logo SUARA MERDEKA
Line
  Jumat, 26 Maret 2004 Internasional  
Line

Bush Tidak Serius Perangi Terorisme

NEW YORK - Di tengah gembar-gembor dan jargon-jargon memerangi terorisme di seluruh dunia yang dikomandoi AS, Presiden George W Bush justru dituduh tidak serius memerangi terorisme.

Tuduhan itu dilontarkan Richard Clarke, mantan koordinator Kontra-Terorisme Ge-dung Putih, Rabu waktu Washington, dalam keaksian hari kedua di hadapan Komisi Independen Investigasi Serangan 11 September 2001.

Memerangi terorisme secara umum dan juga memerangi Al Qaedah, adalah prioritas yang sangat tinggi pada masa pemerintahan Presiden Bill Clinton, walaupun sebenarnya tidak sangat tinggi.

"Tetapi, dalam delapan bulan pertama pemerintahan Presiden W Bush, hal itu hanya menjadi isu penting, bukan isu amat mendesak," tuding Clarke, dalam pernyataan yang disiarkan secara langsung melalui jaringan televisi ke seluruh penjuru AS.

Pernyataannya itu merupakan pengulangan dari tuduhan yang pernah dia lontarkan dalam bukunya, berjudul "Against All Enemies: Inside America's War on Terror".

Gedung Putih telah membantah keras tudingan Clarke. Wakil Presiden Dick Cheney, Menteri Pertahanan Donald Rumsfeld, Penasihat Keamanan Nasional Gedung Putih Condolizza Rice, dan jubir Gedung Putih Scott McClellan bersama-sama dan secara bergantian mengatakan, apa yang dikatakan Clarke tidak benar.

Testimoni pada hari kedua itu kembali membicarakan apa yang ditulis Clarke dalam bukunya. Pada intinya, dia menegaskan Presiden Bush menyepelekan penanganan terorisme, termasuk yang dilakukan Al Qaedah. " Bush lebih senang berbicara tentang Irak," katanya.

Dendam Pribadi

Ketika invasi dilancarkan AS dan sekutunya ke Irak pada Maret 2003, sejumlah kalangan di AS menyebutkan invasi itu dilakukan atas dasar dendam pribadi Bush terhadap kekalahan yang dialami ayahnya, George Bush senior.

Bush senior, ketika menjabat sebagai Presiden AS pada awal 90-an, gagal menyingkirkan Saddam Hussein dari kursi kekuasaan.

"Pendapat saya tentang pemerintahan Bush adalah, mereka mendengarkan saya, tetapi pada saat yang sama mereka tidak percaya kepada saya. Berulangkali saya tegaskan, memerangi terorisme adalah isu mendesak," kata Clarke.

"Ketika pemerintah tidak percaya pada masukan dari lembaga yang saya pimpin, dan saat mereka mengatakan ada hal lain yang lebih mendesak, saya pikir saya perlu pekerjaan lain."

Akhirnya, Clarke mengundurkan diri dari pemerintahan Bush pada 2001. Testimoninya itu diwarnai kecaman-kecaman anggota Kongres dari Partai Republik (kubu Presiden Bush) terhadap dirinya.

Presiden Bush mendapat pembelaan dari Direktur Pusat Intelijen Amerika (CIA) George J Tenet, yang pada testimoni hari pertama mengatakan, kalaupun Usamah bin Ladin tertangkap, itu tidak dapat mencegah terjadinya aksi kamikaze 11 September 2001.

Selain itu, kata Tenet yang menjabat sebagai Direktur CIA sejak 1997, CIA tidak diberi kewenangan oleh Presiden Clinton untuk membunuh Usamah, melainkan hanya disuruh menangkapnya.

Namun, ucapannya itu langsung dibantah oleh mantan Penasihat Keamanan Nasional pada pemerintahan Clinton, Samuel R Berger. Dia mengatakan, tidak benar Presiden Clinton tidak memberikan kewenangan untuk membunuh Usamah.

Mantan Presiden Clinton dan mantan Wakil Presiden Al-Gore, bersedia hadir di testimoni pada hari selanjutnya. Namun Presiden Bush dan Wakil Presiden Cheney hanya bersedia bicara kepada panel yang terdiri atas ketua dan wakil ketua komisi. (rtr-ant-30)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA