logo SUARA MERDEKA
Line
  Senin, 5 April 2004 Berita Utama  
Line

Penutupan Texmaco Jaya

Karyawan Sudah Lelah Mengadu

DI RUMAH: Edi Wibowo, karyawan PT Texmaco Jaya Pemalang kini hanya tinggal di rumah bersama istrinya setelah perusahaan tutup. (43) - SM/Saiful Bachri

MATAHARI cukup menyengat di halaman pabrik tekstil PT Texmaco Jaya Pemalang. Beberapa karyawan dengan tak memakai seragam keluar masuk pabrik melalui pintu gerbang utama. Padahal, sehari sebelumnya pabrik telah berhenti berproduksi total alias tutup.

Situasi perusahaan seperti itu, ujar Office Manager PT Texmaco Jaya Priyo Tjahjono, akan berlangsung hingga September 2004. Faktor utamanya adalah pabrik kehabisan biaya produksi. Sementara itu, suplai dana dari pusat makin hari makin tersendat-sendat.

Lalu untuk apa mereka datang ke pabrik? Apakah mau demo? Ternyata kedatangan mereka hari itu bukan untuk bekerja apalagi demo, melainkan akan mengambil gaji bulan Februari yang tertunda satu bulan lebih belum dibayarkan.

Jika diperhatikan satu per satu, ada semburat warna resah di wajah para karyawan yang berdatangan mengambil gaji. Bagaimana tidak? Gaji Februari saja baru dibayarkan sekarang, bagaimana nanti gaji Maret dan seterusnya? Apakah masih tetap bisa diberikan oleh perusahaan?

Kendati nasib karyawan Texmaco ke depan sangat memprihatinkan, yang patut dipuji adalah tak ada pelampiasan secara fisik dari mereka. Mungkin hal itu karena kebiasaan mereka mematuhi peraturan perusahaan yang sangat disiplin. Atau, mereka sudah menyadari keadaan keuangan perusahaan yang sedang sulit, serta pasrah apabila pabrik gulung tikar.

"Kami memang pasrah. Sudah tak bisa berbuat apa-apa lagi. Mau usul kepada siapa lagi? Kami sudah lelah. Beberapa kali kami mengadu, demo kepada DPR dan pemerintah, ternyata tidak digubris apa-apa," ujar Ketua Serikat Pekerja (SP) Pranoto.

Dia kini malah mempunyai beban moral terhadap para karyawan, karena bisa dituduh tidak mau memperjuangkan perbaikan nasib karyawan kepada perusahaan. Padahal, dia sudah usul agar karyawan tetap dibayar 75% kendati pabrik tutup tak berproduksi. Namun, hal itu belum disetujui.

Pasrah

Keprihatinan tampak pula di wajah Edi Wibowo, karyawan bagian pengepakan. Dia pasrah apabila Texmaco tutup. Sambil menunggu ada pekerjaan lain yang cocok, dia kini menutup kekurangan biaya hidupnya dengan menjual ayam kampung yang dipeliharanya. Adapun gaji yang diterima dari Texmaco sangat kecil setelah dia dirumahkan dua bulan lalu.

"Saya sekarang menerima gaji 75% atau Rp 292.500 setelah dikurangi beberapa potongan," ujarnya di rumah miliknya yang sangat sederhana di Dukuh Cokrah.

Lalu berapa biaya hidupnya setiap bulan? Dia tidak bisa memerinci. Yang jelas, bila butuh uang dia pergi ke pasar menjual ayam. Atau, jika ada orang membutuhkan tenaganya untuk mengecat rumah, dia pun berangkat. Yang penting istri dan seorang anaknya yang duduk di kelas 1 SD bisa hidup.

Dia mengaku bekerja di Texmaco sudah 13 tahun. Gaji pokoknya Rp 435.000. Dahulu ketika perusahaan masih normal, ada beberapa tambahan uang kesejahteraan, seperti biaya dokter dan perawatan rumah sakit. Namun, kini hanya menerima gaji tetap.

Hal yang sama juga dirasakan Nurachman, karyawan bagian material. Dia kini sudah ancang-ancang melamar pekerjaan ke Kantor Telkom dan PT KAI, namun belum ada panggilan. Kini dengan gaji Rp 417.000, dirasakan cukup sulit untuk biaya hidup. Sebab, dia punya anak tiga, dua di antaranya bersekolah di SD.

Dia masih menerima gaji Februari sebesar 100%, karena baru dirumahkan satu bulan. Setelah nanti pabrik tutup, dia belum tahu berapa gaji yang akan diterima. Gaji Maret saja dia tidak tahu kapan diberikan. Karena itu, dia kini sudah ancang-ancang melamar pekerjaan lain.

Karyawan Texmaco lainnya banyak juga yang sudah beralih pekerjaan. Yang punya mobil dimanfaatkan untuk ngompreng (jasa angkutan barang), sedangkan yang tak punya modal terpaksa ikut miyang (melaut bersama nelayan), menjual bensin eceran, atau berdagang sayuran di pasar. Yang penting keluarga bisa makan. (Saiful Bachri-74j)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ragam | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA