logo SUARA MERDEKA
Line
  Jumat, 26 Maret 2004 Semarang & Sekitarnya  
Line

Jalur KA Tak Berfungsi Sejak 1986

JALUR kereta api (KA) Semarang - Demak yang kini mangkrak, ternyata sudah tidak berfungsi sejak tahun 1986. Penghentian operasional saat itu dilakukan karena tidak mampu bersaing dengan moda transportasi lain yang makin berkembang.

Sariman, seorang karyawan PT KA menuturkan, jalur yang dibuat pada zaman penjajahan Belanda itu semula digunakan untuk angkutan barang. Namun sekitar tahun 1980-an mulai beralih ke transportasi penumpang. Rute yang dilalui, mulai dari Stasiun Kemijen- Genuk-Demak-Kudus-Rembang.

Saat jalur itu masih digunakan, PT KA menggunakan gerbong dari kayu dengan kecepatan maksimal 60 km/ jam. Bahkan tempat duduk penumpang di gerbong itu juga menggunakan kayu. ''Lambat memang, tapi asyik naik kereta itu,'' kata dia.

Stasiun Genuk, walaupun tidak berfungsi bangunannya saat ini masih ada. Stasiun itu dilengkapi tandon air untuk mengisi lokomotif pada era kereta api uap. Stasiun yang terletak di sebelah timur Polsek Genuk dan digunakan untuk bengkel sepeda motor.

Saat masih digunakan, stasiun itu hanya merupakan pemberhentian sementara, ibarat halte bus. Sementara stasiun Kemijen di dekat Pelabuhan Tanjung Emas, merupakan stasiun pertama di Semarang. Sayang, kini bekas-bekas stasiun itu tidak nampak lagi.

Dulu dari stasiun itu penumpang bisa melanjutkan perjalanan ke Tawang atau ke Stasiun Djoernatan.

Stasiun yang terletak di sebelah bundaran Bubakan itu, merupakan stasiun kereta perkotaan. Jalur yang dilayani, antara lain sampai ke Stasiun Jomblang yang saat ini menjadi gedung bekas bioskop Metro. Selain jalur tersebut, dari Stasiun Djoernatan penumpang bisa naik kereta ke arah barat sampai ke stasiun yang saat ini menjadi Lembaga Pemasyarakatan (LP) Wanita di ujung barat Jalan Sugijapranata.

''Stasiun Djoernatan berubah fungsi jadi terminal sekitar tahun 1975,'' kata dia.

Dia mengemukakan, pada saat masih berfungsi jalur Semarang-Demak selalu penuh penumpang. Hal itu mungkin karena tarifnya yang murah, yakni sekitar Rp 2.000 - Rp 3.000 per orang.

Uniknya, kerata pasar tersebut masih menggunakan rem tangan dengan cara memutar tuas. Rem tersebut bukan hanya pada bagian lokomotif, tetapi juga gerbong-gerbongnya yang harus dilakukan bersama-sama. (G6-45)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA