
| Senin, 5 April 2004 | Jawa Tengah - Banyumas |
Perbedaan Pandangan soal Hari Jadi Harus Diakomodasi
PURWOKERTO - Perdebatan mengenai hari jadi Kabupaten Banyumas mestinya tidak dilihat sekadar kapan hari, tanggal, dan tahun kelahirannya. Namun harus bisa menyentuh substansi, makna, dan esensi di balik itu. Selama ini perdebatan hanya berputar pada masalah keautentikan data sejarah yang sering berubah-ubah. Peringatan yang dilakukan juga masih berkesan seremonial semata sehingga masyarakat kurang bisa mencerna atau merasakan hari kelahiran daerahnya. Bahkan yang lebih ironis, sebagian masih ada yang tidak mengetahuinya. Demikian tanggapan yang dirangkum Suara Merdeka dari sejumlah budayawan, seniman, dan kalangan akademisi secara terpisah, kemarin. Mereka itu Drs Bambang Widodo, Darmaji, dan Bambang Set. Tanggapan tersebut terkait dengan keinginan Paguyuban Kerabat Mataram (Pakem) bersama sejumlah sejarawan yang berencana meluruskan hari jadi. Bambang Widodo mengatakan, koreksi data sejarah merupakan hal yang wajar. Sebab validitas data sejarah bisa berubah-ubah. "Selama belum ada data sejarah yang baru dan bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah, yang dipakai tetap yang sudah ada. Ini wajar terjadi sehingga tidak perlu dipolemikkan," ujar pengamat sosial budaya Fisipol Unsoed ini. Menurut pendapat Darmaji, sejarah terkait dengan masa lalu, sekarang, dan masa akan datang. Tidak ada kebenaran yang murni, semuanya saling terkait dan melengkapi. Data-datanya bisa berganti. "Tidak masalah kalau ada yang mau meluruskan sejarah Banyumas asal dilakukan dengan kaidah ilmiah yang benar," katanya, kemarin. Bambang Set berpendapat, Pemkab dan DPRD harus berani memberi ruang kepada kelompok Pakem dan sejarawan yang menemukan data baru untuk melakukan uji publik. "Saya mendukung data yang ditemukan Sugeng Priyadi (sejarawan Banyumas-Red) itu. Datanya valid dan lebih akurat dari yang dipakai sekarang, Jangan dicurigai dulu mereka mau melakukan kajian ulang. Bila perlu difasilitasi. Sebab kelak kan bisa terlihat mana yang akan dipakai," kata ketua Dewan Kesenian ini. Menurut pandangan Dodit, panggilan akrab Bambang Widodo, ada yang lebih penting dari sekadar memperdebatkan keautentikan data sejarah. Yaitu, bagaimana cara pihak-pihak yang terkait bisa menyebarluaskan makna di balik peringatan hari jadi ke segenap lapisan masyarakat. "Setelah bisa menemukan maknanya, kita jadikan sebagai spirit untuk berintrospeksi dan membangun. Justru ini yang selama ini tidak pernah tersentuh sehingga pada setiap peringatan yang terlihat hanya seremoni semata," jelasnya. Seperti diberitakan (SM, 3/4), Pakem pada awal Mei akan melakukan seminar meluruskan hari jadi Banyumas yang selama ini diperingati 6 April dengan tahun kelahiran 1582. Mereka berpendapat, yang benar adalah 22 Februari 1571 berdasar catatan di babad Banyumas yang tertua dari Kalibening. Peluruskan kapan tepatnya hari jadi Banyumas itu sudah diawali dengan sarasehan, Kamis (1/4) lalu, di Desa Pekunden. Bupati Aris Setiono menanggapi masalah tersebut dengan mengatakan menyerahkan sepenuhnya kepada masyarakat. Selama mereka bisa mempertanggungjawabkan secara alamiah dan bisa diuji dan diterima oleh mayoritas Pemkab, pihaknya tidak mempersoalkan. Pihak Dewan juga akan memfasilitasi kelompok-kelompok yang berbeda pandangan untuk bertemu. (G22-49n) |