
| Jumat, 26 Maret 2004 | Surat Pembaca |
Tentang Mega Center
Tulisan saya di Surat Pembaca tanggal 22 Maret 2004 tentang barang expayed mendapat tanggapan positif Mega Center dan menyelesaikannya secara kekeluargaan. Saya informasikan bagi pembaca dan pelanggan bahwa kasus tersebut sudah clear dan penjelasan dari pihak Mega Center juga sudah bisa saya terima. Mudah-mudahan kesalahpahaman ini tidak terjadi lagi. Sutiyono
*** Jawaban RS Dr Kariadi
Menanggapi Surat Pembaca 26 Februari 2004, kami ucapkan terima kasih atas perhatian dan masukan serta saran-sarannya. Memang saat ini RS Dr Kariadi sedang dalam pembenahan seperti pembangunan gedung yang megah dengan areal parkir luas. Peralatan yang dimiliki banyak yang baru dan serba canggih. Sebenarnya sejak 2002 kami tidak hanya membangun fisik saja, tetapi juga peningkatan ilmu dan keterampilan SDM dengan mengadakan pelatihan/workshop antara lain pelatihan pemeriksaan fisik head to toe, pelatihan bantuan hidup dasar basic life support. Juga pelatihan stimulasi listrik, diagnostik dan terapeutik pada kasus neurmuskuler dan muskoloskeletal, serta pelatihan teknik pelayanan obat baik untuk para tenaga internal maupun tenaga kesehatan dari luar RSDK. Selain itu juga menyelenggarakan pelatihan peningkatan sikap/perilaku SDM, antara lain service excellent, customer service, pemasaran dan budaya kerja. Untuk tahun 2004 direncanakan diadakan 28 jenis pelatihan inservice training antara lain : Customer service bagi petugas pelayanan di RSDK, managemen keperawatan dan pengembangan mutu pelayanan. Itu semua dalam upaya meningkatkan mutu dan cakupan pelayanan yang lebih baik serta kepuasan pelanggan. Dr Gatot Suharto MKes
*** Preman atau Centeng
Alkisah zaman penjajahan dulu, komunitas preman sangat dibanggakan rakyat. Bahkan konon ceritanya si Pitung pendekar Betawi yang tersohor, juga seorang preman. Di Medan, preman (vrije man) yang melindungi masyarakat dari tindakan sewenang-wenang kaki tangan penjajah. Vrije man ini juga sering muncul sebagai pembela para buruh kontrak asal Jawa, China dan India yang disiksa para centeng atas suruhan tuan kebon. Pada gilirannya semua warga yang mendapat kesulitan dari suruhan Belanda, sering mendapat perlindungan dari para vrije man. Yang namanya mencuri, merampok dan jenis lain kejahatan, haram bagi preman. Lalu bagaimana cara mereka menghidupi dirinya? "Banyak cara terhormat, yang penting preman itu bukan bandit", tandas HMY Effendy Nasution (70), tokoh preman Medan. Di komik bacaan, kaki tangan penjajah digambarkan sebagai orang yang kerjanya mentang-mentang, mabuk-mabukan, berjudi, malas-memeras, main wanita, madat, maling. Kalau berantem tidak ksatria (keroyokan, membokong) dan banyak perilaku pengecut lainnya. Mereka dijuluki sebagai centeng. Centeng dan penjajah digambarkan sebagai ikan dan air, saling membutuhkan, melengkapi dan menghidupi. Kita bandingkan dengan kondisi sekarang. Pemilu digembar-gemborkan sebagai pesta rakyat, kenyataannya setiap pemilu masyarakat tidak merasa nyaman. Waswas. Ini gambaran yang paling tepat mewakili perasaan kebanyakan orang. Kalau komunitas sopir, pedagang tidak bisa menikmati pesta, terus rakyat mana yang berpesta.Orang awam banyak berpendapat, pemilu plus ritual kampanye lebih tepat dikatakan sebagai pestanya para pejabat dan preman. Muspida DKI awal tahun 2001 pernah mengeluarkan Operasi Pemberantasan Preman api sebaliknya, Pemkot Semarang justru mengajak preman jaga keamanan (Preman akan diajak menjaga keamanan, Suara Merdeka 25 Februari 2004). Apa ada perbedaan perilaku antara preman ibu kota dan preman Semarang, sehingga perlakuan aparat di kedua kota ini berbeda? Mari kita cermati, perilaku mereka yang diberi gelar preman itu, apakah seperti si Pitung atau seperti centeng? Dengan dalih pengangguran, mereka memalak para TKW, pedagang hingga sopir angkot. Kampanye pemilu, saatnya mereka berpesta order, berhura-hura dengan abaikan ketertiban dan ketenteraman umum untuk kepentingan para pejabat. Kenapa rakyat yang menanggung kemalasan mereka. Rakyat sudah bayar retribusi hingga pajak, tapi masih dipalak dan hak asasinya untuk tenteram masih diusik. Kalau mengingat perilakunya banyak meresahkan masyarakat, layakkah gelar preman diberikan kepada mereka. Tampaknya masyarakat perlu lebih jeli terhadap julukan yang diberikan oleh para pejabat. Karena mereka bisa diberi label dari preman, ke Ratih (rakyat terlatih) sampai Pamswakarsa plus senjata bambu runcing agar kelihatan patriotik-heroik. Walau bukannya membuat masyarakan aman tetapi malah muak. Sikap heroik-patriotik vrije man Medan masa itu, bukan karena atribut bambu runcingnya, tetapi karena keberaniannya berpihak kepada rakyat melawan penindasan dan perilaku sewenang-wenang penjajah. Masyarakat sebaiknya tidak ikut menyosialisasikan istilah yang salah kaprah karena banyak pejabat yang melupakan dan bahkan tidak paham sejarah. Dengan modal monopoli interpretasi dan jago orasi, sering tampil sebagai yang paling pintar sehigga rakyat sering dibuat bingung karena disinformasi. Melihat perilaku yang meresahkan rakyat apalagi jadi alat pejabat untuk menakuti rakyat, mereka seharusnya kategori centeng. Semoga bukan karena ada koalisi mengelabui rakyat, centeng diberi gelar preman. Right or wrong Indonesia is my country tidak berarti para pejabat boleh melakukan cara yang tidak semestinya. Kita sudah merdeka lebih dari setengah abad tidak layak menggunakan cara penjajah yang membudidayakan perilaku centeng. Purnomo Iman Santoso *** Soal Lurah Sampangan
Saya melakukan klarifikasi atas tulisan di Surat Pembaca 23 Maret 2004 yang menyatakan antara lain: - Urusan surat nikah, surat pindah, KTP dan KK dengan total biaya sebesar Rp 1.500.000. Itu tidak benar dan tidak pernah ada. - Semua staf/pegawai Kelurahan Sampangan Semarang tidak pernah menerima dan melayani permohonan surat-surat dari Sdr Ari Susanto yang ditulis sekitar bulan November 2003 sampai saat ini pun tidak pernah ada permohonan. - Tanggal 23 Maret 2004 Lurah Sampangan memanggil Sdr Ari Susanto dan datang pada hari Rabu pukul 09.00 WIB. Yang bersangkutan menyatakan dirinya tidak pernah membuat/mengirim naskah tersebut (surat pernyataan terlampir). - Saya mohon ketulusan hati serta jiwa besar bagi yang membuat dan atau mengirim Surat Pembaca berjudul "Lurah Sampangan" berkenan mengakui, menghubungi dan syukur mau datang ke kantor secara kekeluargaan tanpa bermaksud ikut mengintervensi urusan pribadi/keluarga penulis dengan Sdr Ari Susanto. - Mengingat pihak kami secara administrasi, psikologis dan moral dirugikan mohon kiranya pihak terkait lebih berhati-hati dan selektif menerima surat dari publik.
Suriyo Burham S.Sos
- Setiap Surat Pembaca yang termuat selalu selektif dan dalam penelitian kami. Tanda tangan penulis dan di fotokopi KTP atas nama Sdr Ari Susanto terlihat sama. (Red) |