
| Rabu, 24 Maret 2004 | Tajuk Rencana |
Prioritaskan Perbaikan Jalan Terminal Terboyo- Desakan Komisi D DPRD Kota Semarang agar Pemerintah Kota (Pemkot) segera menangani secara serius perbaikan jalan keluar-masuk Terminal Terboyo merupakan sikap realistis. Apa yang disampaikan oleh Wakil Ketua Komisi D Dra Hj Siti Markamah itu mencerminkan desakan masyarakat pengguna terminal, termasuk fasilitas di seputar wilayah tersebut yang terkait dengan keberadaan dan situasi Terboyo. Dari sisi retribusi, dipastikan ada penurunan mengingat banyak bus dan penumpang yang enggan masuk ke terminal karena kerusakan jalan sangat parah. Adapun dari sisi pelayanan publik, Dewan mendesak Pemkot untuk mencari solusi terbaik agar fasilitas terminal induk milik Kota Semarang itu tidak dibiarkan rusak tanpa perawatan.
- Sikap warga kota sudah banyak disampaikan. Baik melalui rubrik interaktif "Piye Jal" di harian ini maupun komentar langsung publik yang mengeluhkan kemacetan Jalan Raya Kaligawe yang terkait dengan kondisi fasilitas terminal. Bahkan beberapa kali sopir-sopir angkutan umum melakukan unjuk rasa, antara lain dengan pemogokan karena merasa jalan ke terminal memang sudah tidak layak. Selain berbahaya dan merusak peralatan kendaraan, juga menyebabkan kelambatan. Bus-bus mini dan bus besar banyak memilih ngetem di depan jalan masuk ke terminal walaupun dalam kondisi normal hal itu jelas melanggar larangan. Tidak sedikit pula angkutan yang menaikturunkan penumpang di depan pos polisi karena orang pun enggan masuk ke terminal.
- Solusi rutin dilakukan oleh petugas Polsek Genuk yang hampir setiap jam harus berada di seputar traffict light di pintu masuk terminal. Tanpa ditunggui secara manual, lampu pengatur lalu lintas itu nyaris sulit berfungsi optimal karena arus keluar-masuk terminal tersumbat. Keadaan yang sudah berlangsung lama itu pada satu sisi dapat dimaklumi sebagai kondisi darurat. Namun secara tidak langsung juga "menyosialisasikan" ketidakdisiplinan masyarakat di banyak sektor, baik di kalangan para sopir angkutan umum, para pedagang asongan, maupun masyarakat pengguna angkutan. Karena desakan kebutuhan dan keadaan, mereka terbiasa melakukan aktivitas dengan tidak menggunakan aturan-aturan dan fasilitas sebagaimana seharusnya. - Dapat dipahami jika masyarakat awam berpikir, fasilitas Terboyo sengaja dibiarkan karena proyek Terminal Mangkang akan segera selesai. Tetapi ternyata muncul kendala, yakni Surat Edaran Menteri Keuangan perihal pelarangan pemerintah daerah untuk berutang kepada investor. Padahal sejumlah proyek, termasuk pembangunan Terminal Mangkang, sudah mulai berjalan. Tetapi apakah surat edaran yang turun setelah proyek Mangkang berjalan itu harus diberlakukan surut sehingga menggugurkan peraturan daerah yang sudah menjadi ketetapan? Bukankah proyek yang sudah dijalankan itu menyangkut kebutuhan vital masyarakat? Namun abaikan saja dahulu masalah itu karena yang terpenting sekarang adalah bagaimana secepatnya mencari solusi tentang Terboyo.
- Kerusakan fasilitas Terminal Terboyo terutama terkait dengan aspek pemeliharaan, dan ini menyangkut kondisi wilayah yang membutuhkan jawaban mutu jalan. Genuk merupakan daerah laten banjir sehingga fasilitas jalan membutuhkan perawatan khusus. Kalau dibangun atau diperbaiki tanpa memperhitungkan kualitas untuk melawan banjir, tentu setiap tahun akan menjadi beban masalah. Komisi D DPRD Kota menawarkan solusi pembetonan dengan meninggikan badan jalan ditopang oleh drainase yang sistematis, juga memisahkan jalan masuk dan jalan keluar. Apalagi selama ini salah satu jalur ke terminal itu "dikhususkan" bagi sebuah perusahaan angkutan truk. Gagasan yang kini berkembang adalah membuat jalan keluar melalui kawasan industri Terboyo.
- Kita bisa melihat persoalan ini dari sisi penurunan retribusi dari Rp 100 juta ke Rp 77 juta dalam beberapa bulan terakhir. Namun yang lebih penting adalah langkah nyata untuk memberi pelayanan memadai kepada masyarakat. Kesibukan di sebuah terminal menjadi potret mobilitas rakyat dalam berbagai aktivitas sosial-ekonomi. Apa yang terlihat setiap waktu di Terminal Terboyo dapat dijadikan cermin betapa susah hari-hari yang harus dilalui sebagian warga masyarakat yang sangat bergantung pada "layanan" terminal tersebut. Belum lagi kalau dilihat secara lebih luas, "sekadar" jalan keluar-masuk terminal itu dapat menjadi pemicu kemacetan panjang di Jalan Raya Kaligawe. Maka apa pun alasannya, kondisi ini membutuhkan prioritas penanganan oleh Pemkot. |