logo SUARA MERDEKA
Line
  Jumat, 26 Maret 2004 Jawa Tengah - Pantura  
Line

Maufur Hindari "Matahari Kembar"

HIRUK pikuk kampanye saat ini masih berlangsung. Parpol peserta Pemilu 2004 dan calon anggota legislatif pun sedang mengadu visi, misi, dan program. Tak jarang sindiran dan cibiran terhadap pemerintah yang sekarang dan yang lalu terdengar dari panggung kampanye. Namun, pada akhirnya, rakyat pulalah yang berhak menilai. Sebab, besar-kecilnya kekuasaan pemerintah bersumber dari rakyat.

Mencermati dinamika politik negeri ini, Wakil Wali Kota Tegal Drs Maufur MPd (47), yang baru dua hari lalu mulai bertugas berpendapat, pemimpin masa depan membutuhkan kepiawaian merancang kebijakan publik secara matang.

Sebab, kata Maufur yang juga Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi) Komisariat III (Wilayah Kedu, Banyumas dan Pekalongan), seusai pemilu masyarakat biasanya tidak hanya memperhatikan bagaimana pemimpin merancang kebijakan bagi kepentingan publik. Namun, memperhatikan pelayanan aparat pemerintah.

Adakah publik merasakan peningkatan pelayanan atau sebaliknya? Sebab, masyarakat akan membandingkan pelayanan sebelum dan sesudah pemilu. Bahkan, sekarang cenderung membandingkan dengan daerah atau negara lain.

Beberapa Kelompok

Karena itu, Maufur melihat, ada beberapa kelompok pegawai dalam sebuah instansi (negara). Antara lain, kelompok yang cekatan dan rajin mengerjakan tugas dan pekerja biasa yang menekuni sesuatu tanpa melakukan apa-apa. Meskipun secara umum kelompok terakhir itu tidak perlu dirisaukan, membiarkannya berarti memberi peluang terhambatnya laju pemerintahan.

Bila kondisi tersebut terjadi, kata mantan Rektor Universitas Pancasakti Tegal itu, tingkat pelayanan yang sering disebut dengan pelayanan prima sulit diwujudkan. Namun, itu bukan berarti pesimistis karena ada berbagai upaya untuk memperbaikinya. Salah satu harapan cerah ditumpukan pada keberhasilan pelaksanaan pemilu.

Dengan perencanaan dan proses yang sudah berjalan baik, meski di sana-sini masih terlihat ada kekurangan di lapangan, Maufur yakin, pemilu yang berbeda ini akan membawa perubahan ke arah perbaikan. "Kalau harapan itu terwujud, berarti akan baik pulalah nasib bangsa ini. Untuk mewujudkan nasib yang baik itu kita harus banyak berpikir dan berbuat," katanya.

Dia mengakui, pada fase perubahan ini, perlu ada pemahaman di benak rakyat, bahwa transformasi itu tidak bisa terjadi seketika. Bahkan, perubahan itu perlu disikapi secara sabar dan sadar. "Yang jelas, dalam mendampingi Wali Kota Adi Winarso SSos, saya akan sangat menghindari istilah ada matahari kembar. Tidak baik ada duplikasi dalam kepemimpinan." ujar putra almarhum Marghub Aziz, mantan Carik Desa Ketanggungan, Brebes itu.

Ayah tiga anak itu dibesarkan di Brebes. Sebelum menjadi dosen hingga menjadi rektor UPS Tegal, dia pernah mengajar di SMA Pusponegoro 3 Tanjung, Brebes. Lelaki sederhana itu menikahi Munifah SPd, guru SLTP 15 Kota Tegal. (Nuryanto Aji-17e)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA