
| Jumat, 26 Maret 2004 | Ekonomi |
Pelabuhan Tanjung Emas Tertutup untuk Impor GulaSEMARANG-Pemerintah Provinsi Jateng menutup pintu impor gula di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang selama musim giling pabrik gula di Jateng yang diperkirakan mulai Juni hingga Desember 2004. Itu dilakukan untuk mengatur sirkulasi produksi dan kebutuhan gula di provinsi ini dengan mempertimbangkan keseimbangan kepentingan petani, konsumen, dan pengusaha gula. ''Pembatasan impor dilakukan agar ketersediaan gula tidak melimpah, sehingga petani gula tidak dirugikan,'' tutur Kepala Badan Informasi, Komunikasi, dan Kehumasan (BIKK), Anwar Cholil, kepada Suara Merdeka, kemarin. Kebutuhan gula konsumsi di Jateng April sampai pertengahan Juni sebesar 75 ribu ton, lanjut dia, masih dapat dicukupi oleh persediaan yang masih ada dari gula impor PTPN IX maksimal 47.250 ton dan gula impor PT RNI 12.150 ton. Selama itu pula importir disarankan tidak memasukkan gula melalui Pelabuhan Tanjung Emas yang merupakan entry point gula Jateng dan DIY. Mereka dapat memasukkan setelah gula petani sisa giling tahun sebelumnya menjelang habis. Izin Gubernur untuk pembongkaran gula impor yang diberikan kepada PTPN IX dan PT RNI di Pelabuhan Tanjung Emas, selain untuk memenuhi kebutuhan gula di Jateng, agar pengusaha dan konsumen gula tidak rugi. Sesuai dengan surat Gubernur tanggal 19 Maret 2004 No 501/4118 izin bongkar bagi PTPN IX volumenya 47.250 ton dengan rencana jadwal sampai 30 Maret 2004 sebesar 15.000 ton. Lalu April 17.250 ton dan akhir April 15.000 ton. Sampai 24 Maret 2004 sudah terealisasi 6.000 ton. Izin bongkar untuk PT RNI sesuai dengan surat Gubernur tanggal 19 Maret 2004 No. 501/4117 volumenya 34.000 ton dengan rencana realisasi pada 19 Maret sebanyak 2 kapal dengan volume 10.450 ton dan 25 Maret 2 kapal volume 11.700 ton. (H2,G1-53) |