logo SUARA MERDEKA
Line
  Jumat, 26 Maret 2004 Ekonomi  
Line

Terancam Kelangkaan Bahan Baku Kayu

INDUSTRI mebel Jateng yang selama ini terpusat di Jepara sekarang menghadapi masalah serius, yakni kelangkaan bahan baku kayu jati. Akibat pasokan kurang komoditas tersebut menjadi kurang mampu bersaing di pasar internasional. Apalagi kini banyak bermunculan pesaing baru, antara lain dari China dan Vietnam. Bagaimana sebenarnya kondisi riil industri mebel di Jepara dan para pelaku usahanya, berikut wawancara Suara Merdeka dengan Ketua Asosiasi Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) Jepara, Akhmad Fauzi, di Hotel Patra Semarang, baru-baru ini.

Bagaimana kondisi usaha mebel setelah ada kelangkaan bahan baku?

Dalam beberapa bulan terakhir ini produsen mebel memang kesulitan mendapat pasokan bahan baku, khususnya kayu jati. Sebab, dari total kebutuhan sebesar 6 juta m3/tahun, pasokan yang ada hanya 2,9 juta m3. Kalau kekurangan bahan baku terus terjadi maka akan makin menyulitkan industri yang kini kondisinya sudah sulit.

Kelangkaan bahan baku dikhawatirkan juga bisa menyebabkan kualitas produksi mebel menurun. Selain itu, menghambat pengembangan mebel untuk tujuan ekspor. Sebab, sampai saat ini sebagian besar buyers (pembeli asing) masih menginginkan produk berbahan baku kayu jati.

Apakah kelangkaan menyebabkan harga naik?

Tentu saja, sesuai dengan hukum pasar keterbatasan barang membuat harga bahan baku naik. Kira-kira kenaikannya 10% dari sebelumnya. Kondisi itu tentu mempersulit produsen. Soalnya, tidak mudah menaikkan harga jual kepada pembeli meski biaya produksi naik. Kalau pun akan menyesuaikan harga paling tidak dalam tiga bulan ke depan.

Apa yang dilakukan untuk mengatasi masalah kelangkaan?

Hal itu sudah diantisipasi oleh para produsen mebel Jepara dengan mencari terobosan lewat penggunaan kayu lain dari dalam negeri, meski itu tetap memengaruhi kualitas produk. Tetapi penggantian bahan baku juga perlu diimbangi model yang diinginkan pasar.

Karena itu, kami berharap dari pendirian bank kayu oleh Pemerintah Provinsi Jateng dan Asmindo dapat mengatasi kelangkaan bahan baku bagi industri mebel.

Apakah kelangkaan bahan baku memengaruhi daya saing?

Jelas berdampak ke sana. Di tengah upaya para pengusaha mebel meningkatkan kualitas produksinya kini hadir pesaing baru.

Sejumlah produsen asal Myanmar mulai gencar memasuki pasar dunia dan dikhawatirkan menghambat arus ekspor produk asal Jateng.

Myanmar sebagai pemain baru di pasar mebel dunia bakal mengikuti jejak pemain sebelumnya dari Cina, Vietnam, Kamboja, dan Malaysia yang telah berhasil merebut pasar dunia dan menggusur posisi ekspor mebel kita dalam waktu singkat.

Produsen mebel dari negara-negara tersebut akhir-akhir ini gencar menyerbu pasar ekspor mebel Jepara, contohnya AS dan Eropa.

Mereka tidak banyak mengalami kendala dalam merebut pasar karena memperoleh dukungan bahan baku kayu jati yang melimpah di negaranya dengan harga lebih murah dibandingkan dengan kayu jati produksi Indonesia.

Bagaimana sikap produsen mebel Jepara menghadapi persaingan itu?

Saat ini kami dan seluruh pengusaha mebel baik berskala besar, menengah, maupun kecil terus mengupayakan pasar-pasar ekspor lain, misalnya Eropa Timur, Timur Tengah, dan Asia. Selain itu, Asmindo Jepara akan mengadakan misi bersama dengan Pemerintah Kabupaten Jepara untuk membuat program ''Bargaining Jepara''.

Berapa kapasitas produksi mebel Jepara saat ini?

Berdasarkan data ekspor kapasitas produksi berkisar 400 kontainer/bulan. Angka itu selama satu tahun terakhir, yakni 2003 hingga awal 2004, masih stabil atau tidak terjadi penurunan. Tetapi, dibandingkan dengan sebelum krisis masih lebih rendah sekitar 30%.

Ekspor mebel memiliki musim-musim tertentu yang jumlahnya bisa naik hingga dua kali lipat.

Misalnya pada bulan September-Maret bisa sampai 600-700 kontainer. Permintaan tertinggi biasanya terjadi pada garden furniture.

Berapa jumlah tenaga kerja yang terserap di sektor itu?

Industri mebel di Kota Ukir dapat menyerap tenaga kerja sekitar 65.000 orang dengan 30.000 lebih unit produksi yang tersebar di seluruh wilayah Jepara. Mebel memiliki peran besar terhadap perekonomian daerah. (Arie Widiarto-82)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA