
| Jumat, 2 April 2004 | Liputan Pemilu 2004 |
Batal Orasi, Haz Temui Dua Tokoh Solo
SOLO- Ribuan pendukung Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Solo kemarin kecewa. Sebab janji panitia untuk menghadirkan Hamzah Haz di tengah arena kampanye batal diwujudkan. Padahal pasukan pengaman presiden (paspampres) sempat melewati jalan Veteran, tidak jauh dari Alun-alun Kidul, lokasi pemusatan massa PPP Solo. "Saya sudah menunggu di sini sejak pukul 09.30. Karena Pak Hamzah mau orasi di Alun-Alun Kidul, saya bersedia menunggu hingga pukul 12.00. Tapi nyatanya nggak datang, saya benar-benar kecewa," kata Ny Maryati, salah satu kader PPP dari Kecamatan Laweyan. Semula massa dengan atribut hijau tersebut agak lega saat sirine kendaraan paspampres melewati Jalan Veteran sekitar pukul 11.00. Namun harapan para kader tersebut sirna lantaran rombongan justru menjauhi Alun-alun Kidul. Rencananya Hamzah Haz akan tampil sebagai juru kampanye (jurkam). Karena harus mengikuti rapat kenegaraan pada pukul 15.00, Hamzah harus segera bertolak ke Jakarta. Namun sebelumnya Ketua Umum DPP PPP tersebut sempat berkunjung ke kediaman tokoh Mega Bintang Mudrick M Sangidoe di Kartopuran dan ke rumah ulama Solo, KH Habib Anis, di Pasar Kliwon. Tak dijelaskan tentang pembicaraan antartokoh tersebut. Massa yang sempat menunggu selama beberapa jam akhirnya melakukan konvoi dengan sepeda motor. Politikus Busuk Sementara itu, Sukmawati Sukarnoputri menggembleng warga PNI Marhaenisme di Stadion Manahan. Dia didampingi beberapa jurkam yang juga caleg DPR RI dari Solo, seperti Lukman Sugito, Yos Malino, dan Iswahyudyo. Dalam pidato politiknya, putri Bung Karno itu mengingatkan kader PNI Marhaenisme agar tidak salah pilih saat pencoblosan 5 April mendatang. "Teliti sebelum mencoblos dan jangan keliru untuk mencoblos PNI Marhaenisme nomor urut 1," kata dia yang disambut yel-yel massa kampanye. Sukma juga mengingatkan para kader untuk tidak memilih politikus busuk yang kini berada di tengah-tengah rakyat. Mereka telah menghancurkan masa depan bangsa dengan ulah politiknya yang busuk. "Jangan pilih pemimpin yang selama ini munafik. Pilihlah yang tidak munafik, jujur, dan terus terang." Selama ini, lanjut dia, PNI Marhaenisme terus memperjuangkan dan meneruskan ajaran Bung Karno yaitu nasionalisme. "Isi jiwa Saudara-saudara dengan nasionalisme. Nasionalisme akan menjadikan saudara mempunyai jiwa yang bermartabat." Massa kampanye partai berlambang kepala banteng nyeruduk dalam segitiga itu tampak tak tahan untuk segera berkonvoi di jalan. Selama pidato Sukmawati deru knalpot tidak henti-hentinya digeber massa dari Solo dan sekitarnya itu. Mengakhiri kampanyenya, Sukmawati melepas sejumlah burung merpati ke udara. (sri,G13-83i) |