
| Jumat, 26 Maret 2004 | Internasional |
FOKUSKredibilitas Presiden AS pun DipertaruhkanWASHINGTON - Mulai saat Richard Clarke duduk di kursi saksi, kredibilitasnya sedang diadili, dan putusan pengadilan itu mungkin sangat memengaruhi prospeks terpilihnya kembali Presiden Bush. "Kepada mereka yang berada di ruang ini, mereka yang menyaksikan televisi, pemerintah kalian telah melalaikan kalian," kata pejabat tinggi kontraterorisme bagi Presiden Bill Clinton dan Bush itu kepada keluarga korban aksi kamikaze 11 September 2001. "Orang-orang yang dipercaya bisa melindungi kalian telah melalaikan kalian, begitu juga dengan saya." Namun sorotan merendahkan itu memberi jalan bagi kesaksian yang memberatkan. Kesaksian tersebut menusuk jantung strategi pemilihan kembali Bush. Clarke, yang memberikan kesaksian di depan panel bipartisan, mengatakan Pemerintahan Bush tidak menganggap terorisme sebagai isu penting sebelum 11 September dan memperlunak pendekatan negara terhadap Al Qaedah. Gedung Putih dan sekutu-sekutunya tidak memerlukan waktu lama untuk menyadari bahwa mereka menghadapi masalah besar. "Masalah itu menghalangi momen yang ditangkap Bush," kata Konsultan Republik, Keith Appell, dari Washington. "Setiap presiden atau kandidat presiden harus mempertahankan kredibilitas mereka." Terutama dalam hal tanda tangan. Dan perang melawan terorisme merupakan mata pencaharian politik Bush. Kepercayaan politik terhadap penilaian presiden relatif tinggi setelah serangan teroris itu dan bertambah besar lagi selama perang Irak. Dukungan Turun Namun persentase rakyat yang mempercayai Bush anjlok di bawah 50 persen di beberapa jajak pendapat sejak perang Irak. Tingkat dukungan terhadap presiden turun tajam setelah inspeksi senjata David Kay, Januari lalu, mengatakan dia tidak yakin ada senjata pemusnah massal di Irak. Bush dan sekutu-sekutunya, yang kredibilitasnya diserang oleh Clarke, berusaha melakukan pembalasan. Mereka menuduh Clarke menulis kembali sejarah untuk menjual kopi-kopi bukunya yang membeberkan semuanya. "Saya berharap Anda bisa mengatasi masalah kredibilitas itu, karena saya benci melihat Anda mengesampingkan kampanye presiden dan menjadi partisan aktif yang berusaha menyingkirkan satu buku," kata anggota panel, John Lehman (Republik). Bahkan sebelum Clarke berbicara, ada upaya untuk mem-pre-empt kesaksiannya. Mantan Gubernur Illinois, Jim Thompson (Republik) bertanya kepada Direktur CIA (Badan Intelijen Pusat AS) George Tenet apakah dia pernah merasa kecewa dengan langkah persiapan antiterorisme yang direncanakan pemerintahan Bush pada 2001. "Tidak", jawab Tenet. Dan dalam satu langkah luar biasa, Gedung Putih menyingkirkan Clarke sebagai pejabat tanpa disebutkan namanya yang membela strategi antiterorisme Bush kepada wartawan pada 2002. Dalam sesi tersebut, yang diadakan Gedung Putih, Clarke ditanya apakah pemerintahan Bush tidak bersedia menerima saran-saran Gedung Putih semasa Clinton tentang terorisme karena kebencian terhadap kebijakan luar negeri pendahulunya yang dari kubu Demokrat itu. "Saya kira jika ada kebencian umum yang melingkupi pandangan mereka, mereka mungkin tidak mempertahankan orang yang sama untuk menangani isu terorisme," kata Clarke, seperti tercantum dalam catatan Gedung Putih. Tolak Anggapan Namun dalam kesaksiannya Rabu lalu, Clarke menuduh pemerintahan Bush menolak anggapan-anggapan bahwa serangan itu membalas pengeboman sebuah kapal perang AS "karena insiden itu terjadi semasa pemerintahan Clinton." Penasihat Keamanan Nasional Condoleezza Rice, yang menolak memberikan kesaksian publik di depan panel, mengundang para wartawan ke kantornya. Dia menuduh Clarke mengubah sikapnya tentang perencanaan antiterorisme. "Baik dia menyampaikan rencana maupun tidak kepada kami, dia tidak bisa menyimpannya dengan kedua cara itu." Gedung Putih era Bush punya sejarah menyerang orang-orang yang mengecam presiden. Daftar itu antara lain Jenderal Eric Shinseki, yang mengatakan kepada Kongres bahwa Irak pascaperang akan membutuhkan kehadiran besar-besaran tentara AS; mantan Dubes Joseph Wilson, yang mempertanyakan penggunaan intelijen AS oleh Bush; dan Richard Foster, yang berselisih pendapat dengan Gedung Putih tentang biaya rencana resep obat Bush. Sekutu-sekutu Bush mengatakan Clarke tidak memberi pilihan kepada Gedung Putih. "Mereka tidak bisa hanya duduk dan mendapat pukulan," kata Glen Bolger, pengumpul pendapat GOP (Partai Republik) di Alexandria, Virginia. "Mereka harus keluar dan merespons orang ini. Dalam kasus seperti Clarke, akan lebih mudah saat sejarah di pihak Anda." Appell, konsultan GOP yang mengatakan kesaksian Clarke menyakiti Bush, menyatakan dia yakin masalah John Kerry (Demokrat) dengan kredibilitasnya pada akhirnya akan mengatasi kerugian yang dialami Bush. Bush, yang unggul dengan kampanye iklan TV bernilai jutaan dolar, berusaha mencap rivalnya dari Demokrat itu sebagai oportunis yang berubah pendapat. "Saya masih mengira orang-orang akan melihat Bush sebagai orang yang paling melindungi kami pada saat perang dan memimpin perang melawan terorisme," kata Appell. (ynews-niek-46) |