
| Jumat, 2 April 2004 | Sala |
Menggagas Lahirnya Empu Tari Baru (2-Habis)
Wadah Pembelajaran Olah RasaKETIKA muncul semacam kekhawatiran terputusnya generasi empu tari setelah era S Maridi dan S Ngaliman, sejumlah alumni SMKN 8 Surakarta (sebelumnya bernama konservatori dan SMKI) membuat semacam kegiatan yang kemudian dinamakan Malem Nemlikuran. Di antara alumni tersebut, ada beberapa nama yang sekarang menjadi dosen Jurusan Tari STSI Surakarta, seperti Wahyu Santosa Prabowo, Daryono, S Pamardi, Saryuni, Denok, Jonet Sri Kuncoro, dan juga dosen STSI yang lain. Lalu Tejo Sulistyo, alumni yang sekarang menjadi dosen di ISI Yogyakarta. Serta semua guru SMKN 8 Surakarta, sebagai tuan rumahnya. Diharapkan dari kegiatan yang menurut rencana digelar rutin setiap bulan itu (setiap malam tanggal 26) akan menjadi wadah bagi para penari muda dalam ngangsu kawruh tentang olah rasa. Utamanya bagi yang sedang mengenyam pendidikan di sekolah kejuruan seni seperti SMKN 8 dan STSI Surakarta. "Dan, itulah konsep awal dari gagasan untuk membuat kegiatan tersebut. Ketika para penari tua tampil, harapannya bisa menunjukan kepada yang muda tentang apa sebenarnya rasa dalam tari itu dan mengapa rasa itu bisa memunculkan karakter tarian," papar Daryono SKar MHum, Ketua Penyelenggara Malem Nemlikuran. Mata Rantai Selanjutnya, kata dia, jika yang muda sudah mengerti dan mau belajar soal olah rasa, dari situ akan bisa melengkapi kemampuan teknis yang telah dikuasai ketika belajar di sekolah formal. "Tapi yang perlu juga diingat, penguasaan rasa itu tidak bisa dicapai dalam sekejap, butuh proses yang intensif dan konsisten," kata Wahyu Santosa Prabowo. Nah, Malem Nemlikuran diharapkan menjembatani jalan menuju keempuan seorang penari. Paling tidak, apa yang diharapkan menjadi kedung kawruh tentang olah rasa bagi penari muda bisa tercapai. "Saya kira banyak yang bisa didapat ketika menyaksikan para penari sepuh tampil. Kemenepan mereka dalam menari bisa menjadi bahan pelajaran bagi yang muda," tutur Daryono. Dari situlah, diharapkan muncul semacam mata rantai pembelajaran. Dari yang sudah menguasai teknis sampai penguasaan di luar yang teknis (rasa). Lantas mungkinkah kegiatan semacam itu akan memicu lahirnya empu tari baru? Terlalu dini mungkin untuk mendapatkan jawaban tentang hal tersebut. Apalagi jika mengingat kegiatan itu baru berjalan sekali. Namun jika melihat apa yang terjadi pada pergelaran pertama yang cukup mendapatkan atensi para penari muda, rasanya ada harapan yang mengarah untuk pencapaian ke sana.(Wisnu Kisawa-80s) |