
| Jumat, 26 Maret 2004 | Liputan Pemilu 2004 |
Masuk Buletin Politikus BusukYOGYAKARTA- Gerakan Nasional Tidak Pilih Politikus Busuk kemarin (24/3/2004) menerbitkan edisi perdana buletin Sosok. Di antara sejumlah nama politikus di DIY yang dicantumkan, salah satunya adalah nama calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) provinsi DIY, Gusti Kangjeng Ratu (GKR) Hemas. Buletin itu juga memuat 18 nama politikus lain yang dianggap pernah punya masalah. ''Kami sengaja menerbitkan koran ini untuk mengingatkan masyarakat tentang politikus yang pernah bermasalah,'' ujar seorang aktifis gerakan itu, Tri Wahyu KH dari Forum LSM DIY. Oleh sebab itu, pada koran empat halaman itu tidak ada pernyataan bahwa sejumlah nama yang dicantumkan adalah politikus busuk. Mereka siap digugat oleh orang-orang yang namanya dicantumkan pada koran itu. Penyebutan nama permaisuri raja keraton Yogyakarta Hadiningrat pada tulisan di halaman tiga buletin itu dijelaskan oleh aktifis LSM Rumpun Tjoet Nyak Dien Yogyakarta, Damairia Pakpahan. Pada tulisan dengan bloking hitam pekat berdasarkan olahan dari dua buah koran terbitan Jakarta dan Yogyakarta itu disebutkan GKR Hemas melakukan koalisi kampanye dengan seorang calon anggota legislatif (caleg) Partai Golkar pada tanggal 12/3/2004 lalu. Oleh sebab itu seperti pada tulisan berjudul ''Dan Sang Ratu pun Kena Semprit'', GKR Hemas kena semprit oleh KPU DIY. Pemuatan nama GKR Hemas itu langsung mendapat reaksi oleh dua orang anggota tim sukses calon anggota DPD DIY dengan nomor 12 tersebut. Menurut Tarko Sudiono, pihaknya sempat kaget ketika nama GKR Hemas dikatakan kena semprit oleh sebuah koran terbitan Jakarta. Karena ketika itu (edisi 16/3/2004) kubu sang Ratu belum atau tidak pernah menerima surat peringatan dari KPU. Yang lebih penting lagi, kata Tarko, tanggal 12/3/2003 GKR memiliki jadwal dan kampanye di kabupaten Kulonprogo. ''Jadi Bu Ratu tidak pernah kampanye dengan Pak Syaiful Mujab (caleg PG).'' Karena itu, dia menyayangkan sikap KPU DIY yang mengeluarkan pernyataan kepada wartawan tanpa mengecek ke lapangan. ''Kalau memang tidak benar, silakan tim sukses mengirim sanggahan ke koran yang bersangkutan agar bisa kami muat juga di koran Sosok. Namun kami juga mempunyai bukti adanya surat berkop PKK itu,'' ujar Damai Pakpahan. (P58-83) |