
| Rabu, 24 Maret 2004 | Semarang & Sekitarnya |
Lelaki Tua Bakar Ban, Pedagang Barito PanikSEMARANG - Hampir saja kios pedagang di Jalan Barito sisi selatan dimakan si jago merah, Selasa (22/3) malam. Itu akibat pembakaran ban bekas di belakang deretan kios penjual aksesori mobil oleh seorang laki-laki tua, yang belakangan diketahui bernama Marto (60). Kejadian itu membuat sejumlah pedagang dan warga masyarakat sekitar panik. Untung, pihak keamanan kios dan masyarakat sekitar segera melapor ke Dinas Kebakaran Kota. Kurang lebih satu jam api yang merambat cukup luas itu bisa dikuasai petugas pemadam. Tri (53), komandan keamanan pedagang Barito, menuturkan mendapat laporan dari anak buahnya ada pembakaran ban bekas di belakang kios sekitar pukul 18.30. ''Saat itu saya baru sekitar setengah jam tiba di rumah dari Barito. Begitu mendapat laporan saya segera kembali ke Barito,'' ujar laki-laki yang mengaku tinggal di kawasan Semarang Timur itu. Melihat kobaran api yang bisa membahayakan, dia segera menghubungi Dinas Kebakaran Kota. Dia khawatir api membesar karena di belakang kios pedagang merupakan timbunan ban bekas. Mendapat laporan Dinas Kebakaran langsung mengerahkan empat unit mobil pemadam. Informasi yang berkembang sebelumnya, kobaran api sudah mengenai kios pedagang. Namun setelah tiba di lokasi, petugas hanya mendapati kobaran api beberapa meter di belakang kios. Meski demikian, dengan sigap petugas menarik selang mendekat ke kobaran api. Agar pemadaman lebih mudah, pintu depan dan belakang sebuah kios dibuka sebagai jalan bagi petugas pemadam yang akan menuju lokasi. Tri mengaku prihatin karena banyak ban bekas ditimbun di sekitar tanggul dan bantaran Sungai Banjirkanal Timur. Karena itu dia akan mengumpulkan pegadang agar memikirkan masalah ban bekas itu. Dimaafkan Aparat Polsek Sidodadi juga meluncur ke lokasi kejadian begitu mendengar ada kebakaran. Sejumlah polisi menanyai beberapa saksi dan pembakar ban, Marto. Marto mengakui selama ini tak memiliki pekerjaan tetap di Semarang. Dia mengaku asli Gemolong, Sragen, dan kini tinggal di rumah keponakannya, Bagong, yang membuka jasa servis dinamo di sebuah kios Jalan Barito.''Saya membakar ban untuk makan karena tak punya pekerjaan tetap,'' kata Marto polos. Dia menuturkan kawat dari ban bekas yang dibakar bisa dijual kiloan. Hasil penjualan itu dia gunakan untuk membeli makanan. Namun dia mengaku jera dan tidak akan mengulangi perbuatan membahayakan itu.(G7-45g) |