
| Rabu, 24 Maret 2004 | Liputan Pemilu 2004 |
Dari Buruh ke BuruhNAMANYA tidak asing lagi di kalangan buruh Jateng terutama buruh rokok. Sebab, 30 tahun lebih dia menjadi aktivis/pengurus Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) yang membidangi buruh rokok. Sebelum itu, dia menjadi pekerja pabrik rokok asing yang beroperasi di Indonesia, yakni BAT. Itulah Sanyoto, caleg Partai Merdeka dengan nomor urut 3 untuk DPRD Jateng dari daerah pemilihan 2, yakni meliputi Kabupaten Demak, Kudus, dan Jepara. ''Selain di SPSI, saya cukup lama menjadi anggota Komisi Pengupahan Jateng dan anggota Panitia Penyelesaian Perselisihan Perburuhan (P4D) Jateng,'' ujarnya kemarin. Wakil Ketua DPW partai nomor 4 pimpinan Adi Sasono itu mengatakan, hal yang sangat membanggakan saat menjadi anggota komisi pengupahan tersebut yaitu ketika usulannya mengenai kenaikan inflasi tahun berjalan ditetapkan sebagai salah satu komponen dalam perhitungan upah minimum buruh. Misalnya, salah satu komponen yang harus diperhitungkan dalam menentukan upah minimum buruh pada 2004 adalah kenaikan inflasi yang mungkin terjadi pada tahun itu. ''Alasan saya, jika penetapan kenaikan upah minimum tidak memperhitungkan kenaikan inflasi, ya percuma. Itu tidak bisa meningkatkan kesejahteraan buruh.'' Semula, Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menawar separonya. Namun, dia tetap ngotot, sehingga akhirnya komisi itu menyepakati usulannya. ''Saya tetap ngotot karena demi perbaikan nasib buruh yang selalu dipinggirkan.'' Obsesinya menjadi caleg, dia ingin perhatian terhadap kehidupan buruh lebih meningkat dan nyata, terutama dari sektor rokok. Sebab, setiap tahun sektor itu menyetor cukai amat besar, yakni Rp 27 triliun pada 2003 dari target Rp 24 triliun. ''Seharusnya, kelebihan itu dikembalikan untuk kaum buruh dan usaha kecil.'' (C2-78) |