
| Jumat, 2 April 2004 | Liputan Pemilu 2004 |
Partai Masih Tampilkan Simbol SelebritiSEMARANG- Kampanye Pemilu 2004 tidak memberikan pendidikan politik kepada masyarakat. Partai politik masih berlomba menampilkan simbol-simbol selebriti dalam penetapan caleg ataupun bentuk kampanye yang mereka lakukan. Pernyataan itu disampaikan mantan Ketua BEM Fakultas Hukum Undip Dirgantara Putra selaku pembahas dalam "Dialog Pemilu Damai" yang diselenggarakan UKM Kelompok Diskusi dan Kelas Sosial Fakultas Hukum Undip di depan gedung perpustakaan kampus tersebut, Kamis (1/4). Banyak caleg dipilih bukan dengan pertimbangan kapabilitas melainkan dari sisi popularitas. Alhasil, pada pemilu kali ini muncul fenomena caleg artis. Mereka memanfaatkan popularitasnya untuk tujuan politis. Sementara itu, kampanye yang ditonjolkan adalah jenis kampanye massa. Kampanye semacam ini tidak mendidik masyarakat. "Kampanye tidak memberikan sesuatu yang bermakna kepada masyarakat. Mereka hanya disuguhi aneka hiburan seperti dangdut atau campursari. Itu adalah bentuk pembodohan politik," ujar dia. Muchamad Yuliyanto, pembahas lainnya, menilai partai-partai tidak peka terhadap permasalahan riil yang dihadapi masyarakat. Apa yang mereka ucapkan masih sekadar retorika belaka. Demikian halnya dengan program-program yang mereka susun, dalam pandangan staf pengajar FISIP Undip tersebut, cenderung muluk-muluk dan sangat mungkin mereka sendiri tidak tahu cara mewujudkannya. "Di tengah para juru kampanye (jurkam) meneriakkan janji-janji perbaikan ekonomi, rakyat tercekik oleh kenaikan harga BBM, petani menjerit karena harga gabah anjlok. Lantas apa yang mereka lakukan? Tidak ada dan ini adalah ironi," tandas dia. Secara umum, acara yang sebenarnya dimaksudkan membuka wacana partai politik untuk menciptakan pemilu yang damai, berubah menjadi ajang kampanye. Para panelis yang berasal dari Partai Golkar, PKS, dan PKB justru memanfaatkan kesempatan itu untuk menyampaikan platform dan fisi misi partai masing-masing. Sutrimo yang mewakili PKB misalnya, menyampaikan platform partainya sebagai partai yang demokratis tanpa korupsi, memperjuangkan pemerataan pendidikan, serta memakmurkan rakyat dengan pemerataan hasil sumber daya alam. Demikian pula yang terjadi dalam sesi dialog, para peserta yang kebanyakan mahasiswa tersebut juga terjebak dalam pertanyaan-pertanyaan yang mengarah ke sana.(roe-83j) |