logo SUARA MERDEKA
Line
  Jumat, 26 Maret 2004 Semarang & Sekitarnya  
Line

Mengoperasikan Kembali Butuh Rp 40 M

SEMARANG- Kepala Hubungan Masyarakat PT Kereta Api Daop IV Suprapto menyatakan belum berencana mengoperasikan kembali jalur Semarang-Demak. Kalau toh diperbaiki dan dibuka kembali, jalur tersebut mengandung banyak risiko.

''Dari sisi transportasi, menghidupkan lagi Jalur KA Semarang-Demak lewat Kaligawe cukup menguntungkan. Mengingat, kereta api memiliki beberapa keungulan, antara lain daya angkut besar.''

Dia menggambarkan daya angkut satu gerbong penumpang bisa 100 tempat duduk. Itu berarti sebuah gerbong memiliki kapasitas dua kali bus besar. Padahal, sekali perjalanan di jalur itu sebuah lokomotif bisa menarik lima-delapan gerbong sekaligus atau sebanding dengan 18 unit bus.

Namun karena kondisi Jalan Raya Kaligawe seperti sekarang, pengoperasian kembali jalur KA Semarang-Demak memiliki berbagai risiko, terutama berkait dengan pengguna jalan lain. Bagaimanapun jarak Jalan Raya Kaligawe dan rel KA sangat dekat.

''Namun tak masalah jika ada yang mau membangunkan jalur kereta layang sepanjang 40 km,'' kata dia. Dengan kereta layang, perjalanan Semarang-Demak cukup ditempuh sekitar 20 m dan kepadatan Jalan Kaligawe banyak berkurang.

Masalah lain jika jalur itu difungsikan lagi adalah kondisi jalur yang saat ini sudah tidak bisa digunakan. Di sebagian jalur seperti di depan Unissula, kepala rel masih tampak. Namun banyak bagian lain sudah tertimbun dan beberapa jembatan sudah dicopot.

Sudah Ditutup

Bahkan di perbatasan Demak, jalur KA sudah tertutup aspal akibat pelebaran Jalan Kaligawe. Selain itu ketika masuk wilayah Demak, beberapa bagian di atas jalur KA itu sudah tertutup rumah penduduk.

''Kalau ingin digunakan lagi jalur tersebut memang harus dibangun ulang dan itu membutuhkan dana besar,'' ujar Suprapto.

Dia memberikan gambaran perlu investasi Rp 1 miliar hanya untuk membangun jalur sepanjang lebih kurang 1 km. Jika jarak sekitar 40 km, setidaknya butuh dana Rp 40 miliar. Itu belum termasuk pembuatan jembatan, pengadaan sarana pendukung seperti persinyalan, stasiun, wesel, dan pengadaan kereta api.

Sepanjang jalur KA itu, kata dia, masih merupakan aset negara yang dikelola PT KA. Perusahaan itu memiliki kelompok kerja untuk mengamankan aset tersebut. ''Namun kami tak mungkin menjaga rel sepanjang itu. Namun kami memiliki dokumen lengkap tetap kepemilikan aset negara itu,'' kata dia. (G6-84g)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA