logo SUARA MERDEKA
Line
  Jumat, 26 Maret 2004 Internasional  
Line

Cari Muka Dunia Barat, Libia Kecam Al Qaedah

TRIPOLI - Libia menyebut Al Qaedah sebagai "hambatan nyata untuk maju", ketika PM Inggris Tony Blair melakukan kunjungan bersejarah ke Tripoli guna menemui Muammar Gaddafi, Kamis kemarin.

"Kita punya aliansi untuk melawan ge-rakan ini," kata Menlu Libia Mohamed Abderrhmane Chalgam kepada para wartawan Inggris yang ikut bersama Blair, tanpa memberi keterangan lebih terperinci.

"Bagi kami, mereka adalah hambatan nyata terhadap kemajuan, keamanan, kaum perempuan, dan perubahan apa pun di wilayah kami," tambahnya.

Para pakar mengatakan, Pemimpin Libia Muammar Gaddafi tidak terlibat dalam serangan teror besar beberapa tahun terakhir, dan mungkin tidak pernah punya kaitan dengan jaringan Al Qaedah.

Tetapi, ucapan Menlu Chalgam yang bernada "menjilat", pasti diterima baik oleh Washington dan London pada saat kedua negara itu sedang gencar-gencarnya mengobarkan "perang melawan terorisme".

Blair mengatakan, Libia harus diantarkan kembali memasuki lingkungan internasional, lantaran telah memusnahkan program senjata pembunuh massalnya (nuklir, kimia, kuman, dan rudal balistik).

Selain itu, Tripoli juga telah membayar kompensasi bagi para sanak keluarga korban pengeboman pesawat Boeing 747 Pan Am di wilayah udara Lockerbie, Skotlandia, pada 1988 yang menewaskan 270 orang.

Seorang agen mata-mata Libia yang oleh Inggris dituding sebagai pelaku pengeboman itu, saat ini sedang menjalani hukuman setelah diputus bersalah oleh pengadilan Skotlandia yang bersidang di negara netral, Belanda.

Inggris Untung

Pada lawatan pertama ke Libia oleh seorang pemimpin Inggris sejak 1943, PM Blair kemarin disambut hangat di tenda perayaan di luar kota Tripoli, saat dia menemui Gaddafi.

Keduanya berjabatan tangan selama lima detik di depan para wartawan foto dan juru kamera televisi. Mereka mengadakan pembicaran pribadi sekitar 90 menit.

Keuntungan di pihak Inggris dari pencairan hubungan diplomatik itu sudah terlihat, bahkan sebelum Blair tiba. Seorang pejabat mengatakan, perusahaan minyak raksasa Inggris-Belanda, Royal Dutch/Shell, memenangi tender ekplorasi gas senilai 200 juta dolar AS di Libia. (rtr-ben-30)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA