logo SUARA MERDEKA
Line
  Jumat, 2 April 2004 Liputan Pemilu 2004  
Line

Dari Biografi SBY (1)

Sedih, Harus Pensiun dari TNI Lebih Cepat

BALAI Sudirman, Jakarta, Rabu (31/3) malam menjadi saksi pertemuan empat nama yang belakangan ini disebut-sebut sebagai calon presiden. Mereka adalah Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Surya Paloh, Yusril Ihza Mahendra, dan mantan menko polkam Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Akan tetapi, kedatangan mereka ke tempat itu bukan untuk melakukan debat capres atau menjajaki koalisi, melainkan menyaksikan peluncuran buku biografi Yudhoyono berjudul SBY sang Demokrat.

Meski acara berlangsung di penghujung masa kampanye dan puluhan gadis cantik yang dipasang sebagai among tamu mengenakan kaus bergambar logo SBY yang akhir-akhir ini diusung dalam kampanye Partai Demokrat, SBY membantah acara itu merupakan ajang kampanye.

''Malam ini bukan malam untuk berbicara politik praktis. Forum ini bukan forum kampanye pemilu. Karena itu, saya ingin masuk pada wilayah yang merupakan forum persaudaraan, forum kebangsaan, forum yang bersifat sosial ataupun kolegial,'' ungka SBY yang hari itu didampingi istri, Ny Kristiani Yudhoyono, dan ibu mertua, Ny Sarwo Edhie Wibowo, serta dua anak lelakinya.

Itu sebabnya, 2.000-an tamu yang diundang berasal dari berbagai latar belakang. Ada tokoh partai seperti Alwi Shihab, AM Fatwa, Bambang Soeharto. Ada Cak Nur, Setiawan Djody, dan sejumlah artis. Tak sedikit pula kolega dari kalangan militer seperti Agum Gumelar, Wismoyo Arismunandar, Sudradjat, Syamsir Siregar, dan banyak lagi.

Secara keseluruhan acara berlangsung meriah. Para tamu undangan yang hadir menyambut antusias penerbitan buku setebal 1.003 halaman yang digarap maraton selama empat bulan sejak November 2003 oleh tim yang dipimpin Usamah Hisyam, wartawan yang mantan anggota Komisi I DPR dari PPP.

Buku bersampul foto SBY itu terbagi dalam 14 bab yang mengupas mulai dari kelahiran si tunggal semasa menempa diri di Lembah Tidar, pengabdian di bidang militer, hingga kiprahnya di pemerintahan. Pada bab lain, buku yang dilengkapi dengan puluhan foto dokumentasi itu juga bertutur tentang hal-hal yang bersifat kemanusiaan, seperti kehidupannya di tengah keluarga dan kedekatannya dengan lingkungan pesantren. Tak ketinggalan, tentara yang ternyata punya hobi nge-band dan nyanyi ini menyertakan sejumlah karya puisinya yang cukup berbobot.

Seperti umumnya biografi tokoh-tokoh besar, dengan membaca buku ini mungkin orang berharap akan menemukan cerita di balik peristiwa-peristiwa politik yang selama ini tidak diketahui publik. Hal itu memang dapat ditemukan, misalnya bagaimana suasana psikologis ketika SBY harus mundur dari kabinet karena tidak bisa mencegah menahan keinginan Presiden Gus Dur mengeluarkan dekrit. Atau, bagaimana ketegangan militer menjelang kejatuhan Soeharto yang membuat pria kelahiran Pacitan itu sampai harus menyembunyikan keluarganya di Mabes ABRI karena menghadapi isu adanya rencana penculikan.

Sayang, buku biografi itu tak sempat mengungkap cerita di balik pengunduran diri SBY dari jabatan menko polkam, menyusul perseteruannya dengan Presiden Megawati Soekarnoputri dan suaminya, Taufik Kiemas. Entah karena waktunya terlalu mepet, beritanya sudah gamblang diungkap media massa, atau karena kasus terbaru ini terlalu sensitif untuk diangkat terkait dengan upayanya maju ke tangga RI-1.

Buku ini mengisahkan, 1999 merupakan tahun pahit dalam perjalanan hidup seorang SBY. Bagaimana tidak? Sejak menyelesaikan Akademi Militer sebagai lulusan terbaik, karier SBY di bidang militer terus meroket. Pria kelahiran 9 September 1949 itu tercatat sebagai jenderal berbintang tiga tercepat dan merupakan jenderal pertama dari angkatan 1973. Wajar saja jika SBY yang ketika itu menjabat Kaster TNI dengan menyandang bintang tiga, sangat berharap kelak bisa mengakhiri kariernya di dunia militer pada jenjang yang lebih tinggi. Apalagi usianya masih sangat muda, barus 50 tahun.

Akan tetapi betapa terpukul SBY, ketika tiba-tiba dia mendengar kabar dari Panglima TNI Jenderal Wiranto, bahwa Gus Dur yang saat itu baru saja terpilih sebagai Presiden RI memintanya masuk ke dalam kabinet. Apalagi posisi yang ditawarkan jauh dari dunianya, sebagai mentamben.

''Dalam perjalanan hidup saya, inilah berita kedua yang membuat saya terpukul sekali. Pertama, ketika sebagai anak tunggal saya harus menghadapi realitas perceraian orang tua saya pada saat saya masih duduk di sekolah menengah. Dan kedua, pada saat Presiden Abdurrahman Wahid meminta saya menjadi menteri,'' paparnya.

Dengan penugasan tersebut, semua peluangnya untuk mengabdikan diri pada TNI secara paripurna hingga masa pensiun hilang sepenuhnya. Sebab, sesuai dengan reformasi internal TNI, yang dia sendiri penyusunnya, setiap perwira yang ditugaskan pada struktur pemerintahan harus pensiun.

''Dengan menjadi menteri, berarti saya harus pensiun lima tahun lebih cepat. Dengan berat hati saya harus meninggalkan TNI. Inilah yang membuat saya sedih, karena saya tidak bisa berbuat lebih banyak untuk TNI-AD dan juga TNI secara keseluruhan.''

Mantan menhankam/pangab Jenderal Feisal Tanjung yang pernah menjadi atasan dan tahu betul potensi SBY ikut prihatin dengan nasib yang diterima juniornya itu. ''Saya sangat menyesalkan, SBY tidak diangkat menjadi KSAD dan tidak diberi kesempatan menjadi Panglima TNI. Seharusnya dia lebih pantas dan sangat pantas menyandang pangkat jenderal bintang empat pada saat diangkat menjadi KSAD. Sebab, kalau berdasarkan proyeksi pimpinan ABRI waktu itu, dia seharusnya diberi kesempatan menduduki jabatan itu. Dia perwira tinggi terbaik dari yang baik pada generasinya,'' ungkap Feisal. (Fauzan Jayadi-74j)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA