjadi lebih tenang dan semakin menebalkan keimanan akan Keadilan Allah serta Kasih sayang-Nya. Lanjutkan terus untuk mengimami shalat, lebih-lebih shalat Subuh, selama Anda yakin telah memenuhi ketentuan perimaman, sementara di sisi Anda tidak ada yang memenuhi kriteria itu. Kalaupun ada sebaiknya tidak berebut untuk menjadi imam melainkan melalui penunjukan secara langsung maupun tidak langsung dari jamaah yang ada. Wallahu a'lam bish shawab.(35)


Bagi yang berminat dengan rubrik ini, kirimkan surat ke alamat Fakultas Ushuluddin IAIN Walisongo, d/a LPK2 (Lembaga Pengembangan Keagamaan dan Kemasyarakatan) Jl. Boja Km 1, Ngalian Semarang, Telepon (024) 7601294. Di atas sebelah kiri amplop ditulis "Interaktif Tasawuf"


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA