logo SUARA MERDEKA
Line
  Jumat, 2 April 2004 Sala  
Line

Pintu Pasar Ditutup Warga Sekitar Demo

  • Pedagang Berjualan di Luar

WONOGIRI- Masyarakat sekitar Pasar Mento Desa Wonoharjo, Kecamatan Wonogiri, Kamis (1/4) melakukan demo. Mereka menolak penutupan pintu masuk utama (sebelah timur) pasar tersebut.

Pasalnya, penutupan pintu utama itu berdampak negatif terhadap nasib para bakul. Mereka terpaksa keleleran di tepian jalan raya, karena ingin tetap berjualan.

Masyarakat pendemo yang tergabung dalam Komunitas Sekpasmen (Sekitar Pasar Mento) mengeluarkan maklumat tertulis. Ada tiga alasan penolakan yang dikemukakan oleh Sekpasmen.

Pertama, penutupan tersebut dinilai mengubah secara ekstrim tata muka pasar. Apalagi kalau pintu utama kemudian dipindahkan lewat samping balai desa. Hal itu dikhawatirkan akan mematikan pasar. ''Pedagang dan pembeli dari luar daerah akan malas, karena harus memutar dan memungkinkan pasar berpindah ke daerah lain,'' kata seorang pendemo.

Kedua, rencana penutupan pasar dinilai tidak transparan karena hanya ditetapkan secara sepihak. Baik pihak desa maupun BPD dinilai otoriter, tidak berpihak pada rakyat dan pedagang.

Ketiga, Pasar Mento belum waktunya diperluas. ''Sebab kondisinya saat ini hanya ramai pada hari pasaran, yakni setiap Pon. Di luar hari pasaran, pasar sepi,'' ujar yang lain.

Tokoh masyarakat Triyono didampingi Rinto menyebutkan, menurut informasi lokasi pintu utama pasar itu dijual oleh Kepala Desa Wonoharjo, Sunaryo, ke pedagang Dadi dengan harga Rp 15 juta. Penjualan dilakukan tanpa melalui musyawarah pedagang dan masyarakat, dengan alasan uang penjualan akan dipakai untuk membangun kantor desa.

''Padahal kantor desa yang sekarang terhitung masih baru. Mengapa ada rencana membangun kantor desa?'' ujar Triyono.

Hindari Kesemrawutan

Kepala Desa Wonoharjo, Sunaryo mengatakan, sejak 2000 telah ditetapkan program pengembangan Pasar Mento. Juga disetujui perluasan pasar dengan memindahkan kantor desa, dan mengalihkan pintu utama masuk pasar ke selatan.

''Itu untuk menghindari kesemrawutan yang sekarang sering terjadi, apalagi kalau datang hari pasaran dan lebaran,'' kata Kades Sunaryo.

Untuk merealisasikan program yang telah diputuskan tersebut, ada pihak ketiga yang menyumbangkan dana Rp 15 juta dengan kompensasi dapat membangun kios di pintu pasar timur. Rencananya, pintu pasar dipindah ke selatan dan uang sumbangan Rp 15 juta tersebut dipakai untuk tambahan dana pembangunan kantor dan balai desa di lokasi baru.

''Meski pintu timur akan ditutup untuk membangun kios, sebenarnya masih diberi pintu lain selebar satu meter. Jadi tidak ditutup total,'' tuturnya.

Sunaryo membantah dirinya dikatakan otoriter dan memutuskan penutupan secara sepihak.

''Itu tidak betul. Sebab masalah tersebut sejak awal selalu dirembuk bersama melalui musyawarah dengan BPD. Tapi mengapa sekarang malah muncul unjuk rasa?'' katanya.

Selepas pemilu, Kades berjanji akan melakukan rapat bersama guna meninjau kembali keputusan yang pernah ditetapkan. (P27-49s)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA