
| Jumat, 26 Maret 2004 | Internasional |
Tingkat Bunuh Diri Serdadu AS di Irak di Atas Rata-rata
WASHINGTON - Kasus bunuh diri di kalangan serdadu AS di Irak, jauh melebihi angka rata-rata di tubuh US Army (AD AS). Dan para pakar yakin, lebih banyak spesialis kesehatan jiwa perlu dikirim ke Irak. Namun para pakar itu mengatakan Kamis kemarin, Tim Penasihat Kesehatan Jiwa US Army yang terdiri atas 12 orang, meliputi psikiater, psikolog, pekerja sosial, dan pakar stres, tidak menganggap angka bunuh diri di Irak itu sudah dalam fase krisis. "Berdasarkan temuan di lapangan di Irak, kasus bunuh diri serdadu Amerika di sana belum termasuk dalam kategori mewabah," kata seorang pejabat tinggi US Army, yang membahas laporan tersebut sehari sebelum disiarkan. US Army melaporkan, puluhan GI - julukan serdadu AS - telah melakukan bunuh diri di Irak dan Kuwait. Tetapi, sejak lima serdadu bunuh diri pada Juli lalu, angka rata-ratanya sekarang sekitar dua kasus per bulan. Dari 1995 sampai 2002, US Army melaporkan angka bunuh diri rata-rata di lingkungannya tercatat 11,9 per 100.000 serdadu. Khusus di Irak, rata-rata 17,3 per 100.000 pada 2003. Menurut para pejabat, angka rata-rata bunuh diri secara keseluruhan di dalam tubuh US Army adalah 12,8 per 100.000 pada 2003 lalu. "Statistik US Army sedikit lebih tinggi daripada tahun lalu," kata mereka. Namun, angka tersebut masih lebih rendah daripada rata-rata nasional untuk kategori kelompok usia yang sama, yakni 18 sampai 30 tahun. Kelompok tersebut merupakan kelompok terbesar populasi AS. Itulah sebabnya, angka bunuh diri di kalangan personel Angkatan Darat AS tersebut dapat disebutkan "belum menunjukkan keadaan krisis". Amerika menempatkan sekitar 120.000 tentara di Irak, sebagian besar berasal dari AD. Penyebab Stres Tim Penasihat Kesehatan Jiwa US Army merekomendasikan agar pemimpin AD AS menempatkan lebih banyak petugas kesehatan jiwa di Irak dan Kuwait. Tujuannya adalah memberikan bantuan, bila masih mungkin, untuk mencegah lebih banyak bunuh diri. Selain itu, tim tersebut juga mendesak agar US Army menggunakan "sistem pertemanan" untuk menekankan arti penting para serdadu agar selalu saling mengawasi, guna mendapatkan tanda-tanda adanya suatu masalah. Tim tersebut, yang dikirim oleh pemimpin US Army pada Agustus lalu, kembali ke AS pada Oktober 2003 setelah mewawancarai hampir 760 GI (government issue). Tim itu mengidentifikasi beberapa penyebab stres. Antara lain, ketidakpastian tentang berapa lama para serdadu akan bertugas di Irak, perubahan drastis dari perang aktif menjadi pasukan pendudukan, cuaca sangat panas, dan merasa hanya ada sedikit dukungan dari US Army.(rtr-ben-30) |