logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 24 Maret 2004 Liputan Pemilu 2004  
Line

Pemilihan Presiden Rawan Konflik

SEMARANG-Pengamat Politik dari UGM Prof Dr Ichlasul Amal berpendapat, pemilihan presiden/wakil presiden secara langsung sangat rawan.

Masalahnya, Indonesia belum memiliki pengalaman dalam pemilihan langsung, sehingga penyelenggara (KPU) dan partai peserta belum mempunyai bayangan apa yang harus dilakukan.

''Misalnya pada waktu kampanye, peserta yang berkoalisi dengan partai lain apakah tanda gambar partai yang berkoalisi dijadikan satu atau tidak dan bagaimana bila koalisinya dari banyak partai. Selain itu, apakah hanya foto calon presiden/ wakil tanpa gambar partai yang dipilih? Hal-hal seperti itu menyebabkan pemilihan presiden/ wakil sulit diprediksi dan kerawanannya sangat tinggi dibandingkan dengan pemilu legislatif,'' ujar dia dalam Forum Diskusi Tentang Politik dan Ekonomi di Undip, kemarin.

Dia mengatakan, pemilihan presiden putaran kedua juga sangat rawan karena reaksi para pendukung fanatik pasangan yang kalah pada putaran pertama bisa menjadi amuk massa atau apatisme yang sangat tinggi berupa pemboikotan pemilu putaran kedua. Dalam pemilihan presiden putaran kedua itu politik aliran atau politik komunal bisa muncul kembali. ''Hal ini akan mengakibatkan munculnya tindakan-tindakan irasional yang bersifat primordial dan situasi menjadi chaos,'' tandasnya.

Meski spekulasi tersebut merupakan pandangan yang terlalu pesimistis, menurut dia, hal itu perlu diantisipasi. ''Sebab, bila hal itu terjadi bukan hanya reformasi dan demokrasi yang gagal, melainkan juga program pemulihan ekonomi tidak mungkin bisa dilakukan,'' tegasnya.

Berat

Mengenai prediksi partai mana saja yang akan mampu melampaui electoral threshold 3% untuk dapat memenuhi persyaratan mencalonkan presiden, dia berpandangan sulit bagi partai-partai baru dan lama yang pada Pemilu 1999 meraih suara di bawah 2%.

''Kelihatannya agak berat bagi partai tersebut untuk bisa mendapatkan suara di atas 3%. Kalaupun ada, mungkin yang berpeluang adalah Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kenaikan suara ini terutama berasal dari kelompok Islam yang tidak puas terhadap penampilan partai-partai berbasis Islam pemenang Pemilu 1999.''

Lebih jauh dia mengatakan, beberapa partai nasionalis bisa saja muncul dengan perolehan suara di atas 3% lantaran memiliki dukungan dana besar. Sebab, kampanye sekarang sangat membatasi pengerahan massa partai.

''Karena itu, banyak partai yang memfokuskan kampanyenya melalui iklan di media cetak dan elektronik yang membutuhan dana besar,'' ujarnya. (G2-78e)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA