logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 24 Maret 2004 Olahraga  
Line

Kerusuhan di Roma Diduga Rekayasa

ROMA - Sekelompok pendukung AS Roma dan Lazio diduga telah merencanakan dan bekerja sama untuk membuat kerusuhan sehingga derby terpanas Seri A Liga Italia Minggu lalu itu dihentikan pada menit ke-49 dalam kedudukan masih 0-0.

Sesaat setelah wasit menghentikan pertandingan, di luar stadion terjadi bentrokan selama enam jam antara aparat keamanan dan pendukung dari kedua tim. Akibat bentrokan itu tercatat 170 orang luka-luka, 120 di antaranya polisi. Aparat keamanan kemudian menahan 18 perusuh.

Beberapa politisi setempat menghubungkan kerusuhan itu dengan rancangan undang-undang baru yang menuntut pemerintah untuk membantu klub-klub yang sedang mengalami masalah keuangan agar tak dibebani pajak sehingga bisa keluar dari ancaman kebangkrutan. Sebagaimana diketahui, Roma dan Lazio adalah dua klub dengan utang paling banyak.

Perdana Menteri (PM) Italia Silvio Berlusconi, yang juga pemilik AC Milan, mendukung rencana undang-undang itu. Sehari sebelum kerusuhan terjadi, Berlusconi menyatakan takut akan terjadi "ledakan revolusi" jika pemerintah tak mengambil langkah untuk membantu klub-klub yang dilanda krisis tersebut.

"Bagi saya, ini kelihatan seperti surat ancaman kepada pemerintah. Ini direncanakan untuk memberi peringatan kepada pemerintah pada saat mereka akan mengambil keputusan penting," ujar Wakil PM Roberto Maroni.

Informasi Bohong

Kerusuhan ini dipicu informasi bohong yang mengatakan seorang anak laki-laki pendukung Roma tewas ditabrak mobil polisi di luar stadion. Kapten tim Roma Francesco Totti yang didatangi perwakilan Romanisti ke tengah lapangan, langsung berbicara dengan wasit yang kemudian menghentikan pertandingan setelah mendapat telepon dari Presiden Liga Italia Adriano Galliani.

Beberapa komentator televisi juga heran kenapa Galliani berbuat seperti itu. Sementara aparat keamanan menyangkal isu itu langsung di dalam stadion dan menjamin pertandingan tetap aman untuk dilanjutkan.

"Saya mencurigai semua kejadian telah direncanakan. Dalam bahasa politik ini biasa disebut strategi menekan," tutur Mario Pescante, Menteri Muda Kebudayaan.

Polisi telah membuka penyelidikan terjadinya kasus ini, sedangkan di luar Olimpico para petugas kebersihan dan pengelola stadion mulai memperbaiki kerusakan sambil membersihkan bekas kerusuhan seperti botol, potongan besi, pisau dan sisa gas air mata. (rtr,A7-59)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional | Liputan Pemilu
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA