
| Jumat, 26 Maret 2004 | Budaya |
PernikPenontonDALAM rangkaian acara Multimedia Metafisi 2004 yang Sabtu-Senin (20-22/3) lalu digelar Teater Metafisis Fakultas Ushuluddin IAIN Walisongo, sebuah diskusi bertema ''Menciptakan Penonton yang Baik'' diadakan. Saya tak datang dalam forum dengan pembicara Zainul Adzvar M Ag itu. Namun, tema yang diusung panitia itu sungguh membuat saya terusik. Terlebih ketika beberapa malam lalu, saya menyaksikan pementasan lakon Kereta Kencana dari DramaLab -sebuah komunitas kesenian baru di Semarang. Pentas pertama DramaLab ini -digelar di Museum Ronggowarsito Semarang- meraup penonton dari kalangan pelajar sekitar 500 orang. Semuanya pelajar SMA. Sebuah ''antusiasme'' yang meriah sebenarnya. Namun, sialnya, pertunjukan yang sebetulnya sarat makna itu ternyata banyak ternoda dengan celetukan, komentar-komentar asal bunyi,juga cemoohan para penonton. Mungkin, jika saja celetukan yang keluar itu karena pementasan yang kurang greget atau memang sedang membanyol, masih bisa dimaklumi. Tapi tidak. Sepertinya mereka, kawan-kawan SMA itu, memang merasa harus berkomentar -tentu saja tanpa harus bertanggung jawab. Dan bukan hanya pada Kereta Kencana, suasana gaduh seperti itu memang sering saya temukan dalam beberapa pertunjukan teater dengan penonton anak-anak SMA. Lebih kentara lagi, ternyata celutukan atau apa pun namanya itu berangkat dari satu kerangka atau pola berpikir yang sama. Dan pola itu, tragisnya, adalah sesuatu yang berbau seks. Wow! Saya, terus terang, merasa gusar ketika dalam pementasan itu para penonton (anak-anak SMA) merespons hampir semua move, adegan, juga dialog para aktor dengan logika ''seksual'' tadi. Bayangkan, ketika kedua pemain (laki-laki dan perempuan) harus bergandengan tangan, tiba-tiba dari kursi penonton terdengar celetukan seperti ini; ''Wah, asyiik, mbathi!''. Atau, saat adegan si laki-laki memijit kaki istrinya, terdengar komentar yang lebih berani; ''Wuih, Mase orgasme, aah!'', juga ''Cihuy, yuk ke Bandungan yuk!''. Bandungan di sini, tentu saja, diasosiasikan sebagai kawasan tempat pasangan-pasangan bercinta. Satu contoh lagi -dan ini yang membuat saya semakin tidak mengerti tentang anak-anak SMA yang menonton teater- adalah saat tokoh perempuan menimang si bayi fantasi (dalam pertunjukan itu berwujud selendang), komentar yang muncul begitu ndesa; ''Ayo, diteteki!'' Semua komentar itu, betapa merendahkan, melecehkan, menista. Saya pun jadi bertanya, jenis kesantunan apa sebenarnya yang mereka pelajari di sekolah? Dan sialnya, seusai pementasan, saya justru mendengar perbincangan antarguru dengan topik lain -bukan perilaku anak didik mereka. Mereka malah terlihat tidak gusar, dan seperti menganggap sepi tentang komentar-komentar di dalam gedung tadi. Jadi, para siswa mereka asyik berfantasi soal seks, dan para guru sibuk mengapresiasi lakon teater yang baru saja mereka saksikan. Tentu, bukan saya mengharamkan apresiasi. Namun pertanyaan besarnya, bagaimana kita bisa mengapresiasi sebuah pertunjukan jika adegan demi adegan telah dihancurkan oleh sebagian besar penontonnya sendiri? Maka, semestinya sudah ada pemahaman bahwa penonton memiliki keterikatan yang erat dan sungguh kental dengan pementasan yang ditontonnya. Sebab, penonton yang sama sekali tak menghargai bisa merusak pertunjukan. Sedang dengan penonton yang apresiatif sangat dimungkinkan sebuah pementasan menjadi berhasil. Tapi jika memang tak bisa mengapresiasi, atau merasa pementasan membosankan, lebih baik diam atau keluar ruangan dengan mengendap-endap. Maka, wahai kawan-kawan SMA, menjadi penonton (teater) pun sebenarnya tidak gampang. Menjadi penonton teater itu sangat berbeda dengan menyaksikan pertandingan sepak bola, tinju, juga tarik tambang.(79) Adieets Kaliksanan, aktif di media komunikasi seni tanda batja |