logo SUARA MERDEKA
Line
  Jumat, 26 Maret 2004 Tajuk Rencana  
Line

Tak Muncul Isu-isu Baru dalam Kampanye

- Sampai dengan minggu kedua dan menjelang minggu ketiga kampanye, suasana masih tetap kurang menunjukkan gereget. Antusiasme massa terasa agak beda dibandingkan dengan Pemilu 1999 atau pemilu pertama pada era reformasi. Ditambah lagi, tidak muncul isu-isu baru yang diusung di atas panggung kampanye baik yang terbuka maupun tertutup, yakni lewat kampanye dialogis di kampus-kampus. Agak menjemukan jadinya, ketika para juru kampanye masih berbicara di sekitar janji-janji memberantas KKN, membela nasib wong cilik, sampai menyediakan pendidikan murah dan menciptakan lapangan kerja. Itu adalah persoalan lama. Masyarakat makin kritis dan tidak lagi termakan oleh janji-janji yang dilontarkan, sementara visi dan misi partai politik rata-rata hampir sama.

- Kita merasakan kesiapan partai-partai politik kurang, sedangkan masyarakat juga sudah tidak terlalu berharap banyak dari mereka. Inilah yang mengakibatkan kampanye pemilu kali ini agak kehilangan gereget. Isu memberantas KKN tampak menjadi tema sentral dari beberapa partai. Dari segi konteks, sebenarnya ini termasuk yang paling laku dijual. Mengapa? Pemerintahan sekarang dinilai belum terlalu berani dan konsisten memberantas KKN terutama melalui upaya hukum. Akan tetapi, masalah ini sekaligus menjadi tidak istimewa karena semua memasukkannya sebagai program. Sekadar program tanpa ada gambaran bagaimana melakukannya nanti. Terhadap partai-partai besar yang sudah lama berkuasa, masyarakat sulit percaya. Adapun partai-partai baru dianggap belum terlalu menjanjikan.

- Bagaimana track record yang dimiliki menjadi penting. Beberapa pimpinan partai atau calon presiden memakai ini untuk ''mengangkat'' dirinya dan sekaligus memojokkan lawan politiknya. Kriteria bersih dari KKN menjadi tolok ukur moralitas dan integritas. Bisa jadi pilihan terhadap partai atau kelak calon presiden lebih didasarkan atas hal itu. Terus terang agak sulit untuk membuktikan mana yang pernah KKN dan yang tidak karena tidak banyak kasus KKN yang benar-benar diproses di pengadilan kecuali kasus yang menimpa Ketua Umum Partai Golkar Akbar Tanjung. Sementara itu, pada sisi lain sudah muncul sikap skeptis di masyarakat. Apakah benar yang sekarang relatif bersih akan selamanya bersih, atau karena belum memperoleh kesempatan saja.

- Isu pemulihan ekonomi tak banyak diungkap para juru kampanye. Maklumlah, sekarang justru situasinya semakin membaik dan stabil sehingga kalau masalah ini dijadikan bahan kampanye menjadi kurang relevan. Lain halnya bagi partai yang sedang berkuasa, masalah kestabilan ekonomi akan menjadi bahan kampanye dengan menunjukkan hasil-hasil yang telah dicapai. Adapun isu lama yang cukup laku untuk dijadikan bahan kampanye adalah janji-janji untuk menyediakan pendidikan murah. Padahal kita tahu, kendati sudah ditetapkan oleh konstitusi, paling sedikit 20% anggaran pemerintah harus dialokasikan bagi sektor itu, dalam praktiknya tidak mudah dilaksanakan. Sementara itu, kecenderungan dunia pendidikan menjadi sebuah industri yang cenderung mahal.

- Seperti biasa, selain tak ada isu-isu baru, pengungkapan masalahnya pun hanya normatif. Wajar bila masyarakat pun makin tak tertarik dengan hal itu. Terbukti, selama ini janji-janji itu tak dipenuhi. Anggota legislatif baik di DPR maupun DPRD provinsi, DPRD kota/kabupaten justru yang lebih banyak diduga ber-KKN ria. Mengapa dari dahulu pola dan cara kampanye seperti itu? Jadi, pada era reformasi ini belum banyak yang berubah. Bukan saja tidak muncul isu-isu baru tetapi juga cara yang dilakukan cenderung monoton. Apalagi sekarang mendatangkan massa makin sulit. Tidak cukup menyedot massa dengan menyajikan pentas penyanyi-penyanyi dangdut ternama. Sekarang perlu ditambah dengan door prize yang menarik dan uang transpor.

- Jujur saja, soal substansi atau materi kampanye kurang dianggap serius baik oleh para juru kampanye maupun masyarakat. Orang berpikir, semua sebenarnya sudah tahu apa masalahnya, tetapi persoalannya apakah mereka mampu dan mau mengatasinya. Pada sisi lain semua makin mengerti, banyak masalah yang tak mungkin diselesaikan dalam waktu pendek seperti membalikkan telapak tangan. Karena itu, yang terlalu mengumbar janji justru tidak dipercaya. Dalam hal inilah, selain kedekatan ideologi dan pertimbangan primordial, soal-soal yang menyangkut moral dan integritas menjadi sesuatu yang penting. Dan untuk itu, layak dikedepankan dalam kampanye. Kita tak bisa berharap, dalam seminggu terakhir akan ada perbedaan. Pasti masih akan seperti itu-itu juga.


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA