logo SUARA MERDEKA
Line
  Jumat, 26 Maret 2004 Sala  
Line

Kampanye PDI-P Menuai Kecaman

  • Colek Dada hingga Polusi Udara

KOTA - Kampanye PDI-P yang digelar di Solo, Rabu (24/3), menuai kecaman dari pemantau pemilu. Mulai Forum Rektor, HMI, KIPP, Pemuda Katolik, Masyarakat Peduli Solo, hingga beberapa pemantau pemilu lain di Solo melontarkan kritik tajam atas kampanye massa banteng bermoncong putih itu.

Mereka memperoleh banyak data pelanggaran dan penyimpangan selama kampanye putaran pertama sampai ketiga.

"Banyak kasus pelecehan seksual yang dilakukan kader parpol itu, tidak hanya terjadi pada kader PKS, tetapi juga anak sekolah, dan masyarakat yang berpapasan. Ini sangat memprihatinkan," kata Ketua Pemuda Katolik Ferryanto.

Dalam evaluasi pelaksanaan kampanye yang digelar Polresta, KPU, Panwas Pemilu, dan dihadiri wakil parpol, MUI dan unsur masyarakat lain di RM Golden, Rabu malam, Ferryanto mengaku menyaksikan rombongan kader PDI-P mencolek dada salah seorang siswi SMA yang baru pulang, di depan Makorem Surakarta. Di Keprabon, lanjut dia, massa yang akan berangkat kampanye mencolek beberapa warga sekitar.

Hal senada dikemukakan Henny dari HMI. Dia menyayangkan perilaku kader PDI-P saat kampanye. "Di depan kantor HMI yang notabene organisasi mahasiswa bernafaskan agama, mereka dengan sengaja memamerkan minuman keras kepada beberapa mahasiswa. Apa maunya, kalau bukan sengaja melecehkan," dalihnya.

Tim pemantau HMI mendapati fakta, sebelum berangkat kampanye ada kesengajaan para kader parpol itu minum minuman keras. "Mungkin itu sudah menjadi kebiasaan mereka atau agar muncul keberanian saat kampanye," kata perempuan berkerudung itu.

Libur Sekolah

Sedangkan wakil dari KIPP, menyatakan keprihatinannya atas dipercepatnya kepulangan siswa di beberapa sekolah, karena pertimbangan agar tidak berpapasan dengan massa kampaye PDI-P. Beberapa sekolah memang memulangkan murid sekitar jam 10.00, dengan alasan takut tidak memperoleh angkutan yang mungkin tidak beroperasi karena terhalang kampanye.

"Ini tragedi nasional. Sebab kampanye parpol lain tidak sampai mengakibatkan hal itu. Kalau sudah seperti ini, bagaimana kita akan memberikan gambaran yang baik kepada calon generasi penerus, wong kampanye parpol itu berkesan menakutkan," kata Ibnu Kurniawan.

Belum lagi soal knalpot yang dibuka sehingga mengganggu masyarakat. "Mungkin suatu saat kita akan menerima akibatnya, karena efek polusi udara dari knalpot yang dibuang dan selama sehari penuh mereka berputar-putar, memekakkan telinga," tambah Henny.

Para pemantau pemilu itu juga menyesalkan parpol yang melakukan pembodohan dengan mengajak masyarakat sekadar mencoblos tanda gambar partai, bukan calegnya. "Kita ini mau mengubah model pemilu lalu, tetapi ternyata parpol malah melakukan pembodohan secara sistematis."

Karena itu, para pemantau pemilu mengusulkan agar kampanye seperti itu benar-benar dikendalikan dan bila perlu ditiadakan. Polisi harus memberikan sanksi tegas kepada massa yang melanggar lalu lintas.

"Akan sangat indah, kalau nanti kampanye dilakukan bersama, seperti saat pertama dulu. Tentu saja tanpa kendaraan bermotor, agar terlihat rukun dan damai. Sekaligus, digunakan untuk meminta maaf masyarakat karena kampanye sebelumnya sudah membuat masyarakat terganggu.(an,G11-86e)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA