logo SUARA MERDEKA
Line
  Sabtu, 3 April 2004 Sala  
Line

TERAS

Menari Tak Harus yang Punya Bakat

AGAR pandai menari, seseorang tak harus memiliki bakat. Sebab kemahiran menari dapat ditumbuhkan dengan belajar, menjalani pembinaan rutin, dan berlatih terus-menerus. "Yang terpenting adalah minat. Kemudian berlatih secara sungguh-sungguh dan intensif," kata Ida Erawati, seniwati yang sekaligus guru tari.

Berikut petikan wawancara Suara Merdeka dengan Ida Erawati, pelatih tari dari sanggar Langen Kridha Surya Giri Kabupaten Wonogiri, kemarin.

Bukankah penari itu harus berbakat?

Idealnya begitu. Bagi yang berbakat, akan lebih mudah dilatih. Bahkan gerak tariannya akan memancarkan citra keindahan dari dalam jiwanya. Dengan demikian citra keagungan akan terpancar dalam setiap gerak tariannya.

Tapi untuk pandai menari, sebenarnya tidak harus yang mempunyai bakat saja. Asal mempunyai minat dan mau berlatih secara sungguh-sungguh, niscaya akan mahir menari. Sebab menari hakikatnya adalah keterampilan yang ditumbuhkan lewat ketekunan berlatih.

Bagaimana Anda menjadi pelatih tari?

Sejak kecil saya senang tari dan aktif berlatih. Ketika remaja, saya sekolah tari ke STSI Surakarta, tapi tidak sampai lulus. Saya drop out karena keburu menikah. Meski putus sekolah, upaya pendalaman ilmu tari tetap saya lakukan lewat guru dan instruktur sanggar-sanggar tari dan secara autodidak.

Akhirnya saya menjadi pelatih tari hingga sekarang. Untuk menjadi pelatih, saya harus berproses panjang menggeluti dunia tari.

Sejak kapan melatih tari di Langen Krida Surya Giri?

Sejak sanggar itu berdiri pada tahun 1995 hingga sekarang. Setiap minggu saya melatih dua kali, yakni Selasa dan Jumat. Pesertanya anak-anak TK dan SD. Tempat latihan di Pendapa Kabupaten Wonogiri. Sekarang tambah jadwal pada hari Sabtu, pelatihan tari tingkat lanjut khusus anak-anak remaja. Setiap tiga bulan sekali dilaksanakan ujian. Yang lulus dapat mengambil paket latihan tari baru lagi. Kami menyediakan sekitar 26 jenis bimbingan tarian, baik tradisional maupun kontemporer, tari kreasi baru.

Untuk tarian tradisional jenisnya apa saja?

Jenisnya banyak. Di antaranya tari gambyong, golek, golek montro, srikandi-mustokoweni, tari merak sampai tari jatilan reog. Adapun jenis tari kreasi baru, meliputi tari kupu-kupu, kebyok anting-anting, tari rebana, soyong, dan lain-lain. Biasanya untuk setiap jenis tarian, memerlukan waktu latihan minimal tiga bulan. Saya dibantu pelatih lain seperti Ida Kunti SKar, Tutik Nurani SSn, dan Ning Gandini SSn. (Bambang Pur-14i)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA