logo SUARA MERDEKA
Line
  Jumat, 2 April 2004 Sala  
Line

Pengusaha Cor Logam Kesulitan Bahan Baku

KLATEN- Dari sekitar 300 pengusaha cor logam di sentra industri Kecamatan Ceper, Klaten, kini tinggal 18 perusahaan yang masih beroperasi. Harga bahan baku yang melonjak drastis dan kesulitan untuk memperolehnya menjadi masalah yang tidak kunjung ditemukan jalan keluarnya.

''Hampir semua bahan baku utama industri cor logam harganya naik antara 20 sampai 100%. Sebagian besar industri di sini tak bisa menjual produknya, karena mahal dan tidak kompetitif. Akibatnya tak ada order, sehingga sebagian perusahaan tidak beroperasi,'' kata Ketua Koperasi Batur Jaya (KBJ) Ceper, H Anas Yusuf Mahmudi, saat bertemu Menteri Perindustrian dan Perdagangan (Menperindag) Rini M Soewandi, di KBJ Ceper, Kamis (1/4).

Menurut Anas, sebelumnya harga kokas salah satu bahan baku cor logam Rp 2.500/kg. Kemudian naik dua kali lipat menjadi Rp 5.000 sejak awal 2004, dan mulai 1 April 2004 naik lagi menjadi Rp 6.300/kg. Adapun harga sekrup yang pada September 2003 Rp 1.400/kg, mulai April 2004 menjadi Rp 2.500.

Selama ini KBJ menyetor 80% kebutuhan blok rem PT Kereta Api Indonesia (KAI) dengan nilai kontrak Rp 10 miliar. Akibat kenaikan bahan baku tersebut, KBJ akan melakukan renegosiasi dengan PT KAI selaku mitra utama.

''Kontrak senilai Rp 10 miliar itu untuk pasokan 210.000 buah blok rem. Saat ini sudah jalan 30%, tapi tiba-tiba ada kenaikan harga seperti ini. Untung dulu saya sudah antisipasi, jadi kalau ada kenaikan harga akan dilakukan renegosiasi,'' kata Anas Yusuf.

Anas mengaku heran dengan kenaikan harga besi dan baja saat ini. Selama ini, pengusaha di Ceper memahami harga baja mengikuti kurs mata uang rupiah terhadap mata uang utama dunia.

Tapi saat ini meskipun nilai tukar rupiah stabil, harga tetap melonjak. ''Ini aneh. Dolar tidak naik, kok harga baja melonjak begitu besar. Saya menduga ada permainan di sini. Baja di dalam negeri itu diekspor atau diselundupkan ke luar negeri, karena harga baja di dunia memang sedang bagus,'' ungkap Anas didampingi Bendahara KBJ Badrul Munir BSc.

Dibantu

Menperindag Rini MS membantah bahan baku utama industri logam di dalam negeri diekspor. Hal tersebut mengingat sudah sejak lama komoditi itu dilarang diekspor untuk menjaga ketersediaan bahan baku cor logam di dalam negeri.

''Aturannya ada. Sudah lama itu, sekitar tahun 80-an. Kita memang begitu, kalau aturan sudah lama dianggap tidak ada. Saya tidak yakin ada ekspor atau penyelundupan ke luar negeri,'' kata Rini MS kepada wartawan selesai berdialog dengan para pengusaha cor logam.

Soal kesulitan yang dihadapi sebagian besar pengusaha di Ceper, Deperindag akan memberikan bantuan kemudahan berhubungan langsung dengan importir atau produsen di luar negeri. Untuk bahan baku kokas, Rini MS menyatakan bahan bakar tersebut harus diimpor dari China. (F5-49s)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA